CHANTS BENEATH THE CRIMSON SKY

mahes.varaa
Chapter #42

EPILOG

08 Mei 2017 

Lili sebenarnya berniat menemui Liora. Namun langkahnya terhenti oleh ingatan: satu-satunya sahabat perempuan yang ia miliki belum kembali dari Prema. 

Ia pun mengurungkan niat pulang. Rumah hanya akan mengingatkannya pada perdebatan sengit dengan Sena—perdebatan yang disaksikan Yudha, Gading, dan Rendra. Dadanya masih sesak oleh sisa amarah dan kecewa. 

Alih-alih kembali ke sana, Lili memilih berjalan menuju tebing—tempat yang sering didatangi Liora saat ingin menyendiri. 

Sepanjang perjalanan, kepalanya dipenuhi potongan ingatan. Ia teringat suatu hari ketika ia bertanya pada Liora, “Kenapa kamu suka ke tebing ini? Padahal jauh dari rumahmu, Rara?” 

Liora tidak langsung menjawab. Gadis itu berdiri memandangi batas antara laut dan langit—dua warna biru yang seolah menyatu, hanya dipisahkan oleh garis tipis yang nyaris tak terlihat. “Jujur … aku ini tipe yang suka menyendiri,” katanya akhirnya. “Di sini, aku bisa lihat laut dan langit tanpa peduli pandangan orang lain. Kalau duduk di pantai, ada terlalu banyak orang lewat. Rasanya … setiap orang yang lewat menatapku dengan tanda tanya?” 

“Kenapa bisa gitu?” tanya Lili waktu itu. 

Namun Liora tak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis, seolah menyimpan sesuatu yang terlalu berat untuk diceritakan. 

Saat itu, Lili belum memahami kegelisahan sahabatnya. Liora berbakat, wajahnya juga sebenarnya cantik, dan punya pesona yang berbeda. Tapi justru karena itu, ia seperti sengaja menjauh—menyembunyikan dirinya dari dunia. 

Jawabannya baru Lili dapatkan beberapa hari lalu. 

Ia akhirnya mengetahui bahwa kecelakaan yang dilakukan ayah Liora sebelum meninggal telah merenggut nyawa ayah salah satu teman sekolah mereka. Sejak peristiwa itu, Liora menjadi sasaran kebencian. Meja belajarnya dirusak, ia dijauhi, dan namanya dibisikkan dengan nada sinis di lorong-lorong sekolah. 

Sejak saat itu, Liora belajar satu hal: tidak menarik perhatian berarti lebih aman. Ia hidup dengan kepala menunduk, takut suatu hari seseorang mengenali masa lalunya. 

Namun kebenaran di balik kematian ayah Liora ternyata jauh lebih rumit. 

Setelah menemukan catatan rahasia milik sahabatnya, Lili tahu bahwa kematian ayah Liora berkaitan dengan musuh yang sama dengan penyebab kematian ayahnya sendiri. 

Di titik itu, Liora merasa menemukan teman senasib. Teman seperjuangan. 

Ia ingin mengajak Liora berjalan bersamanya—membalas dendam bersama. Ia yakin Liora akan mengerti, karena gadis itu bahkan rela menemaninya pergi ke Prema demi menemui Eva Naura. 

Namun saat rencana itu ia ungkapkan pada Sena, ia mendapatkan penolakan mentah-mentah. Yang tak pernah ia duga: Sena ternyata sudah mengetahui rahasia kematian ayah Liora dari ayahnya sendiri. 

Perdebatan pun pecah. 

Dalam luapan emosi, Lili menyebut semua orang dewasa yang mengetahui kebenaran—termasuk orang tua Sena—sebagai pengecut. Kata-kata itu meluncur begitu saja, didorong oleh amarah dan rasa iri yang dia pendam: sejak Liora hadir, Sena tampak selalu berdiri di pihak gadis itu. 

Langkah Lili akhirnya berhenti di tebing. 

Ia duduk di salah satu batu besar di sana, memandangi pemandangan yang selalu dipuji Liora. Angin berembus membawa bau luat, dedaunan saling bergesekan, dan beberapa burung terbang pulang ke sarangnya. 

Di tempat sunyi itu, amarahnya perlahan luruh. 

Ia mulai menyadari: kata-katanya terlalu kejam. Menyebut semua orang pengecut tak akan menghidupkan ayah dan ibunya kembali. 

Ketenangan itu perlahan membuka pintu kenangan. Bayangan masa kecilnya bersama Sena. Disusul pertemuannya dengan Gading, Rendra, dan Yudha. Tawa mereka, latihan musik yang melelahkan, dan momen pertama Crimson Sky dibentuk. Ia melihat dirinya di atas panggung—disambut tepuk tangan dan sorak-sorai penonton. 

Lili tersenyum. 

Bukan senyum tipis yang dipaksakan, melainkan senyum yang lahir dari kebahagiaan yang pernah benar-benar ia miliki. 

Kepalanya terus memutar ulang potongan-potongan masa lalu. Ingatan itu membawanya pada hari-hari ketika ia sibuk mencari penulis lagu untuk Crimson Sky—sebuah pencarian yang, tanpa ia sadari, justru menuntunnya pada Liora. 

Gadis yang tampak biasa dan pendiam itu seperti berlian yang tertimbun lumpur pekat. Bakatnya tersembunyi dibalik sikapnya yang tenang. Ia dewasa, mandiri, dan jarang berbicara. Namun sekali ia tersenyum, senyum itu seolah mampu mengubah suasana di sekitarnya. Kehadiran Liora bukan hanya keberuntungan bagi Crimson Sky, tetapi juga bagi Lili, yang seumur hidup tak pernah memiliki sahabat perempuan. 

Lihat selengkapnya