Ada satu kebiasaan Charlie yang tidak pernah luput dari perhatian Millie sejak hari pertama ia tinggal di rumah keluarga Robinson.
Charlie selalu merokok.
Bukan di dalam rumah, tentu saja. Josh akan mengamuk besar jika mengetahui putranya melakukannya di dalam rumah. Charlie selalu memilih duduk di atas kap mobil tua yang dibelinya beberapa bulan lalu, tepat di depan garasi, setiap pagi sebelum berangkat sekolah. Sebatang rokok terselip di sela-sela jemarinya, sementara pandangannya hampir selalu tertuju ke arah yang sama.
Jendela kamar Millie.
Pada awalnya, Millie mengira itu hanya kebetulan. Mungkin memang posisi mobil Charlie menghadap ke sisi rumah tempat kamarnya berada. Namun, semakin lama, semakin sulit baginya untuk meyakini bahwa itu hanyalah sebuah kebetulan.
Hampir setiap pagi, ketika Millie membuka tirai kamarnya, Charlie sudah berada di sana.
Duduk santai di atas kap mobil, mengenakan jaket denim atau hoodie favoritnya, mengepulkan asap rokok tipis ke udara pagi yang masih dingin. Sesekali ia memainkan korek api di tangannya, sesekali hanya memandangi jendela kamar Millie tanpa ekspresi yang dapat diartikan.
Millie sendiri tidak pernah tahu apakah dari tempat Charlie duduk, sosoknya benar-benar terlihat dari balik kaca jendela atau tidak.
Namun setiap kali kedua mata mereka bertemu, Charlie tidak pernah mengalihkan pandangannya lebih dahulu.
Begitu pula Millie.
Selama beberapa detik, mereka hanya saling memandang dalam diam, dipisahkan oleh halaman rumah, kaca jendela, dan begitu banyak perasaan yang tidak pernah berhasil diucapkan.
Lalu Charlie akan mengembuskan kepulan asap terakhirnya, mematikan rokok di asbak kecil yang selalu ia letakkan di atas kap mobil, kemudian berdiri dan pergi ke sekolah seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Kebiasaan itu berlangsung hampir setiap pagi.
Anehnya, tidak pernah sekali pun Charlie mencoba menyapa Millie.
Tidak juga tersenyum.
Apalagi berbicara.
Seolah-olah tatapan panjang itu hanyalah rutinitas yang sama membingungkannya bagi Charlie maupun Millie.
Kebiasaan Charlie merokok sebenarnya sudah diketahui Millie sejak Charlie baru berusia empat belas tahun, tidak lama setelah mereka mulai tinggal serumah. Saat itu, Millie pernah tidak sengaja melihat Charlie menyembunyikan sebungkus rokok ke dalam saku jaketnya sepulang dari garasi.
Millie tidak pernah melaporkannya kepada Josh.
Entah mengapa, ia merasa itu bukan haknya.
Namun rahasia itu akhirnya terbongkar juga pada musim gugur tahun lalu.
Pagi itu Charlie baru saja hendak berangkat sekolah ketika sebungkus rokok terjatuh begitu saja dari saku mantel yang dikenakannya. Tepat di depan Josh.
Seisi rumah sontak membeku.
Josh menatap bungkus rokok itu cukup lama sebelum perlahan mengangkat pandangannya kepada Charlie.
"You smoke?"
Charlie tidak langsung menjawab. Lebih tepatnya, tidak berani menjawab.
"Answer me, Charlie."
Charlie menghela napas panjang. Kemudian mengangguk singkat.
"I do."
Jawaban pendek Charlie langsung membuat rahang Josh mengeras.
"Since when?"
Charlie hanya mengangkat bahu.
"I don't remember."
Josh mengembuskan napas panjang sambil memejamkan mata beberapa detik, berusaha menahan emosinya.
"Jesus, Charles! You're only fifteen."
"I know."
"You know? That's all you can say?"
Charlie terdiam lagi. Tidak tahu mau menyahut bagaimana lagi.
Sejak hari itu, pertengkaran antara Charlie dan ayahnya menjadi sesuatu yang nyaris biasa terjadi di rumah keluarga Robinson.
Penyebabnya pun bermacam-macam.
Mulai dari Charlie yang beberapa kali ketahuan membolos sekolah, merokok diam-diam, menghadiri pesta teman-temannya hingga larut malam dan menjajal berbagai bir hingga tertangkap polisi, sampai yang baru saja terjadi, di suatu sore ketika Josh mengetahui Charlie menghabiskan hampir seluruh tabungannya untuk membeli sebuah mobil tua yang kondisinya bahkan sudah nyaris tidak layak jalan.
Josh masih mengingat dengan jelas hari ketika mobil itu pertama kali diantar ke rumah menggunakan mobil derek.
Pria itu berdiri mematung di halaman sambil memandangi kendaraan tua yang catnya mengelupas di hampir seluruh badan mobil.
"Charlie..." ucap Josh pelan, berusaha memastikan penglihatannya tidak salah. "Don't you ever tell me that thing is your car."
Charlie justru tersenyum begitu puas.
"Yep."
"You bought that?"
"Yep."
"With your own money?"
Charlie mengangguk sekali lagi, dengan bangga.
Josh memijat pelipisnya pelan. Ia bahkan belum sempat menghitung sampai tiga ketika rasa pening mulai menyerang kepalanya.
"Charlie... mobil yang Ayah belikan untukmu kemarin itu masih bagus. Masih bisa dipakai bertahun-tahun, bahkan nanti saat kamu kuliah. Jadi, bisakah kamu jelaskan kenapa kamu membeli... rongsokan ini?"
Charlie berjalan mengitari mobil itu sambil mengusap pelan kap depannya yang dipenuhi debu.
"Because it's worth saving."
Josh mendengus pelan. Sama sekali tidak habis pikir.
"Worth saving?"
Charlie mengangguk mantap.
"I'll restore every single part of it. Engine, transmission, suspension, interior... everything. Someday it'll look like a brand-new car."
Josh menatap putranya beberapa saat sebelum kembali memandangi mobil tua itu.