Seminggu kemudian.
Setelah bertahun-tahun, Liora akhirnya kembali menginjakkan kakinya lagi di Velantara.
Begitu menuruni kendaraan dan menghirup udara pesisir yang asin dan lembab, ingatannya seketika diseret ke masa lalu. Kota itu masih seperti yang ia simpan di kepalanya: garis pantai yang memanjang tenang, laut luas berwarna biru kelam, dan angin yang membawa aroma garam. Semuanya terasa … tetap.
Yang berubah hanyalah keramaiannya. Velantara kini lebih hidup dibandingkan dulu. Di sepanjang jalan, berdiri penginapan-penginapan kecil, kafe sederhana, dan restoran yang menjajakan hasil laut segar. Kota nelayan itu tak lagi sekadar persinggahan; ia telah menjelma menjadi tujuan. Perubahan itu bukan tanpa sebab. Liora ingat betul—semua ini bermula dari usaha ayah Sena, yang bertahun-tahun lalu berusaha memperkenalkan Velantara pada dunia luar.
Delapan tahun bukan waktu yang singkat. Seharusnya banyak hal berubah. Dan memang, beberapa berubah. Namun Liora merasa bersyukur, karena perubahan itu tak menyentuh hal paling berharga dari kota ini: laut dan pantainya masih terjaga, masih indah, masih jujur.
Aku kembali, Lili, batinnya lirih.
Langkah pertamanya di kota itu langsung membuka pintu kenangan yang selama ini ia tutup rapat. Velantara selalu identik dengan satu nama di kepalanya—Lili, sahabatnya. Satu-satunya.
Sejak delapan tahun lalu, kota ini terus bergerak, bertumbuh, berubah. Termasuk dirinya. Namun tidak dengan Lili. Gadis itu tertinggal, membeku di satu titik waktu—di hari kematiannya.
Maaf … aku baru datang sekarang, Lili.
Balas dendam ternyata enggak mudah, Lili. Dan itulah alasan semua orang dewasa dulu memintamu bersikap tak tahu apa-apa.
Delapan tahun lalu, Liora meninggalkan kota pesisir ini dengan satu janji yang ia ikatkan pada dirinya sendiri: ia tak akan kembali sebelum janji itu terpenuhi. Janji bahwa ia akan menggantikan Lili, melakukan balas dendam pada Avaris Construction dan Eva Naura.
Dan Velantara, dengan lautnya yang tenang kini menjadi saksi kembali seorang perempuan yang membawa penyesalan yang tak pernah benar-benar pergi.
***
Delapan tahun lalu.
Satu setengah jam sebelum kematian Lili.
“A-apa kalian tahu ayah Rara tewas karena kecelakaan?”
Pertanyaan itu meluncur pelan dari mulut Lili, memecah keheningan sore yang menggantung di antara mereka. Empat anak laki-laki anggota Crimson Sky saling berpandangan.
“Aku tahu,” jawab Yudha akhirnya. “Rara pernah cerita. Memangnya kenapa?”
Lili menelan ludah. Jari-jarinya saling meremas, seolah menahan sesuatu yang terlalu besar untuk disimpan sendiri. “Kemarin aku enggak sengaja ketemu nenek Rara. Dia mengajakku masuk ke rumah, lalu memintaku menunggu di kamar Rara.” Lili berhenti sejenak, menarik napas. “Di sana … aku menemukan sesuatu.”
Empat pasang mata menatapnya.
“Ayah Rara bukan tewas karena kecelakaan,” lanjut Lili, suaranya bergetar namun tegas. “Dia meninggal saat proses interogasi.”
“Terus …” Sena mengernyit. “Apa anehnya?”
Lili pun menjelaskan—tentang kejanggalan laporan kematian ayah Rara, tentang catatan-catatan pribadi Rara yang menyinggung sebuah perusahaan bernama Avaris Construction. Perusahaan itu bukan sekadar nama asing. Itu adalah rival perusahaan ayah Lili. Dan belum lama ini, saat ia berusaha mengumpulkan bukti untuk menemui Eva Naura, ia juga menemukan bukti nama yang sama dalam berkas lama milik ayahnya sendiri.
Potongan-potongan itu akhirnya menyatu.
Bagi Lili, tak ada lagi keraguan. Kematian orang tuanya dan kematian ayah Rara memiliki akar yang sama. Musuh yang sama. Avaris Construction.
“Apa yang mau kamu lakukan, Lili?” tanya Sena pelan, tapi tajam. Tatapannya menusuk, seolah sudah menebak jawabannya. “Kamu mau ngajak Rara balas dendam?”
“Kenapa enggak?” sahut Lili tanpa ragu. “Kami punya musuh yang sama. Kehilangan yang sama. Nasib yang sama. Apa salahnya kalau kami balas dendam bersama?”
Sena mengusap rambutnya kasar. Ia benar-benar tak habis pikir. Belakangan ini, Lili semakin sulit ia pahami.
Ia teringat kejadian beberapa hari lalu—saat tanpa sengaja melihat Lili menemui orang tuanya diam-diam. Sena mencuri dengar percakapan itu. Dari sanalah ia tahu, kematian orang tua Lili bukan murni kecelakaan.