Charlie and Millie

Farah Maulida
Chapter #7

Things I Should Have Never Said

Tiga hari setelah tornado menerjang River Oaks, kehidupan perlahan kembali berjalan seperti semula. Jalanan yang sempat dipenuhi puing kini mulai dibersihkan, tiang listrik yang roboh satu per satu kembali berdiri, dan masyarakat kembali menjalani rutinitas mereka seperti biasa.

Namun, tidak semua hal benar-benar kembali seperti semula.

Di garasi belakang, Charlie berdiri di samping mobil buatannya sambil mengarahkan alat penyemprot cat ke seluruh bodi kendaraan. Mobil tua keluaran Subaru yang dibelinya dulu dalam keadaan rusak kini tampak seperti kendaraan baru, seperti yang direncakan Charlie selama ini.

Charlie baru saja mengangkat alat spraygun kembali ketika rasa nyeri yang menusuk dari punggungnya, membuat setiap sendi tubuhnya menegang hebat.

"Argh..."

Ia buru-buru mematikan mesin semprot, lalu menundukkan kepala sambil menarik napas panjang. Sengatannya kembali datang. Bahkan terasa lebih menyakitkan dibanding dua hari kemarin. Memar yang ia dapat saat melindungi Millie dari puing-puing tornado kemarin rupanya belum juga membaik, tetapi Charlie tetap juga bersikeras mengabaikannya.

Karena tahu memaksakan diri hanya akan membuat kondisinya semakin buruk, Charlie akhirnya duduk di bangku kayu di sudut garasi. Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan, berharap rasa nyeri di punggungnya sedikit mereda.

"You should see a doctor, young man."

Charlie mengangkat kepala seketika.

Magda berdiri di ambang pintu garasi sambil membawa segelas air putih dan dua butir aspirin di telapak tangannya. Tanpa banyak bicara, wanita itu berjalan mendekat dan menyodorkannya kepada Charlie.

Charlie menghela napas panjang, "Not a word, Magda."

"Aku bahkan belum mulai bicara." cetus Magda kesal.

Wanita itu memperhatikan Charlie yang menelan dua butir aspirin sekaligus beberapa saat, lalu menggeleng pelan.

"Luka memar di punggungmu itu harus diperiksa, Charlie. Kalau terus dipaksa seperti ini, aku yakin ibumu akan langsung menelfon dan mengomeliku panjang lebar minggu depan begitu ia melihat putra semata wayangnya sekarat seperti ini."

"Aku tidak sekarat, Magda."

Untuk sesaat, Charlie seperti baru menyadari sesuatu dari ucapan Magda.

Kepalanya pun mendongak lagi.

"Wait, how did you..."

Pertanyaan Charlie hanya bertahan beberapa detik sebelum Charlie mengembuskan napas panjang lagi untuk kesekian kalinya.

"...Dad told you?"

Magda tidak menyangkal. Ia hanya mengangguk pelan.

Charlie menghembuskan napas letih, "Guess my father couldn't keep his mouth shut, huh?"

"Kalau saja dia bukan majikanku, aku sendiri yang sudah mencekiknya karena baru memberi tahu soal rencanamu ini." ujar Magda kesal, membuat Charlie terkekeh pelan.

Kekesalan Magda tidak bertahan lama, karena setelah itu ia ikut tersenyum.

"Kamu benar-benar berhasil memperbaikinya."

Charlie mengikuti arah pandang Magda. Sudut bibirnya kembali terangkat tipis.

"Hampir selesai?"

Charlie mengangguk, "Kurang satu lapisan lagi."

Magda mengusap lembut kap mobil yang kini tampak berkilau diterpa cahaya sore.

"Mobil sebagus ini... sayang sekali kalau hanya diparkir di garasi."

Charlie tidak menjawab.

Keheningan singkat menyelimuti mereka sampai akhirnya Magda kembali bersuara.

"Jadi... kapan kamu akan memberikannya?"

Charlie yang sedang mengenakan kembali masker pelindungnya berhenti sejenak.

"Aku tidak tahu maksudmu."

"Oh, ayolah."

Magda menatapnya dengan wajah datar.

"Kamu boleh membohongi semua orang di rumah ini, Charlie. Tapi jangan coba-coba membohongiku."

Magda memperhatikan wajah Charlie cukup lama. Anak itu memang terkenal keras kepala sekali sejak kecil. Semakin didesak, semakin rapat pula Charlie akan menutup diri.

"Charlie," ucapnya lebih pelan, "kadang seseorang tidak butuh penjelasan panjang lebar. Mereka hanya perlu tahu bahwa ada seseorang yang diam-diam memikirkan mereka."

Charlie menundukkan pandangannya. Ia menarik napas panjang.

"She's better if she never knows."

Magda hanya bisa menggeleng pelan.

Charlie kemudian kembali mengenakan masker dan kacamata pelindung, lalu menyalakan mesin penyemprot cat, pertanda bahwa apapun pembicaraan yang terjadi sore itu, telah berakhir sepihak.

Magda memandang punggung Charlie beberapa detik sebelum akhirnya berbalik menuju rumah.

Anak itu memang pandai menyembunyikan rasa sakit sejak dulu.

****

"Hannah."

Hannah yang sedang merapikan buku di dalam lokernya menoleh kearah Millie yang tengah bersandar di pintu lokernya yang tertutup.

"Hm?"

"Menurutmu... apa hadiah yang pantas diberikan untuk seorang cowok yang hatinya sebelas dua belas dengan robot, namun begitu ceria kalau sedang bersama teman-temannya? Sesuatu yang sederhana, tetapi tetap memiliki makna. Sesuatu yang tidak akan langsung dilempar ke tong sampah, dan pastinya tidak terkesan murahan?"

Alih-alih menjawab, Hannah justru menatap Millie dengan ekspresi datar selama beberapa detik.

Kemudian, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia mengulurkan telapak tangannya dan menempelkan punggung tangannya ke dahi Millie.

Millie spontan mengernyit.

"Apa yang sedang kamu lakukan?"

Hannah mengerutkan kening, "Hmm... Checking your body temperature."

Millie mendengus sebal. Sementara wajah Hannah tampak semakin serius

"Aku hanya ingin memastikan kamu tidak sedang demam gara-gara badai dahsyat kemarin."

Millie menepis tangannya sambil mendesah pelan.

"Baiklah, baiklah. Jangan menatapku seperti itu. Aku hanya bercanda." tawa Hannah akhirnua pecah melihat guratan di pelipis Millie

Hannah menutup pintu lokernya sambil menyilangkan tangan.

"Sekarang katakan. Hadiah itu untuk siapa?"

Untuk beberapa saat, ia hanya memandangi lantai sebelum akhirnya menghela napas pelan.

"...Charlie."

Mata Hannah melebar sesaat. Namun, kesadaran lain seolah menghampiri sahabat Millie itu secepat kilat.

"Tanda terima kasih karena kakak tirimu itu telah menyelamatkan hidupmu dari tornado kemarin. Bukan begitu?"

Millie mengangguk dengan takjub.

Hannah memperhatikan wajah Millie beberapa saat. Kali ini tidak ada senyum menggoda ataupun candaan. Ia bisa melihat kesungguhan di mata sahabatnya.

"Hmm... andaikan Taylor Swift berada di sini."

Bibir Millie langsung mendesis tajam, "Girl, not again."

Hannah memasang tampang polos, "What?"

"Ini bahkan masih jam sebelas siang, Hannah. Tapi si Taylor Taylor sialan itu selalu saja muncul di setiap pembicaraan kita."

Hannah mengangkat bahu tanpa merasa bersalah.

"Perempuan itu menulis jutaan lagu untuk hampir semua situasi, Millie. Kita tidak pernah tahu di antara jutaan lirik yang dibuatnya dengan jenius itu, bisa jadi ada hal yang bisa kamu jadikan ide untuk hadiah Charlie."

Millie ingin sekali melempar kamus Oxford nya ke kepala Hannah.

"Dia hanya menulis lagu tentang para mantannya yang sangat bervariasi itu, Hannah. Sangat kontradiktif sekali dengan apa yang sedang jadi dilemaku sekarang ini."

Hannah menunjuk Millie dengan ekspresi dramatis.

"Kamu itu butuh edukasi musik yang lebih layak, Millie. Percayalah jika kukatakan sekali kamu menyelami lagu Taylor Swift, hidupmu tidak akan sama lagi."

"Aku membutuhkan jawaban, Hannah. A simple present idea! That simple!"

Hannah kembali berpikir beberapa detik. Tiba-tiba wajahnya berubah cerah.

"What about Friendship bracelet?"

Millie hanya berkedip pelan.

"You serious?"

Hannah mengangguk antusias.

"Sangat."

"A bracelet? For my dear brother Charles Robinson? Yang kamu tahu sendiri punya lidah setajam pedang dan selalu menganggap setiap tindakanku adalah kebodohan?"

Lihat selengkapnya