Charlie and Millie

Farah Maulida
Chapter #1

The Girl In Line

Ini adalah pertama kalinya Charlie melihat wujud malaikat.

Ah, kedengarannya memang sangat hiperbolis. Namun Charlie yakin, sosok yang sedang mengantre di depan kasir sana itu pasti seorang malaikat.

Tapi... apakah malaikat memang berambut hitam? Bermata cokelat gelap? Entahlah. Mungkin kebetulan saja malaikat yang sedang diamatinya saat ini memiliki rupa demikian.

Bagaimanapun juga, seperti apa pun wujud malaikat yang mungkin saja berbeda-beda, Charlie yakin malaikat yang sedang berdiri di hadapannya saat ini adalah yang wujudnya paling sempurna.

"Ten dollars and five cents."

Begitulah ucapan Adrian, penjaga kasir yang kebetulan sedang mendapat giliran bekerja hari itu di Sookie's Mart.

Malaikat yang diamati Charlie selama hampir dua puluh menit terakhir itu mengeluarkan selembar uang seratus dolar dengan gerakan yang sedikit kikuk. Namun, senyum di bibirnya sama sekali tidak memudar.

"You're new here, don't you?"

Adrian melirik ke arah malaikat Charlie dengan tatapan memindai dari ujung kepala hingga ujung kaki.

"What makes you think I'm new here?" tanya malaikat pujaan Charlie.

Adrian menyerahkan beberapa lembar uang kembalian sambil berkata santai, "Karena untuk anak seusiamu, rasanya sangat mustahil mengeluarkan uang seratus dolar hanya untuk membeli sekaleng soda dan sekotak cokelat, Miss."

Malaikat Charlie hanya terkekeh pelan sambil menerima uang kembaliannya. Ia tidak mengatakan apa-apa lagi.

Dari tempat Charlie berdiri di antara rak camilan dan makanan instan, yang sempat ia dengar hanyalah suara gadis itu membalas ucapan Adrian yang mengatakan, "Have a nice day," meskipun kalimat itu diucapkan Adrian dengan nada malas.

Charlie sudah siap menerjang pintu minimarket agar malaikat pujaannya tidak sempat pergi. Namun, yang benar-benar ia lakukan dengan bodohnya hanyalah berdiri mematung. Kedua mata cokelatnya hanya mampu membiarkan sosok gadis itu masuk ke dalam taksi yang sejak tadi menunggu, lalu perlahan menghilang semakin jauh dari pandangannya.

Charlie baru benar-benar bisa menggerakkan kedua kakinya setelah sosok yang sejak tadi berhasil menyita seluruh kesadaran dan eksistensinya itu benar-benar pergi.

Adrian, bocah tujuh belas tahun yang sejak tadi diam-diam memperhatikan Charlie tanpa berkata apa-apa, akhirnya membuka suara.

"Gadis tadi itu pendatang baru di River County, ya?"

Charlie menoleh ke arah Adrian, seolah baru menyadari bahwa sejak tadi masih ada orang lain di dalam minimarket.

"What?"

Adrian terkekeh kecil.

"Charlie, kamu seperti baru pertama kali melihat seorang gadis saja. Memangnya di sekolahmu tidak ada satu pun gadis, ya?"

Charlie terkekeh kikuk sambil meletakkan beberapa bungkus Sour Patch di atas meja kasir.

"Banyak. Tapi tidak ada satu pun yang secantik gadis itu."

Adrian mencibir sambil menggeleng pelan, lalu mulai memindai harga camilan Charlie.

"Gadis tadi cantik sekali," gumam Charlie lirih, lebih seperti berbicara kepada dirinya sendiri sambil terus menatap ke arah pintu keluar. "Benar-benar cantik."

"Dude, she's not going to magically appear through that door if you keep staring at it like that."

Charlie mengembuskan napas panjang. Rasa kecewa menggelegak memenuhi dadanya.

"Dan dia tadi berdiri mengantre sendirian hampir sepuluh menit gara-gara harus menunggu Mrs. Hansen yang memborong camilan buat Norris, kucingnya yang terkenal gemuk sekali itu. Harusnya itu jadi kesempatan emas buat kamu mendekati gadis tadi. Tapi yang kulihat sejak tadi sama sekali tidak ada usaha. Kamu malah berdiri mematung seperti orang bodoh di lorong sana. Sekarang menyesal, kan?"

Lihat selengkapnya