Dua tahun berlalu sejak Josh dan Aunt Diana resmi menikah.
Dua tahun pula Charlie dan Millie tinggal di bawah atap yang sama.
Seharusnya, dalam kurun waktu selama itu, hubungan Charlie dan Millie sebagai kakak beradik tiri mengalami sedikit perkembangan. Setidaknya, mereka sudah bisa saling menyapa tanpa rasa canggung, atau sekadar mengobrol seperti dua orang yang memang tumbuh di rumah yang sama.
Setidaknya... begitu yang dibayangkan kebanyakan orang.
Namun, kalau Millie diminta menghitung berapa kali ia dan Charlie benar-benar mengobrol selama dua tahun terakhir, mungkin jumlahnya bahkan tidak sampai sepuluh kali.
Apakah dalam sepuluh kali kesempatan selama dua tahun terakhir itu Charlie mulai membuka sedikit hatinya untuk bersikap lebih lunak kepada Millie?
Tentu saja tidak.
Bahkan bisa dibilang, Charlie justru semakin mahir menciptakan jarak. Cowok itu seolah selalu tahu kapan Millie berada di dekatnya. Sebelum Millie benar-benar muncul di hadapannya, Charlie sudah lebih dulu pergi, menghilang ke garasi, atau memilih mengurung diri di kamar. Seakan-akan kehadiran Millie adalah sesuatu yang harus ia hindari sebisa mungkin.
"Salah Millie itu apa ya, Ma?" tanya Millie suatu sore ketika ia membantu sang mama menyiapkan makan malam di dapur. Sambil memotong daun bawang di atas talenan, gadis itu sesekali melirik ke arah ibunya dengan raut wajah yang dipenuhi kebingungan. "Mama ingat nggak, mungkin ada yang pernah kelewat? Kesalahan yang pernah Millie lakuin selama dua tahun terakhir, tapi Millie sendiri nggak sadar?"
Aunt Diana menghentikan kegiatannya menuangkan sup ayam hangat ke dalam mangkuk besar. Ia menoleh kepada putrinya, lalu tersenyum tipis, meski sorot matanya menyiratkan rasa iba.
"Kenapa kok tiba-tiba kamu nanya begitu?"
Millie mengembuskan napas pelan. "Soalnya... Charlie tetap benci sama Millie."
Di sudut dapur, Magda yang sudah belasan tahun bekerja untuk keluarga Robinson masih sibuk mondar-mandir menyiapkan makan malam. Wanita paruh baya itu sesekali melirik ke arah Millie dan Aunt Diana, tetapi kembali fokus pada pekerjaannya. Ia sama sekali tidak mengerti percakapan berbahasa Indonesia yang sedang berlangsung di hadapannya.
"Namanya juga anak laki-laki, Sayang," ujar Aunt Diana sambil mengusap pelan bahu putrinya. "Kadang mereka memang susah mengungkapkan perasaannya."
Millie langsung menggeleng pelan. "Kayaknya Dimas nggak pernah begitu, deh."
"Dimas?"
"Iya. Dimas juga cowok, tapi dia nggak pernah sedingin Charlie. Waktu di Jakarta, setiap kali Millie datang ke rumah Tante, dia malah yang paling semangat ngajak Millie main."
Aunt Diana terkekeh kecil mendengar perbandingan polos putrinya. "Ya, karena Dimas itu Dimas. Charlie ya Charlie."
"Tapi Charlie tuh serem. Jutek, judes, serem. Ganteng, tapi serem. Hih! Kesel!"
Kali ini Aunt Diana benar-benar tertawa. Namun tawanya tidak bertahan lama. Perlahan senyum itu memudar, berganti helaan napas panjang.
"Sebetulnya Mama juga bingung," gumamnya pelan. "Mama lihat sendiri Charlie memang sangat menutup diri. Uncle Josh bahkan sampai memutuskan menyekolahkan kalian di sekolah yang berbeda supaya kalian berhenti bertengkar."
Millie meringis kecil. Bagaimana mungkin ia bisa melupakan kejadian itu?
Semuanya bermula ketika Millie resmi masuk sekolah menengah pertama di River County. Pagi itu, sebelum mereka berangkat ke sekolah, Charlie tiba-tiba menghentikan langkah Millie tepat di depan pintu rumah.
"Aku cuma mau bilang satu hal."
Millie yang sedang membetulkan tali ranselnya langsung mendongak. "Apa?"
Charlie memasukkan kedua tangannya ke dalam saku hoodie. Tatapannya datar, nyaris tanpa ekspresi.
"Jangan pernah bilang ke siapa pun di sekolah kalau kita kakak beradik."
Millie mengernyit bingung. "Maksud kamu?"
"I said... don't tell anyone."
"Kenapa?"
Charlie mengembuskan napas pendek, seolah pertanyaan itu terlalu melelahkan untuk dijawab. "Pokoknya jangan."
Millie terdiam cukup lama. Ia sama sekali tidak mengerti alasan Charlie mengatakan hal itu. Namun melihat raut wajah Charlie yang begitu dingin, Millie tahu ia tidak benar-benar diberi pilihan.
"...Okay."
Sayangnya, percakapan singkat itu entah bagaimana sampai ke telinga Josh.
Dan malam harinya, rumah keluarga Robinson dipenuhi suara pertengkaran paling hebat yang pernah Millie dengar sejak mereka tinggal bersama.
"Biar bagaimanapun, dia adikmu sekarang, Charlie!" bentak Josh dari ruang kerjanya. "Apa sebenarnya yang kamu takutkan sampai melarang Millie mengakui kalau kalian kakak beradik?"
"Ayah tidak bisa memaksaku untuk menganggap dia adalah adikku!" balas Charlie tak kalah keras. "Yang menikah sama Aunt Diana itu ayah! Yang membawa orang asing masuk ke rumah ini juga ayah sendiri! Jangan paksa aku menerima semuanya secepat ayah menerima orang-orang asing seperti mereka datang kerumah ini!"
"They're not strangers to us for God Sake!"
"Menurut ayah mungkin! Tapi tidak menurutku!"
Charlie mengepalkan kedua tangannya erat hingga buku-buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras, sementara tatapannya tidak sedikit pun gentar menatap sang ayah.
"Memangnya Ayah pikir semudah itu bagiku menerima orang asing, lalu besoknya memperkenalkan mereka sebagai keluargaku sendiri di depan teman-teman sekolah?"
Josh menatap putranya dengan napas memburu. Kekecewaan di wajahnya semakin jelas terlihat.
"Charlie, kamu sudah keterlaluan."
"Terserah."
"Jawab pertanyaan Ayah!"
"Aku sudah menjawabnya."
Di balik pintu ruang kerja Josh yang terbuka sedikit, Millie berdiri membeku. Ia baru saja hendak memanggil Josh untuk makan malam ketika suara pertengkaran itu menghentikan langkahnya. Sama sekali tidak ada niat Millie untuk menguping, tetapi kedua kakinya seolah tidak sanggup bergerak pergi.
"Ayah sudah bilang... cukup."
Suara Josh terdengar jauh lebih pelan, tetapi justru lebih menakutkan.
Charlie tetap berdiri tegak. "Ayah boleh memaksa semua orang menerima keluarga baru ini. Tapi ayah tidak akan pernah bisa memaksa aku."
PLAK!
Suara tamparan itu menggema memenuhi rumah.
Millie refleks menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya membulat tak percaya.
Charlie pun tampak sama terkejutnya.
Selama empat belas tahun hidupnya, belum pernah sekalipun Josh mengangkat tangan kepadanya.
Ruangan mendadak sunyi.
Josh menatap telapak tangannya sendiri dengan napas yang mulai tidak beraturan. Amarah yang tadi menguasainya perlahan berubah menjadi penyesalan.
"Charlie..."
Namun Charlie tidak menjawab.
Cowok itu hanya menatap ayahnya beberapa detik dengan sorot mata yang begitu kosong hingga membuat Josh semakin merasa bersalah. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Charlie berbalik, membuka pintu ruang kerja, lalu melangkah keluar.
Begitu pintu terbuka, langkah Charlie terhenti sepersekian detik.