Charlie and Millie

Farah Maulida
Chapter #5

Congratulations, Millie

Apa yang akan kamu lakukan ketika harus menghadapi dilema pada seseorang yang begitu jelas menunjukkan bahwa ia membencimu, sementara di sisi lain, ada bagian kecil dalam hatimu yang terus bersikeras bahwa semua itu hanyalah kebohongan?

Millie tidak pernah menemukan jawabannya.

Selama dua tahun tinggal di rumah keluarga Robinson, Charlie tidak pernah sekalipun memberinya alasan untuk percaya bahwa mereka bisa menjadi kakak dan adik seperti keluarga pada umumnya. Setiap tatapan dingin, setiap ucapan yang menusuk, hingga setiap usaha Charlie untuk menghindarinya seolah terus meyakinkan Millie bahwa kehadirannya memang tidak pernah diinginkan di rumah ini. Namun, entah mengapa, ada sesuatu yang selalu membuat Millie gagal mempercayai kebencian itu sepenuhnya. Seolah-olah, jauh di dalam hatinya, ada keyakinan yang tidak bisa dijelaskan bahwa Charlie tidak benar-benar membencinya.

Seperti sore ini.

Dari balik jendela kamarnya, Millie memerhatikan Charlie yang kembali tenggelam dalam dunianya sendiri. Cowok itu sibuk mondar-mandir di dalam garasi tua sambil mengutak-atik mobil klasik yang beberapa bulan lalu dibelinya dalam kondisi nyaris menjadi rongsokan. Josh bahkan berkali-kali menyebut mobil itu sebagai "tumpukan besi tua" yang hanya membuang uang Charlie. Namun, setiap hari Millie melihat perubahan kecil pada mobil tersebut. Cat kusamnya sudah mulai menghilang, beberapa panel bodinya telah terpasang kembali, dan suara mesin yang dulu sama sekali tidak mau hidup kini perlahan mulai terdengar setiap kali Charlie berhasil menyalakannya beberapa detik. Meskipun prosesnya sangat lambat, Millie tahu Charlie benar-benar sedang berusaha menghidupkan kembali mobil itu, persis seperti yang pernah ia katakan.

"He's insanely gorgeous, Millie. Oh my God..."

Millie menoleh pelan. Entah sejak kapan Hannah sudah duduk di sampingnya sambil ikut menyandarkan kedua siku di ambang jendela. Tatapan Hannah bahkan tidak lepas sedikit pun dari sosok Charlie yang sedang berlumuran oli di garasi.

"You're not falling for him either, do you?" tanyanya tanpa basa-basi.

Millie langsung mengerutkan kening. "Kamu bicara apa, sih? Dia itu kakak tiriku."

Hannah hanya mendecak kecil. "Then why have you been sitting here, staring at him for almost ten minutes? Jangan bilang dia habis bikin kamu nangis lagi."

Hannah memang satu-satunya teman yang mengetahui seluruh cerita tentang Charlie. Sejak Millie diterima di sekolah barunya, Hannah menjadi orang yang paling sering datang ke rumah Robinson. Ia sudah sangat terbiasa mendengar keluh kesah Millie setiap kali Charlie kembali bersikap dingin atau mengatakan sesuatu yang menyakitkan.

Millie mengembuskan napas panjang. Pandangannya kembali jatuh ke arah garasi.

"Beberapa hari yang lalu... tangannya memar. Aku bantu mengompresnya."

Hannah langsung menoleh penuh rasa ingin tahu.

"And?"

Millie menggigit bibir bawahnya sesaat.

"I asked him something."

"About what?"

Millie terdiam beberapa detik. Bayangan kejadian pagi itu kembali memenuhi kepalanya.

"I asked him... why he hates me so much."

Mata Hannah langsung membulat.

"You actually asked him?"

Millie mengangguk pelan.

"So... what did he say?"

Millie kembali memandang Charlie yang kini sedang mengelap kedua tangannya dengan kain lap penuh noda oli. Sinar matahari sore menyinari rambut cokelatnya yang mulai memanjang hingga menutupi sebagian dahinya. Cowok itu tampak begitu fokus pada pekerjaannya, seolah tidak ada hal lain di dunia yang lebih penting daripada mobil tua di hadapannya.

"That's the thing..." gumam Millie lirih. "He didn't say a word."

Pertanyaan itu masih menggantung hingga sekarang.

Millie masih mengingat dengan sangat jelas bagaimana Charlie hanya menatapnya selama beberapa saat tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tatapan itu begitu tenang, jauh dari kemarahan yang biasanya selalu Charlie tunjukkan. Namun sesaat kemudian, seolah tersadar pada sesuatu, Charlie kembali memasang dinding yang selama ini memisahkan mereka. Cowok itu melepas sendiri balutan kompres di tangannya, melemparkannya ke dalam wastafel, lalu pergi begitu saja tanpa memberikan jawaban apa pun.

"Millie, let's prepare dinner... Oh, hello, Hannah."

Suara Mama menyembul dari balik pintu kamar.

Hannah langsung berdiri sambil tersenyum lebar. "Ugh, can i help, Mrs. Robinson, please?"

Mama Millie tersenyum hangat, "I couldn't say no to the sweetest face like you, Hannah."

Keduanya segera berjalan keluar kamar sambil mengobrol riang. Sedangkan Millie masih belum bergerak. Kakinya seakan tertahan di depan jendela tanpa bergerak se inchi pun.

Tatapannya kembali jatuh ke arah Charlie.

Dan tepat pada saat itu, Charlie yang sedang mengelap kedua tangannya perlahan mendongakkan kepala.

Tatapan mereka bertemu.

Tidak ada yang berbicara.

Tidak ada yang mengalihkan pandangan.

Mereka hanya saling menatap, dipisahkan oleh halaman rumah dan kaca jendela kamar Millie.

Tatapan Charlie begitu teduh.

Begitu tenang.

Dan sama sekali tidak terlihat seperti tatapan seseorang yang membenci.

Aku yakin...

...dia sebenarnya tidak benar-benar membenciku.

Suara hati Millie kembali berbisik pelan.

Kalau begitu...

apa yang sebenarnya membuatnya terus mendorongku menjauh?

"MILLIE!"

Teriakan Mama dari lantai bawah langsung memecahkan lamunan Millie.

Millie tersentak pelan.

Untuk pertama kalinya, gadis itu memilih memutus tatapan mereka lebih dulu. Ia mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya berbalik meninggalkan jendela, sementara Charlie masih tetap berdiri di garasi dengan pandangannya yang belum beralih sedikit pun dari jendela kamar Millie.


****


"Jadi... gadis yang membuatmu mendadak bisu di Sookie's dua tahun lalu itu ternyata benar-benar adik tiri kamu?"

Suara Adrian memecah keheningan garasi yang sejak tadi hanya dipenuhi dentingan kunci pas dan sesekali deru kipas angin tua yang berputar pelan di sudut ruangan. Cowok yang kini telah berusia dua puluh tahun itu duduk santai di atas meja kerja Charlie sambil meminum sekaleng soda dingin. Meskipun sudah lama berhenti bekerja di Sookie's, kebiasaannya mampir ke garasi Charlie hampir setiap akhir pekan tidak pernah berubah.

Charlie yang sedang berada di bawah kap mobil hanya mendengus pelan. Ia menarik tubuhnya keluar dari ruang mesin, lalu mengambil sebatang rokok dari saku jaket kerjanya. Korek api berbunyi pelan sebelum bara kecil menyala di ujung rokok itu. Charlie mengembuskan asap ke udara, lalu menyandarkan punggungnya pada bodi mobil.

"Di hari aku melihatnya di Sookie's," ujarnya pelan tanpa memandang Adrian, "di hari yang sama juga Dad memperkenalkan ibunya sebagai tunangan beliau. Beberapa jam setelah aku pulang, gadis yang terus ada di kepalaku berdiri di ruang tamuku."

Ia tersenyum hambar, senyum yang sama sekali tidak menunjukkan kebahagiaan.

"Dan beberapa menit kemudian Dad bilang kalau mulai hari itu dia adalah adik tiriku."

Adrian meringis simpati.

"Damn..."

Charlie hanya mengangkat bahu kecil.

"That must've hurt."

"Hurt?" Charlie terkekeh pelan, namun tawanya terdengar lebih pahit daripada lucu. "Aku bahkan tidak bisa membedakan mana yang lebih buruk, tidak diberi kesempatan kedua untuk bertemu dengannya lagi, atau kembali bertemu dengan kenyataan dia adalah adik tiriku."

Keheningan kembali menyelimuti garasi. Hanya terdengar suara jangkrik dari halaman belakang yang mulai bermunculan menjelang sore.

Adrian memutar kaleng sodanya di telapak tangan sebelum kembali bersuara.

"So... selama dua tahun ini kamu memilih melakukan semua itu?"

Charlie mengernyit.

"Doing what?"

"Being cold. Ignoring her. Hurting her whenever you have the chance."

Charlie tidak langsung menjawab. Ia kembali mengisap rokoknya dalam-dalam sebelum mengembuskannya perlahan ke langit-langit garasi.

"It keeps her away from me."

Jawaban itu terdengar begitu pelan, nyaris seperti gumaman untuk dirinya sendiri.

Adrian menatap Charlie beberapa detik, lalu menggeleng tidak habis pikir.

"You know she's crying because of you, right?"

Rahang Charlie langsung mengeras.

"Aku tidak pernah ingin membuatnya menangis."

"Tapi kamu tetap melakukannya."

Charlie memejamkan mata sesaat. Kalimat Adrian menancap tepat di tempat yang selama ini paling ia hindari.

"Aku lebih memilih dia membenciku daripada suatu hari nanti dia tahu alasan sebenarnya."

Lihat selengkapnya