Charlie and Millie

Farah Maulida
Chapter #8

The Present

Dulu Charlie pernah jadi bagian dari tim football kebanggaan River Oaks di sekolahnya.

Charlie masih duduk di bangku sekolah menengah pertama saat pertama kali ia bergabung dalam tim junior The Longhorns. Ia memang bukan pemain paling menonjol di lapangan, tapi cukup berbakat hingga beberapa pelatih yakin Charlie bisa berkembang menjadi atlet yang menjanjikan jika terus berlatih.

Sayangnya, semuanya berubah ketika Charlie memasuki tahun sophomore di sekolah menengah atas.

Lebih tepatnya, ketika waktu Charlie lebih banyak ia habiskan di dalam garasi. Rutinitas sorenya yang dulu diisi untuk latihan kini berganti poros dengan suara dentingan kunci pas, aroma oli, serta tumpukan onderdil yang memenuhi meja kerjanya. Semakin dalam ia tenggelam dalam dunia mesin, semakin jauh pula ketertarikan Charlie pada football.

Hingga suatu hari, tanpa banyak penjelasan, Charlie memutuskan keluar dari tim. Bahkan Josh baru mengetahui keputusan itu setelah nama putranya benar-benar menghilang dari daftar pemain.

Sebagai pria Texas yang tumbuh dengan keyakinan bahwa football bukan sekadar olahraga, melainkan bagian dari identitas, Josh tentu saja kecewa bukan main.

Baginya, menjadi orang Texas hampir sama artinya dengan mencintai football.

Meski akhirnya ia memilih menghormati keputusan Charlie, Josh tak pernah benar-benar menyembunyikan rasa sayangnya pada olahraga itu.

Dan hari ini adalah salah satu hari yang paling ditunggu-tunggu oleh seluruh warga River Oaks.

Klub football kebanggaan kota mereka berhasil melaju ke pertandingan pembuka babak penyisihan menuju kompetisi tingkat negara bagian. Sejak pagi, suasana kota sudah jauh lebih hidup dari biasanya. Bendera sekolah berkibar di depan rumah-rumah penduduk, toko-toko memasang spanduk dukungan, sementara orang-orang mengenakan jaket, topi, atau syal dengan warna kebesaran tim River Oaks.

"Let's go! Come on, we're gonna be late!"

Suara Josh menggema dari garasi bersamaan dengan bunyi mesin Range Roover nya yang baru saja Josh nyalakan.

Tak lama kemudian, Mama muncul dari arah tangga sambil merapikan mantel musim gugurnya.

"Millie!" panggilnya. "We're leaving!"

Hari itu Millie akhirnya memutuskan ikut menonton pertandingan football pertamanya sejak tinggal di Texas.

"Uncle..."

Josh menoleh sambil membuka pintu penumpang untuk putri tirinya.

"I still don't get this sport very much."

Josh terkekeh, "Which part?"

"Everything. Aku bahkan tidak tahu bagaimana cara menghitung skornya, kapan sebuah tim dianggap menang, atau... sebenarnya kita mendukung tim yang mana."

Josh tertawa lebih keras.

"That's easy. Tonight you're officially The Longhorns."

"The Longhorns?" tanya Millie makin bingung.

"The River Oaks's Mascot, darling." ujar Josh penuh bangga.

Millie menghembuskan napas lelah, "Tapi aku bahkan belum tahu aturannya."

"I'll explain everything during the game."

Ia membuka pintu penumpang untuk Millie.

"By the end of tonight, you'll be yelling at the referee just like everybody else."

Millie hanya mendengus pelan sambil menggeleng geli.

"I highly doubt that."

****

Area di sekitar stadion kota sudah dipenuhi lautan manusia ketika mereka tiba.

Josh tampak jauh lebih bersemangat dibanding siapa pun yang hadir disana. Ia berjalan paling depan sambil beberapa kali menyapa tetangga yang mereka kenal.

"Josh!"

"See you inside!"

"River Oaks's Longhorns all the way!"

Josh membalas semuanya dengan tawa lebar.

Begitu mereka berhasil menemukan tempat duduk di tribun, Josh buru-buru berdiri lagi.

"I'll grab some snacks."

Mama langsung menoleh tajam sambil menyipitkan mata.

"Josh... don't bet too much."

"I'm just buying popcorn, darling!" seru Josh sambil mengibaskan tangan dan berjalan menjauh.

"Bet?" tanya Millie bingung pada Mama nya.

Mama menghela napas pelan sebelum menyampirkan selimut tipis yang dibawanya dari rumah ke atas lutut mereka berdua.

"Don't be surprised, sweetheart. Ayah Charlie itu selalu punya tradisi kecil setiap musim football dimulai. Bukan taruhan besar memang, hanya semacam taruhan antarteman. Si McDowell itu bahkan sudah menelepon rumah beberapa hari terakhir hanya untuk memastikan Josh ikut lagi tahun ini."

Bibir Millie membentuk huruf O.

"Oh..."

"Now you know." Mama ikut terkekeh kecil.

Millie mengangguk pelan sebelum mengalihkan pandangannya ke lapangan yang mulai dipenuhi para pemain untuk sesi pemanasan.

Lampu stadion menyala terang, sorak-sorai penonton semakin ramai, marching band sekolah mulai memainkan lagu kebanggaan River Oaks.

Di tengah riuhnya suasana stadion, Mama tiba-tiba merangkul bahu Millie.

"So... Next week you'll be sixteen."

Millie ikut tersenyum tipis, "Time flies, huh?"

Mama mengangguk, "It really does. Rasanya baru kemarin Mama dan Mbah menggendong kamu keluar dari rumah sakit."

Millie memutar bola matanya sambil tertawa kecil.

"I'll still be the same person next week. Fifteen, sixteen... tomato, tomahto."

Mama terkekeh, lalu menyenggol bahu putrinya pelan, "It still means something though."

Mamanya menatap Millie beberapa detik sebelum kembali bertanya dengan suara jauh lebih lembut.

"So... is there anything you want for your birthday? Something that might brighten up your day."

Sebelum sempat Millie jawab, tanpa sengaja pandangannya jatuh ke area bawah tribun.

Dan saat itulah, entah kenapa deru nafas Millie lebih berat dari sedetik sebelumnya.

Tanpa sadar matanya menyipit, kemudian berkata, "Is that... Charlie?"

Mama mengikuti arah pandang Millie, lalu sedetik kemudian mengangguk kecil sambil tersenyum.

"Oh, yeah. That's him." Tatapannya kemudian bergeser ke gadis berambut pirang yang berdiri tepat di samping Charlie. "And that is Samantha."

Kening Millie langsung berkerut. "Samantha?"

"Yup. I bet she's his girlfriend. Dia sempat datang ke rumah tadi siang. Sepertinya mereka memang sudah janjian buat nonton pertandingan hari ini."

Entah mengapa, penjelasan sederhana itu justru membuat perasaan anomali yang begitu tidak nyaman kembali muncul dalam dada Millie.

Charlie tampak mengobrol santai bersama Samantha. Sesekali keduanya tertawa, lalu beberapa pemain football yang masih mengenakan jersey latihan menghampiri mereka. Charlie menyalami satu per satu, bercanda sebentar, kemudian kembali berdiri di samping Samantha seolah memang sudah menjadi bagian dari kelompok itu.

"I thought he hated football."

Mama terkekeh pelan mendengar komentar Millie. "I don't think he hates it. Charlie cuma kehilangan minat kata ayahnya. Sayang sekali, ya. Padahal dengan postur tubuh Charlie setinggi dan setegap itu untuk remaja seusianya, dia cocok sekali jadi atlet American Football."

Millie tidak menanggapi pendapat awam Mama nya. Pandangannya tetap tertuju pada Charlie dan Samantha.

Samantha.

Nama itu kembali bergaung di kepalanya. Lagi-lagi disertai ingatan tidak mengenakkan waktu itu.

Kalau saja waktu itu Millie tidak sengaja masuk ke kamar Charlie, apakah mereka benar-benar akan tidur bersama siang hari itu, bahkan disaat Millie dan Magda sedang ada di rumah?

Dan bagaimana jika Millie menceritakan kejadian hari itu kepada Josh dan Mama?

Pikiran Millie yang mulai bercabang lagi malah membuat perutnya semakin melilit.

Sambil diam-diam menghela napas panjang demi meredakan perutnya yang mulai mual, mata Millie kembali jatuh ke arah Charlie.

Cowok itu merangkul bahu Samantha sambil mendengarkan sesuatu yang gadis itu ceritakan. Charlie tertawa kecil, lalu mengacak rambut Samantha sekilas.

"You okay, hon?"

Suara Mama memecah lamunan Millie dari pemandangan Charlie dan Samantha dibawah tribun.

"Huh?"

"Kamu kelihatan melamun." kata Mama sambil memerhatikan wajah Millie

Millie memaksakan senyum tipis. "Udara makin dingin aja disini, Ma." Ia menarik ujung selimut yang menyelimuti kaki mereka.

Tiba-tiba saja kejadian dua malam yang lalu muncul tanpa permisi dalam pikiran Millie.

Malam ketika, di sela-sela tidurnya yang gelisah, Charlie berkali-kali menyebut namanya.

Millie...

Millie...

Rintihan cowok itu masih terdengar begitu jelas di telinganya, seolah baru saja terjadi semalam.

Kenapa harus namanya?

Kenapa tidak nama si pirang itu saja?

Yang membuat Millie semakin kesal pada dirinya sendiri adalah kenyataan bahwa ia sama sekali tidak pernah berani menanyakan hal itu secara langsung kepada Charlie. Bukan keesokan paginya, bukan sehari setelahnya, bahkan hingga sekarang. Seolah setiap kali kesempatan itu datang, keberanian akan selalu menghilang lebih dulu.

Padahal pertanyaannya sederhana.

'Charlie... sebenarnya kamu bermimpi apa malam itu?'

Kalimat itu berkali-kali berputar di kepala Millie, tapi tak pernah benar-benar berhasil keluar dari bibirnya.

Lihat selengkapnya