Hari-hari itu seharusnya menjadi masa berkabung bagi Liora dan Yudha—hari-hari yang sunyi, lambat, dan penuh luka—sekaligus waktu pemulihan bagi Liora yang tubuhnya belum sepenuhnya pulih. Dua sahabat mereka, Gading dan Rendra, baru saja pergi, meninggalkan kekosongan yang tak bisa diisi oleh kata-kata penghiburan. Dan seolah kehilangan itu belum cukup, Sena masih terbaring tak sadarkan diri, terjebak dalam koma yang tak seorangpun tahu kapan akan berakhir.
Duka menggantung di antara mereka, tebal dan tak terucap.
Yudha sesekali menyempatkan diri menjenguk Sena—berdiri di sisi ranjang pria itu, memperhatikan naik-turunnya dada, berharap suatu hari mata itu akan terbuka kembali. Namun sebagian besar waktunya ia habiskan bersama Liora. Di negara ini, perempuan itu tinggal seorang diri. Keluarganya berada jauh di luar negeri, dan ia memilih menyimpan kabar buruk itu rapat-rapat, enggan menambah kekhawatiran orang tuanya dengan cerita tentang bangunan runtuh, kematian, dan nyaris kehilangan nyawa.
Sena, sebaliknya, tak pernah benar-benar sendirian. Ada terlalu banyak orang yang peduli—atau merasa berhak peduli. Penjagaan di kamar perawatannya diperketat, bukan hanya karena kondisinya, tetapi juga karena ulah beberapa reporter dan penggemar yang nekat mencoba menerobos masuk. Situasi itu membuat Yudha memilih berada di sisi Liora, memastikan setidaknya satu dari mereka tak harus menghadapi semua ini sendirian.
Saat-saat itu seharusnya diisi dengan doa agar Sena segera sadar, dan dengan usaha pelan-pelan menerima kenyataan bahwa Gading dan Rendra tak akan pernah kembali ke hidup mereka.
Namun sesuatu yang tak terduga terjadi.
Baru beberapa hari sejak runtuhnya Nova Hotel, sebuah berita menarik perhatian Liora. Di tengah riuh rendah laporan tentang jumlah korban, kesalahan konstruksi, dan spekulasi penyebab ambruknya bangunan itu, satu kisah mencuat—kisah tentang kematian Gading, manajer Sena, yang disebut-sebut gugur saat berusaha menyelamatkan artisnya.
Berita itu seharusnya terdengar heroik. Dan memang demikian adanya.
Yudha sendiri terlibat dalam proses evakuasi. ia membenarkan bahwa Gading mencoba melindungi Sena, bahwa tindakannya bukan rekayasa media. Namun entah mengapa, sejak pertama kali mendengar berita itu, dada Liora dipenuhi firasat buruk. Ada sesuatu yang terasa ganjil—seperti potongan cerita yang sengaja dibiarkan kosong.
Saat itu, seharusnya Liora segera menyelidiki. Ia seharusnya mengikuti nalurinya dan bertindak. Ia tak seharusnya mendengarkan Yudha.
Tapi—
“Berhenti lihat TV, Rara,” ujar Yudha pelan, tapi tegas. Ia mengambil remot dari tangan Liora dan mematikan layar yang menampilkan wajah penyiar berita. “Kamu butuh istirahat.”
Liora tak membantah. ia mengembuskan napas dan menuruti, lalu bertanya dengan suara yang melemah, “Sena gimana hari ini? Ada tanda-tanda dia mau sadar?”
“Belum,” jawab Yudha. Suaranya rendah. “Tapi kondisinya stabil.”
Liora terdiam sejenak sebelum melanjutkan, “Keluargf
Hari-hari itu harusnya jadi waktu bersedih untuk Liora dan Yudha, sekaligus penyembuhan untuk Liora. Dua sahabat mereka—Gading dan Rendra—baru saja pergi. Ditambah lagi, sekarang Sena dalam keadaan koma dan tidak tahu kapan ia akan sadarkan diri. Mereka sedang berada dalam duka yang mendalam.
Yudha, sesekali menjenguk Sena, melihat keadaannya, dan berharap pria itu bisa segera membuka matanya. Tapi kebanyakan waktunya dihabiskan bersama dengan Liora. Di negara ini, ia tinggal seorang diri. Keluarganya ada di luar negeri, dan ia tak ingin merepotkan orang tuanya dengan memberi kabar buruk tentang musibah yang menimpanya. Sementara Sena, ada banyak orang yang menjaganya. Dan yang lebih merepotkan adalah penjagaannya. Karena beberapa reporter dan penggemar ada yang melakukan aksi nekat untuk masuk ke kamar perawatan Sena.
Waktu-waktu itu harusnya jadi hari di mana Liora dan Yudha berdoa agar Sena cepat sadar dan menerima kenyataan bahwa Gading dan Rendra tak akan pernah kembali ke hidup mereka.
Tapi sesuatu yang tak terduga terjadi.
Baru beberapa hari sejak insiden runtuhnya Nova Hotel, sebuah berita menarik perhatian Liora. Di tengah riuhnya cerita demi cerita kematian korban Nova Hotel dan alasan di balik runtuhnya bangunan itu, satu berita menarik perhatiannya dan itu berhubungan dengan kematian Gading sebagai manajer Sena.
Hari itu, ia merasakan firasat buruk mengenai berita. Kisah kematian Gading yang berusaha menyelamatkan Sena, memang adalah kisah heroik. Yudha sendiri yang terlibat dalam evakuasi Sena dan Gading, membenarkan hal itu. Tapi entah kenapa, Liora merasakan firasat buruk mengenai berita itu.
Waktu itu, harusnya ia segera menyelidikinya dan bertindak. Ia tak seharusnya mendengarkan Yudha. Tapi …
“Berhenti melihat TV, Rara,” ujar Yudha mengingatkan. Ia merebut remot TV di tangan Liora dan mematikan siaran itu. “Kamu butuh istirahat sekarang.”