Charlie and Millie

Farah Maulida
Chapter #6

Here Comes The Tornado

Hidup di Texas berarti harus siap menghadapi segala kemungkinan perubahan cuaca ekstrem tak menentu. Dalam hitungan menit, matahari yang tadinya bersinar hangat dapat berubah menjadi awan pekat menggulung, disusul hujan deras, angin kencang, bahkan tornado yang datang tanpa memberi kesempatan siapa pun untuk benar-benar bersiap.

Karena itulah, selama beberapa hari terakhir, hampir seluruh stasiun televisi, radio lokal, hingga notifikasi di ponsel masyarakat terus menyiarkan peringatan dini mengenai potensi tornado yang diperkirakan akan melintasi Texas Timur, termasuk kota River Oaks.

Meski begitu, pagi itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan datangnya bencana. Langit membentang biru tanpa cela, matahari bersinar hangat menerangi halaman rumah keluarga Robinson, sementara embusan angin musim semi terasa begitu lembut hingga sulit dipercaya bahwa beberapa jam lagi cuaca dapat berubah menjadi mimpi buruk.

"Peringatannya sudah muncul beberapa hari terakhir, tapi kulihat langit di luar sana masih cerah-cerah saja."

Mardiana mendongakkan kepalanya, memperhatikan langit yang terlihat begitu tenang.

"Sudah kubilang," ujarnya santai. "Hidup di Texas itu harus selalu siap menghadapi cuaca yang tidak menentu. Satu menit langitnya cerah, menit berikutnya badai bisa datang tanpa di undang."

Mardiana tersenyum tipis. Ia kembali memandang hamparan langit yang masih berwarna biru, lalu tanpa sadar menyandarkan kepalanya ke bahu Josh ketika pria itu merangkulnya dengan hangat.

Keheningan pagi mereka sedikit terusik saat pintu depan rumah terbuka. Millie melangkah keluar dengan ransel yang telah tersampir rapi di bahunya. Di tangannya terdapat sebuah map berisi beberapa lembar tugas yang harus ia kumpulkan untuk memenuhi kredit tambahan program dual enrollment nya di University of Texas.

"Where are you going on this Saturday morning, sweetheart?"

Millie menghentikan langkah begitu menyadari Josh dan ibunya tengah berdiri di teras.

"Oh! Hey, Ma. aku ada kelas tambahan Biologi di Chilton. Aku masih harus memenuhi beberapa kredit untuk program musim panas di UT, jadi pagi ini aku mau kesana."

Ia mengangkat map di tangannya sambil tersenyum kecil.

"Oke, kalau begitu. Ma, Uncle... aku pergi dulu, ya."

"Baby, hold on."

Mardiana segera menghampiri putrinya.

"Let me take you to Chilton."

Millie menggeleng pelan.

"Tidak usah, Ma. Aku ingin mencoba naik bus hari ini."

Josh yang sejak tadi memperhatikan putri tirinya akhirnya ikut melangkah mendekat. Sejak beberapa hari terakhir, ia merasa ada sesuatu yang berubah dari Millie. Gadis itu lebih sering menghabiskan waktu di luar rumah, pulang menjelang malam, dan hampir tidak pernah lagi duduk mengobrol bersama mereka di meja makan.

"Millie." panggil Josh dengan lembut.

Gadis itu kembali menoleh. Kali ini menatap Josh sepenuhnya.

"You've been avoiding us these past few days." ujar Josh seraya menghela napas panjang dan memandang Millie dengan khawatir.

"I thought getting accepted into the UT program would make you happier. Tapi akhir-akhir ini kamu justru lebih sering keluar rumah dan pulang hingga larut malam."

Pertanyaan itu tidak langsung dapag Millie jawab. Ia tahu cepat atau lambat Josh pasti akan menyadari perubahan sikapnya.

Namun bagaimana mungkin ia menceritakan kejadian beberapa hari lalu tanpa membuatnya nanti akan di cap jadi tukang pengadu oleh Charlie dan membuat cowok itu berakhir bertengkar hebat lagi dengan ayahnya sendiri gara-gara Millie?

Millie menarik napas pelan sebelum memaksakan seulas senyum.

"Well... program ini memang menuntut banyak kegiatan tambahan untuk melengkapi kreditku nanti, Uncle. Aku benar-benar ingin memberikan hasil terbaik, jadi akhir-akhir ini memang lebih sering berada di luar."

Josh masih menatapnya beberapa saat, seolah mencoba memastikan apakah gadis itu berkata jujur. Namun Millie segera melirik jam tangannya, lalu pura-pura terkejut.

"Oh no... bus-ku sebentar lagi datang." Ucap Millie seraya mundur selangkah sambil tersenyum.

"Aku pergi dulu ya, Uncle. Ma. See you."

Sebelum Josh sempat mengatakan apa pun lagi, Millie sudah berlari cepat meninggalkan halaman rumah. Josh mengikuti kepergiannya tanpa melepaskan tatapan hingga Millie menghilang di tikungan jalan.

Pria itu mengembuskan napas panjang, lalu memutar tubuh menghadap Mardiana yang masih berdiri di serambi rumah.

"Something's wrong, isn't it?"

Mardiana mengangguk pelan.

"Definitely is, my love."

Josh terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya ke arah garasi rumah.

"I'll go talk to him."

****

Kesibukan Charlie dalam beberapa hari terakhir benar-benar tersita oleh mobil buatannya.

Setelah melalui serangkaian uji coba terakhir dan memastikan seluruh komponen mesin mobil bekerja sebagaimana mestinya, kini Charlie memasuki tahap yang paling ia nantikan, yaitu sentuhan akhir.

Pagi itu, ia berdiri di tengah garasi sambil menuangkan cat berwarna biru tua ke dalam tabung spray gun untuk memberi lapisan warna terakhir untuk mobil buatannya. Warna biru yang tampak elegan ketika mengenai permukaan logam yang telah diamplas halus, memantulkan cahaya matahari yang masuk dari celah pintu garasi.

Biru. Iya, biru.

Bukan merah.

Bukan pink.

Warna yang tanpa sengaja pernah ayahnya katakan ketika dulu ia menceritakan sosok anak dari wanita yang akan dinikahinya. Warna yang setelah beberapa tahun terakhir ini tinggal bersamanya, selalu jadi pilihan utama dalam setiap kesempatan Millie memilih berbagai macam barang.

"Looking good, Doctor."

Suara Josh membuat Charlie menoleh sekilas. Pria itu berjalan memasuki garasi dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana, lalu berhenti di samping mobil yang kini nyaris selesai dikerjakan. Tatapannya berkeliling mengamati setiap detail, dari bodi yang kembali mengilap hingga mesin yang kini terdengar jauh lebih halus dibanding pertama kali Charlie membawanya pulang.

"Wow. You actually made it, son. I'm impressed."

Charlie hanya tersenyum tipis tanpa menghentikan pekerjaannya.

"Kalau ayah tidak melihat sendiri prosesnya dari awal, mungkin ayah tidak akan percaya kalau ini mobil yang sama." ujar Josh seraya berdecak kagum pada mahakarya buatan Charlie.

Charlie terkekeh pelan, "It wasn't easy though."

Ayahnya terkekeh, "I know."

Josh mengangguk, lalu mengedarkan pandangan sekali lagi ke seluruh garasi. "Apakah akhirnya ayah boleh tahu mobil ini akan kamu apakan setelah selesai?"

Charlie melepaskan masker dan kacamata pelindungnya, kemudian menggantungkan keduanya di leher.

"You'll see in less than two weeks, Dad." sahut Charlie sambil tersenyum samar.

Josh tidak lagi bertanya. Ia tahu putranya memang selalu seperti itu. Jika Charlie belum ingin mengatakan sesuatu, memaksanya berbicara tidak akan pernah ada gunanya.

Josh mengembuskan napas pelan sebelum akhirnya kembali membuka suara, "Listen... I've been meaning to ask you something."

Charlie seketika menghentikan aktifitasnya, "About what?"

Josh menatap putranya sejenak, lalu berkata, "That's the thing. I don't know."

Charlie mengernyit tipis. Lalu terkekeh meledek. Ia kembali melanjutkan menyemprotkan warna biru ke bodi mobil tanpa bertanya lebih jauh pada ayahnya.

"Ada apa sebenarnya antara kamu dan Millie?"

Pertanyaan itu membuat Charlie kembali berhenti menyemprotkan cat spray gun ke bodi mobil. Rahangnya mengeras, sementara tatapannya perlahan berubah kosong.

Josh tentu langsung menangkap perubahan itu.

"Sudah empat hari ini Millie pulang larut malam. Dia lebih sering menghindari makan malam bersama. Sangat bukan Millie sekali."

Charlie tetap terdiam membisu.

"Charlie..."

Josh melangkah mendekat.

"Millie diterima di program dual enrollment University of Texas. Dan kita semua tahu sudah berapa lama dia menantikan hal ini. Seharusnya dengan diterimanya dia untuk programnya di UT itu, kita bisa menyaksikan betapa bahagianya Millie sejak beberapa hari kemarin."

Lihat selengkapnya