Berkatmu,
Kami bisa sampai sejauh ini.
Mewujudkan mimpi-mimpi kami.
Membuat orang lain bahagia saat kami bernyanyi.
Lewat lagu ini,
Aku ingin mengucapkan kata yang tak pernah sempat terucap
Hari terbaik dalam hidup kami
adalah saat kami bertemu denganmu
Saat kamu ada di sisi kami,
bernyanyi bersama,
di panggung yang sama.
Liora bangkit dari duduknya. Earset masih menempel di telinganya, memutar lagu Hari Terbaik—suara Sena terdengar jernih, seolah datang dari masa lalu yang tak lagi bisa ia sentuh. Dengan langkah pelan, ia mendekat ke bibir tebing. Tidak terlalu dekat. Cukup untuk melihat jelas jurang curam di hadapannya, dan ombak laut yang menghantam batu-batu di bawah sana dengan suara keras, nyaris marah.
Angin laut menerpa wajahnya. Dingin. Asin. Rambut Liora tergerai tertarik angin, tapi ia tak bergerak. Pandangannya tertancap pada garis laut yang gelap, sementara pikirannya terlempar jauh ke hari kematian Lili.
Apa yang kamu pikirkan saat berdiri di sini, Lili? Apa yang memenuhi kepalamu hingga kamu memutuskan untuk melompat?
Dari sekian banyak tempat di kota ini, kenapa harus tebing ini—tempat yang berkali-kali kita datangi bersama, tempat di mana kenangan kita tersimpan?
“Dulu …” suara Liora nyaris tenggelam oleh desir angin, “... aku pernah bilang—hidupku terlalu berharga untuk sekadar balas dendam.”
Pandangan matanya jatuh pada pesawat kertas di genggamannya. ujung-ujung kertas itu telah melembab, basah oleh keringat dan jemarinya yang gemetar—seolah keras rapuh itu ikut menanggung beban yang ia genggam terlalu lama.
“Maaf …” bisaiknya, nyaris tak bersuara. “Aku enggak bisa menepatinya, Lili.” Ia menarik napas pendek, seakan udara pun terasa berat. “Balas dendam memang bukan jalan yang mudah. Tanganku …” suaranya patah, “... sudah terlalu kotor, Lili. Penuh darah. Penuh kesalahan.”
Air mata jatuh satu persatu, menodai lipatan pesawat kertas itu, mengaburkan tulisan lirik yang ia buat dengan penuh kerinduan.
“Terlalu banyak orang yang mengorbankan dirinya demi menjatuhkan Avaris Construction,” lanjutnya dengan suara bergetar. “Dan seharusnya … setahun lalu aku berhenti. Setelah tujuh tahun lamanya, aku akhirnya berhasil menjatuhkan Avaris Construction.” Ia terdiam sejenak, menelan sisa napasnya yang sesak. “Tapi bayangan itu terus mengejarku. Bayangan kebangkitan perusahaan itu terus menghantuiku. Aku tak bisa melepaskan pandanganku dari antek-antek perusahaan itu.”
Liora perlahan mengepalkan tangannya yang lain. “Dan benar saja, sebulan lalu aku dengar mereka berniat membangun kembali perusahaan itu.”
Ia terdiam.
Lalu, tanpa peringatan, ingatannya terseret mundur—kembali ke beberapa bulan sebelum runtuhnya Nova Hotel.
Hari itu, saat sedang meliput kecelakaan di Antarlina, ia tak sengaja bertemu dengan Baskara Yudha.
“Kamu … Rara, kan?”
Nada suara itu membuatnya terhenti. Wajah Yudha tampak terkejut—delapan tahun berlalu sejak mereka terakhir bertemu. Delapan tahun yang mengubah segalanya. Liora yang berdiri di hadapannya bukan lagi gadis SMA yang duduk sebangku dengannya. Ada jarak di matanya. Ada beban di bahunya.
“I-iya … ini aku, Yudha,” jawabnya canggung.
Pertemuan itu sama sekali tak pernah Liora bayangkan—apalagi harapkan. Kehadiran Yudha di hadapannya terasa seperti membuka pintu lama yang telah lama ia kunci rapat.
“Kami kehilangan kontakmu sejak kamu pindah ke luar negeri,” kata Yudha dengan senyum hangat, senyum yang terasa asing sekaligus akrab.
Setelah hari itu, Yudha hampir memaksanya bertukar nomor kontak. Sejak saat itu, pesan-pesan mulai datang sesekali—sapaan ringan, tanya kabar singkat, potongan nostalgia yang tak pernah Liora minta. Dan Liora, mau tak mau, membalasnya. Buka karena ingin, tapi karena tak tahu bagaimana cara benar-benar menolak masa lalu yang terus mengetuk.
Hingga hari itu tiba—hari ketika ia menemui informannya, dan di saat yang sama, takdir justru mempertemukannya dengan Sena, Gading, dan Rendra.
Reuni itu tak bisa ia hindari. Seperti arus yang menyeretnya kembali ke lingkaran yang selama ini ia jauhi.
Liora tak ingin pertemuan itu terjadi. Bukan karena takut disalahkan, tapi karena ia tak ingin mereka tahu—tentang apa yang telah ia lakukan selama delapan tahun ini. Tentang balas dendam yang ia jalani atas nama dirinya dan Lili.
Obrolan bermula ringan. Tentang hidup yang berjalan ke arah masing-masing. Tentang pekerjaan, keberhasilan, juga hal-hal kecil yang tertinggal di antara tahun-tahun yang hilang. Tawa sesekali muncul—asing, canggung, namun berusaha terasa akrab.