CHANTS BENEATH THE CRIMSON SKY

mahes.varaa
Chapter #37

TITIK AKHIR PART 3

Priyoko—yang selama ini hanya memanggilnya untuk urusan liputan dan tenggat siaran—kali ini meminta Liora datang ke ruang khusus. Ruangan itu sunyi, tertutup, dan terasa terlalu sempit untuk sebuah percakapan biasa. Ia meminta bicara empat mata. 

Di sana, tanpa berputar-putar, Priyoko memaparkan semua temuannya: jejak langkah Liora, cara ia menyusun jaringan, bagaimana satu persatu serangan terhadap Avaris Construction dirancang dan dilepaskan. Ia tahu hampir segalanya. 

Pada awalnya, Liora mengira ini adalah akhir. Ia sempat mengira Priyoko adalah satu lagi perpanjangan tangan perusahaan itu—antek yang datang untuk menghentikannya, atau lebih buruk, menghancurkannya. Ia sudah bersiap membalas. 

Namun dugaan itu runtuh perlahan. 

Priyoko tidak berniat menyerangnya. Ia juga tidak datang untuk membela Avaris Construction. Tujuan pria itu hanya satu: melindungi Eva Naura. 

“Aku sudah memeriksa semuanya, Liora,” ujar Priyoko setelah menyelesaikan penjelasannya. Suaranya tenang, tanpa nada menghakimi. “Kamu juga bagian dari keluarga korban Avaris Construction. Aku tidak menyalahkan usahanya menjatuhkan perusahaan itu. Nyatanya, ada terlalu banyak orang, keluarga yang hancur karena mereka. Dan hukum tak pernah benar-benar menyentuhnya—uang selalu lebih dulu berbicara.” 

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lebih rendah. 

“Sejujurnya … aku tidak sepenuhnya setuju dengan caramu. Tapi aku setuju dengan satu hal: perusahaan itu memang harus dihentikan.” Tatapannya menahan Liora di tempat. “Hanya saja … tolong jangan melangkah lebih jauh. Jangan seret Eva. Dia sudah jatuh terlalu dalam. Itu sudah cukup membuatnya hidup bersama penyesalan.” 

Liora paham maksud kata-kata itu. 

Sejak dibuang oleh Avaris Construction, Eva Naura kehilangan hampir segalanya—popularitas, nama baik, panggung, pekerjaannya, bahkan keluarganya. Ia jatuh dari puncak yang pernah membuatnya dipuja-puja. Namun bagi Liora, semua itu adalah konsekuensi dari pilihan Eva sendiri. Dan itu belum termasuk pembalasan yang sesungguhnya.

“Kenapa aku harus melepaskan senior Eva, Pak?” tanya Liora akhirnya. Suaranya datar, nyaris tanpa emosi. Setelah bertahun-tahun menyusun rencana dan bertahan di bawah tekanan, ketenangan telah menjadi baju zirahnya. Dalam kepala yang tenang, selalu ada jalan. Selalu ada langkah. “Apa Bapak bisa menjamin senior tidak akan mengulang kesalahannya?” 

“Aku yang akan memastikan itu,” jawab Priyoko tanpa ragu. 

Liora tidak langsung puas. “Bagaimana jika suatu hari nanti, senior Eva kembali melakukan hal yang sama?” lanjutnya. “Apa yang Avaris Construction berikan dulu—panggung, sorotan, pujian—itu candu. Dan candu selalu dicari kembali. Di masa depan, senior Eva bisa saja mencoba mendapatkan kembali kejayaannya.” 

Priyoko terdiam. 

Ia tahu Liora tidak salah. Kekuasaan dan kejayaan sering membuat orang lupa—dan lebih sering lagi, membuat mereka ingin kembali. Eva, dengan segala ambisinya, bukan pengecualian. 

Namun ia juga mengingat Eva di masa lalu. Seorang jurnalis muda yang bekerja keras, keras kepala, tapi tulus. Dalam banyak hal, Eva mirip dengan Liora. Perbedaannya hanya satu: beban yang mereka pikul. Eva kalah oleh sistem. Liora, dengan pengalaman yang jauh lebih sedikit, justru mampu merobohkannya karena didorong oleh kehilangan. 

“Kalau suatu hari Eva kembali mengulang kesalahannya,” ujar Priyoko akhirnya, “kamu bisa membalasnya, Liora. Dan ketika saat itu terjadi, aku tidak akan menghentikanmu.” 

Lihat selengkapnya