Setelah delapan tahun tak pernah kembali menjejakkan kaki di Velantara, Liora mendatangi satu persatu tempat yang dulu menyimpan hidupnya. Bukan untuk bernostalgia, melainkan untuk menunaikan rindu yang terlalu lama ditahan. Ia memulainya dari sekolah lamanya—gedung tua yang kini terasa lebih dari ingatannya. Lalu rumah neneknya yang telah lama kosong, berdebu, dan sunyi. Setelah itu rumah Lili, yang sekaligus menjadi studio latihan band mereka; ruang sempit yang dulu dipenuhi tawa, musik, dan mimpi-mimpi yang belum sempat matang.
Setelahnya, ia berhenti cukup lama di makam Lili. Berdoa untuknya setelah delapan tahun berlalu. Dan terakhir, ia mendaki ke tempat yang paling ingin sekaligus paling ia hindari: tebing tempat Lili mengakhiri hidupnya—tempat yang dulu kerap menjadi tempat favorit Liora menikmati Velantara dalam sunyi.
Liora tiba di kota itu sekitar pukul satu siang. Ia berjalan kaki menyusuri sudut-sudut Velantara, membiarkan langkahnya menentukan arah. Dua jam kemudian, ia sampai di atas tebing. Tempat itu nyaris tak berubah. Masih sepi, masih sunyi. Tak banyak orang yang mau datang ke sana. Selain jaraknya yang cukup jauh dari pantai, jalannya yang cukup menanjak, tebing itu hanya menawarkan pemandangan sunyi—sesuatu yang kini dianggap tak lagi penting, sejak keindahan bisa diraih cukup dengan layar ponsel, tanpa perlu melangkah jauh atau berdiam lama.
Dengan earset terpasang di kedua telinganya, Liora duduk di atas sebuah batu besar, menatap laut dan langit sore yang perlahan berubah warna. Lagu yang mengalun adalah rilisan terbaru Sena. Setelah masa lalu terungkap, Sena tak lagi menyembunyikan kenyataan bahwa dulu ia adalah su-vokal Crimson Sky.
Judul lagu itu Hari Terbaik.
Penciptanya: L. A. Melody.
Nama itu adalah milik Liora.
Lagu itu sebenarnya telah lama ia tulis—sebuah lagu untuk mengenang Lili. Namun ia menyimpannya bertahun-tahun, menunggu waktu yang tepat. Ia tak ingin lagu itu dinyanyikan sebelum janjinya terpenuhi.
Kupikir aku sudah tahu apa itu menyenangkan.
Kupikir aku sudah merasakan apa itu kebahagiaan.
Kupikir aku sudah cukup dengan apa yang hidup berikan.
Sampai aku bertemu denganmu.
Sambil mendengar suara Sena, Liora mengeluarkan buku catatan lamanya—buku tempat ia menuliskan lagu-lagu untuk Crimson Sky. Di sana masih tersimpan lirik lagu yang kini diputar di telinganya. Ia merobek halaman itu, melipatnya perlahan hingga membentuk sebuah pesawat kertas.
Ia menggenggamnya erat.
Berkatmu …
Aku bisa di sini.
Bernyanyi di atas panggung
Dengan penuh percaya diri dan keberanian.