Aku adalah seorang author. Ya, mungkin beberapa karyaku pernah kalian baca di tempat lain. Ironisnya, aku juga mengalami apa yang karakter utamaku alami. Kadang aku terkikik seorang diri saat jemariku menari di papan kibod. Sebenarnya, aku sedang menulis cerita... atau menulis hidupku? Dan lucunya, pembaca menyukainya.
Semula, aku hanya melempar sebuah naskah lama yang kusimpan sebagai coping mechanism. Ternyata di luar dugaan, pembaca terus bertambah dengan komentar yang bertubi-tubi. Aku terbelalak dan terkekeh, bagaimana jadinya jika mereka tahu author yang mereka puji ini adalah pasien poli psikiatri? Apakah mereka akan iba? Atau justru mereka akan ketakutan?
Tiga tahun. Ya, tiga tahun aku berdampingan dengan diagnosa ini. Tahun 2023 adalah titik terendahku, di mana aku merasa harga diriku tercabik dan benteng pertahananku runtuh. Aku benar-benar berada di fase terpuruk. Yang bisa kulakukan hanyalah menangis. Ya, hanya menangis. Aku tak bisa bercerita, tak bisa bersuara, aku hanya bisa menggeleng dan menangis.
Tatapan mataku berkata, "Aku tidak melakukan itu, aku lelah, aku sakit, bukan aku, semua salah, aku sudah berusaha, jangan salahkan aku," dan masih banyak lagi. Tapi suara itu tak satupun bisa keluar. Aku hanya menatap putus asa, menggeleng lemah dengan air mata yang mengalir tanpa henti. Seolah bendungan yang selama ini menahannya retak dan hancur berkeping-keping.
Berapa lama aku menangis? Satu jam? Satu hari? Satu minggu? Salah. Satu bulan lamanya dibarengi dengan migrain dan gejala susah tidur akut. Nafsu makan menurun dan badan mendadak sangat lemas. Keadaan itu terus menerus berlanjut hingga bulan ketiga. Hingga akhirnya aku menyetujui saran untuk meminta bantuan profesional, seorang dokter umum.
Dokter umum? Ya, karena hanya itu yang ada di pikiranku saat itu. Aku sakit, berobat, dan dokter akan memberiku pil. Fisikku sakit, dan aku butuh obat agar fisikku sembuh. Tiba di sana, aku ingat betul, seorang dokter wanita paruh baya menatapku yang sangat berantakan. Wajahku kuyu, mata sembab, dan bibir kering. Entahlah, mungkin aku tertolong karena bajuku saja yang tidak compang-camping.
Beliau menatapku iba lalu berkata, "Mana yang sakit, nak?"
Seketika itu badanku bergetar. Air mataku tumpah dan aku terisak. Kata-kata itu benar-benar membuatku roboh, seolah aku merasa dimengerti, merasa dilihat, dan ada orang lain yang tahu bahwa aku sedang "sakit".