Sena berhasil membuka jalan menuju Nova Hotel. Berkat rekomendasi dan pengaruh namanya, gala premiere film terbarunya akan digelar di convention hall hotel itu—sebuah acara besar, penuh sorot kamera, tamu undangan, dan pengamanan ketat. Di balik gemerlap itulah, celah untuk masuk terbuka.
Ia dan Gading kemudian membagikan undangan khusus yang mereka minta kepada Yudha dan Liora. Rendra adalah bagian dari kru film, jadi dia mendapatkan jatah kursi dalam acara itu. Sementara Liora dan Yudha, tidak. Undangan itu menjadi alasan resmi untuk berada di dalam acara, sekaligus penutup sempurna bagi rencana penyusupan mereka. Liora menerima undangan tersebut, meski tak pernah benar-benar berniat menggunakannya. Jika perlu, ia bisa masuk sebagai jurnalis yang ditugaskan oleh Echo Vision—cara yang jauh lebih mudah dan tak mencolok.
Sementara itu, Yudha sama sekali tak merasa perlu hadir sebagai tamu. Baginya, jika ia menginjakkan kaki di Nova Hotel, itu bukan untuk bersulang atau berpose di depan kamera, melainkan sebagai anggota pemadam kebakaran—orang yang suatu hari nanti akan membongkar kebusukan Avaris Construction di balik laporan resmi.
“Kamu harus datang, Yudha,” ucap Sena dengan sedikit penekanan, seolah kalimat itu bukan sekadar ajakan.
Yudha mengerutkan alis. “Kenapa?”
“Nanti, setelah acara selesai, aku ingin kita berkumpul,” jawab Sena. Senyum tipis terbit di sudut bibirnya. “Ada sesuatu yang perlu kita bicarakan berlima.”
“Soal apa?” Yudha masih belum menangkap arah pembicaraan itu.
Sena menarik napas singkat, lalu berkata, “Aku ingin menghidupkan kembali Crimson Sky.” Ia menatap Yudha dengan mata berbinar—tatapan yang sama seperti dulu, saat mereka masih berkumpul di studio sempit, saat Lili masih berdiri di antara mereka. “Kita berlima akan membuat band itu hidup lagi. Sebagai cara untuk mengingat Lili. Gimana? Kamu setuju, kan?”
Yudha refleks menoleh ke arah Gading dan Rendra, wajahnya dipenuhi kebingungan. Namun yang ia temukan justru dua senyum puas, seolah rencana itu telah lama menunggu saatnya diucapkan.
“Kalian sudah merencanakan ini?” tanya Yudha, terkejut.
Gading dan Rendra mengangguk hampir bersamaan.
“Maaf, Yudha,” ujar Gading, senyumnya tak memudar. “Kami mulai memikirkan ini setelah bertemu lagi dengan Rara.”
“Bukankah ini bagus?” Rendra merangkul bahu Yudha. “Kita berlima main band lagi.”
Yudha menghela napas panjang. “Ini terlalu mendadak. Dan sekarang aku anggota damkar. Aku enggak punya banyak waktu luang buat main band.”
“Kita semua sibuk,” sahut Sena sambil memandang mereka satu persatu. “Tapi seenggaknya, sebagai teman Lili, kita bisa mewujudkan salah satu mimpinya. Kalau Rara saja bisa, kenapa kita enggak?”
Yudha menatap wajah-wajah di sekelilingnya. Tatapan mereka seragam—berbinar, penuh harap, dan terlalu jujur untuk dihindari. Kecuali satu.
Liora.
Perempuan itu tampak sama bingungnya dengan dirinya. Kebingungan yang tak dibuat-buat, jelas tercetak di wajahnya. Liora sama sekali tidak tahu menahu soal rencana ini.
Namun, beberapa detik kemudian, senyum tipis terbit di bibirnya. Senyum yang seolah berkata iya, meski ia sendiri masih berusaha memahami semuanya.
“Oke,” katanya akhirnya, pasrah. “Kita main band lagi.” Lalu ia menambahkan, “Terus gimana dengan lagunya? Kamu sudah siapkan?”
Sena melirik Liora, lalu tersenyum tipis. “Kita punya penulis lagu sendiri. Kenapa kamu malah panik?” Ia kemudian merangkul bahu Liora dengan santai. “Insting penulis kita ini selalu bagus. Kita tinggal percaya saja, dan Rara pasti akan membuatkan lagu terbaik untuk Crimson Sky.”
Liora mau tidak mau, mengangguk pelan. Demi mimpi Lili, ia tak sanggup mengatakan tidak. Crimson Sky—dan menyatukan mereka kembali—adalah sesuatu yang selalu Lili nantika, baik saat ia masih hidup, maupun setelah kepergiannya.
Akhirnya, mereka sepakat. Mereka akan hadir di gala premiere film Sena. Setelah acara itu berakhir, mereka akan berkumpul dan mulai menyusun kembali mimpi yang sempat runtuh. Dengan posisi vokalis utama kini kosong, Sena akan mengambil alih peran itu—sekaligus kembali memainkan keyboard seperti dulu.
Gala premiere tersebut menjadi penanda awal. Tanda bahwa mereka telah berkumpul kembali dengan satu tujuan. Dengan membongkar kebusukan Avaris Construction yang tersisa, mereka berharap bisa membungkam perusahaan itu selamanya, menutup setiap jalan bagi kebangkitannya. Bagi keempat anggota laki-laki Crimson Sky, itu adalah bentuk penebusan untuk Lili—cara untuk melepaskan sebagian rasa bersalah dan penyesalan, sebelum melangkah mewujudkan mimpi-mimpi Lili yang lain.
Namun semua rencana itu berakhir pada kegagalan.
Bukan kegagalan biasa, melainkan tragedi—-tajam, menyakitkan, dan tak terhindarkan.
08 Oktober 2025
Hari ketika Nova Hotel runtuh.
Hari itu tak berjalan sesuai rencana. Liora gagal mendapatkan tugas untuk wawancara Sena. Redaksi justru menugaskannya meliput pembukaan pusat perbelanjaan baru di seberang Nova Hotel. Meski begitu, ia tetap berjaga-jaga. Undangan dari Sena terselip rapi di dalam tasnya—cadangan terakhir jika Eva Naura muncul melakukan tugasnya.
Selama bekerja di Echo Vision, Liora tak pernah berhenti memperhatikan gerak-gerik Eva. Jurnalis yang kehilangan sinarnya itu hidup dalam obsesi: berita besar, heboh, dan spektakuler—apapun yang bisa menyeret namanya kembali ke puncak. Liora sudah lama menduga, obsesi itulah yang suatu hari akan membuat lengah terhadap tugas rutinnya.
Dan dugaannya benar.
Liora berhasil masuk ke Nova Hotel. Bukan sebagai tamu undangan gala premiere, melainkan sebagai jurnalis lapangan yang “secara tak sengaja” berada di lokasi. Rencananya hampir sempurna—kecuali satu hal. Yudha gagal datang.
Pesan itu masuk tak lama setelah ia duduk di dalam aula. Yudha sebenarnya sudah mengajukan cuti sejak jauh hari. Namun pagi itu, Antarlina dilanda kekurangan personel. Terlalu banyak laporan masuk, terlalu banyak keadaan darurat. Yudha tak punya pilihan lain selain terpaksa membatalkan cutinya dan tetap bertugas.
Di titik itu, seharusnya Liora sudah menangkap firasat buruk—bahwa rencana yang ia susun dengan begitu hati-hati mulai retak. Terlalu banyak hal melenceng.
Pukul 15.10 WIB, gala premiere resmi dimulai.
Eva Naura masih belum terlihat. Terlambat—seperti yang Liora perkirakan. Kini ia hanya bisa berharap perempuan itu segera muncul, cukup untuk memberinya satu alasan yang sah untuk meninggalkan convention hall.
Segalanya tampak normal. Lampu-lampu aula convention hall menyala hangat, musik mengalun pelan, tamu-tamu bertepuk tangan dengan senyum yang rapi. Liora duduk di kursinya, wajahnya tenang, pikirannya jauh dari suasana perayaan.