Charlie and Millie

Farah Maulida
Chapter #2

Nowhere to Hide

Di kota kecil seperti River Oaks, anak-anak laki-laki tumbuh dengan tangan tak pernah benar-benar bersih. Hari ini mereka membantu ayah memperbaiki pagar peternakan, besoknya mereka sudah diajari menunggang kuda sendirian. Sebagian belajar mengendarai traktor bahkan sebelum cukup umur untuk memiliki surat izin mengemudi. Mereka terbiasa hidup berdampingan dengan debu, lumpur, jerami, serta suara mesin yang meraung dari pagi hingga petang.

Hanya saja, kebanyakan anak seusia Charlie menghabiskan waktu mereka untuk merawat sapi, memberi makan kuda, atau berkeliling padang rumput bersama teman-teman mereka.

Charlie berbeda.

Cowok empat belas tahun itu lebih senang menghabiskan waktunya di garasi tua milik ayahnya yang berdiri di belakang rumah. Bangunannya sudah mulai dimakan usia. Cat putih di dinding kayunya mengelupas di sana-sini, pintu garasinya berdecit setiap kali dibuka, sementara berbagai macam kunci pas, obeng, tang, ratchet, hingga kompresor angin tersusun memenuhi dinding.

Josh bahkan sudah menyerahkan garasi itu sepenuhnya kepada Charlie.

Bukan tanpa alasan.

Dalam dua tahun terakhir, bakat Charlie berkembang begitu pesat hingga membuat banyak orang dewasa di River Oaks menggeleng tak percaya. Awalnya ia hanya membongkar sepeda tua miliknya sendiri. Beberapa bulan kemudian ia mulai memperbaiki mesin pemotong rumput tetangga. Setelah itu berlanjut ke motor, ATV, hingga mobil-mobil tua yang sesekali mogok di sekitar lingkungan mereka.

Anehnya, hampir semuanya berhasil Charlie hidupkan kembali.

"Kalau terus begini, putramu itu sepertinya sudah layak sekali buka bengkel sendiri."

Simon Henderson, tetangga Josh, terkekeh sambil menyeruput kopi dari cangkir enamel tuanya.

Sementara Charlie sedang berjongkok di samping sebuah pikap tua berwarna merah kusam milik Mr. McDowell, salah satu tetangganya yang juga teman dekat ayah Charlie. Mobil itu telah terangkat menggunakan dongkrak hidrolik dan ditopang sepasang jack stand. Dengan ratchet di tangan kanannya, Charlie mengendurkan mur roda satu per satu sebelum menarik ban keluar dari hub roda.

Josh mengikuti arah pandang Simon, lalu tertawa kecil sambil meneguk bir dinginnya.

"Akan lebih bagus kalau Charlie fokus sekolah dulu saja, mengambil jurusan teknik di universitas ternama seperti MIT. Lalu bekerja di perusahaan teknik terbesar di dunia jauh lebih menjanjikan daripada membuka bengkel sendiri."

Simon menaikkan sebelah alisnya.

"Memangnya ada yang salah dengan punya bengkel sendiri?"

Josh mengangkat bahu.

"Tidak ada. Asal jangan di rumahku. Dan jangan Charlie," lanjut Josh, membuat keduanya sama-sama tertawa.

Charlie yang mendengar percakapan itu hanya mendengus pelan tanpa menoleh.

Ia sudah terlalu sering mendengar ayahnya mengucapkan kalimat serupa.

Josh selalu berkata Charlie ditakdirkan menjadi insinyur, bukan montir. Padahal bagi Charlie, tidak ada bedanya.

Mesin tetaplah mesin.

Dan memperbaiki sesuatu yang rusak selalu memberinya kepuasan yang sulit dijelaskan.

Terlebih...

Sekarang garasi menjadi satu-satunya tempat yang dapat Charlie gunakan untuk bisa bernapas lebih tenang.

Dua minggu sudah.

Dua minggu sudah sejak Millie dan Aunt Diana pindah ke rumah mereka.

Namun bagi Charlie, dua minggu seperti dua abad.

Setiap kali Charlie membuka pintu rumah, cowok itu selalu berharap adik tirinya itu sedang tidak ada di ruang keluarga.

Bukan karena ia membenci Millie.

Justru sebaliknya.

Charlie terlalu menyukai gadis itu.

Dan itulah masalahnya.

Semakin sering ia melihat Millie, semakin sulit pula ia mengingat bahwa gadis itu kini bukan lagi gadis asing yang ditemuinya di minimarket.

Melainkan...

Calon adik tirinya sendiri.

Karena itulah, setiap selesai sekolah atau membantu ayahnya, Charlie hampir selalu menghilang ke garasi.

Karena di sana tidak ada Millie. Tidak ada senyum manis yang membuat jantungnya kehilangan irama. Tidak ada mata cokelat gelap yang membuatnya lupa bagaimana caranya bernapas dengan benar.

Yang ada hanyalah suara ratchet, aroma oli, dan ketenangan.

"Charlie!"

Suara Josh menggema dari arah pintu belakang rumah.

Lihat selengkapnya