CHANTS BENEATH THE CRIMSON SKY

mahes.varaa
Chapter #41

TITIK AKHIR PART 7

Setelah pertemuan itu, Liora akhirnya membuka satu rahasia lain kepada Yudha. 

Tentang hubungannya dengan Lili. Tentang Eva Naura. Tentang alasan mengapa sejak awal, wanita itu menjadi target balas dendamnya. Dan janjinya pada pria bernama Priyoko beberapa tahun lalu. 

Hubungan mereka telah terjalin lama. Terlalu lama. Dan bukan tanpa luka. 

“Apa yang akan kamu lakukan setelah ini?” tanya Yudha akhirnya. Suaranya pelan, nyaris tenggelam di antara bising kafe yang samar. 

Liora menatap lurus ke depan, seolah pikirannya sudah melangkah jauh melampaui ruangan itu. “Aku harus bersiap,” ujarnya dingin. “Aku mengenal Eva Naura. Sejak dibuang Avaris Construction, dia hidup dari satu obsesi: kembali ke panggung, ke sorot lampu, mendengar pujian yang memanggilnya pahlawan mikrofon.kalau dia benar-benar memelintir cerita demi kepentingannya sendiri, aku harus siap membalas.” 

Seharusnya Yudha diam. Apa yang hendak dilakukan Liora adalah upaya menyelamatkan Sena—dan masa lalu yang terus mengejar mereka. Namun kali ini, ia melihat sesuatu yang tak bisa diabaikan. Tubuh Liora masih rapuh, bahunya belum sepenuhnya tegak. Tapi dibalik kelemahan itu, api lama kembali menyala. Apa yang sama, yang dulu membakar hidupnya perlahan, tanpa suara. 

Saat ini … mereka seharusnya berduka. Menangisi Gading dan Rendra. Menunggu Sena membuka mata. Namun dunia, seperti biasa, tidak memberi mereka kemewahan untuk berhenti. 

Yudh menggenggam erat tangan Liora erat. “Kamu ingat, kan,” katanya pelan, “kamu sendiri yang bilang—balas dendam cuma akan menyakiti orang yang melakukannya.” 

“Tapi sekarang Sena dalam bahaya. Aku harus—” 

Tanpa berpikir dua kali, Yudha menarik Liora ke dalam pelukan. 

Bukan pelukan dua insan yang saling jatuh cinta, melainkan pelukan dua sahabat yang telah melewati terlalu banyak kehilangan untuk disebut kebetulan. Pelukan orang-orang yang pernah berpisah lama, lalu bertemu lagi dengan luka yang tak sempat sembuh. 

“Dengarkan aku, Rara,” suara Yudha parau seolah kata-kata itu harus dipaksa keluar dari dadanya.. “Aku enggak mau menghentikanmu. Aku tahu, aku enggak bisa.” 

Ia menarik napas panjang, menahan sesuatu yang nyaris runtuh. “Tapi … apa yang kamu dapat dari semua itu?” 

Liora tak menjawab. 

“Kamu memang berhasil menjatuhkan Avaris Construction,” lanjut Yudha pelan. “Tapi setelah itu, kamu terus kehilangan, kan? Senyum lembutmu. Masa mudamu bersama kami.” Ia terdiam sejenak, lalu suaranya bergetar. “Dan sekarang … Gading dan Rendra.” 

Nama-nama itu jatuh seperti beban mati di antara mereka. 

Liora membeku. Ada sesuatu yang runtuh pelan di dalam dirinya—kesadaran yang selama ini ia tak bisa temukan, kini muncul di hadapannya.

“Kalau kamu terus memelihara dendam ini,” lanjut Yudha lirih, “nantinya kamu akan kehilangan lagi. Mungkin bukan orang lain.” Ia menatap Liora lekat-lekat. “Tapi dirimu sendiri. Apa yang sudah terjadi, itu belum cukup, Rara?” 

Liora tahu.

Di antara mereka semua—Gading, Rendra, dan Sena—Yudha adalah satu-satunya yang sejak awal tak pernah benar-benar sejalan dengannya. Ia tak pernah melarang. Tak pernah memaksa Liora berhenti. Tapi keraguan itu selalu ada, berdiam di sorot matanya, menunggu untuk diakui. 

Sebelum Nova Hotel runtuh, Yudha hanya mengikuti arus. Mengikuti pilihan teman-temannya, meski hatinya tertinggal jauh di belakang. Namun setelah tragedi itu—setelah dua sahabatnya pergi dan dua lainnya terluka tak berdaya, ia tak sanggup lagi melihat Liora melangkah semakin jauh ke jurang yang sama. Jurang yang kini jauh lebih dalam dari sebelumnya. 

Lihat selengkapnya