Charlie and Millie

Farah Maulida
Chapter #9

One New Message

(Beberapa bulan kemudian...)

"Millie! Your mail's here!"

Kalau ada satu bagian dari Indonesia yang masih selalu berhasil ikut terbawa ke Texas bersama Millie, maka itu adalah surat-surat dari Papa Millie di Jakarta.

Sebulan sekali, akan selalu ada sebuah amplop yang menempuh perjalanan ribuan kilometer hanya untuk sampai ke tangan Millie. Anehnya, di zaman ketika hampir semua orang lebih memilih bertukar kabar lewat panggilan video atau pesan singkat, Papa dan Millie tetap bertahan dengan cara lama mereka.

Mereka masih saling berkirim surat, seolah tulisan tangan di atas selembar kertas mampu menghadirkan kehangatan yang tidak pernah bisa digantikan oleh layar ponsel. Terlebih lagi, beberapa tahun terakhir kondisi kesehatan Papa semakin menurun. Dokter bahkan menyarankan agar beliau tidak terlalu lama menatap layar karena efek pengobatan yang sedang dijalaninya.

Begitu menuruni tangga dan menerima amplop berwarna krem itu dari tangan Josh, sudut bibir Millie langsung terangkat membentuk senyum kecil. Millie akan duduk di tepi ranjang, membacanya perlahan dari awal hingga akhir, lalu melipatnya kembali dengan hati-hati dan menyimpannya di dalam sebuah kotak kayu di samping meja belajarnya. Kotak itu kini hampir penuh. Di dalamnya tersimpan bertahun-tahun cerita, nasihat, candaan, hingga kerinduan seorang ayah kepada putrinya. Setiap surat seolah menjadi pengingat bahwa sejauh apa pun jarak memisahkan mereka, selalu ada seseorang di Jakarta yang tidak pernah berhenti memikirkan Millie.

"How's your dad doing?" tanya Josh seraya berdiri di depan meja dapur sambil memilah beberapa lembar surat tagihan yang baru saja ia ambil dari kotak pos.

Millie mengangguk pelan sebelum menyesap cokelat hangatnya. "He's doing okay. Papa bilang minggu depan beliau mulai tahap kemoterapi berikutnya. Dosis obatnya juga ditambah, jadi kemungkinan dua bulan ke depan beliau belum bisa mengirim surat lagi."

Josh mengangguk pelan. Ada jeda beberapa detik ketika ia hanya memandangi putri tirinya yang sedang menatap cangkir di kedua tangannya.

"You sure you don't wanna visit him?" tanyanya hati-hati. "Winter break is coming. Uncle bisa bicara sama Mama kamu. Kalau kamu ingin pulang ke Jakarta sebentar sebelum New Year's, kita pasti cari caranya."

Millie tersenyum kecil sambil menggeleng. "It's okay, Uncle. I really appreciate it. Tapi tiket menjelang Christmas pasti mahal sekali. Lagipula aku tidak ingin Mama mengkhawatirkanku kalau harus terbang sejauh itu sendirian."

"I can come with you," sahut Josh tanpa berpikir panjang. "Uncle masih punya banyak cuti yang belum dipakai. Seminggu saja sudah cukup. Kita temui Papa kamu, lalu pulang sebelum Tahun Baru."

Jawaban itu membuat hati Millie kembali menghangat.

"It's okay," jawab Millie lembut sambil tersenyum. "You're being way too kind to me. But I'm really fine here. Christmas always feels warmer when I spend it with you and Mama."

Josh terkekeh pelan lalu mengangguk, seolah akhirnya menerima keputusan itu. Dapur kembali diselimuti keheningan yang nyaman. Millie menyesap cokelat hangatnya sekali lagi sebelum tanpa sadar matanya jatuh pada tumpukan surat yang masih tergeletak di atas microwave.

Tatapan Millie bertahan sedikit lebih lama dari yang seharusnya, membuat Josh menyadari apa yang saat ini tengah diamati Millie.

"There isn't one from him."

Millie tersadar dari lamunannya sendiri. Rona merah perlahan memenuhi kedua, malu karena ia tidak menyadari bahwa dirinya begitu mudah ditebak.

Setelah beberapa saat terdiam, Millie mengembuskan napas pelan lalu memberanikan diri bertanya, "...Can I just have his number? I've been sending him letters... and he never replies."

Josh menghela napas panjang sebelum menjawab.

"I promised him, sweetheart. Charlie specifically asked me not to give you his new number."

"But... why?"

"I honestly don't know. He never told me. He just asked me to keep that promise."

Millie menundukkan kepala. Jawaban itu sama sekali tidak mengurangi kebingungan yang sudah berbulan-bulan memenuhi pikirannya.

Millie meletakkan cangkirnya di atas meja. Entah kenapa cokelat hangat yang tadi terasa begitu nikmat kini mendadak kehilangan rasanya.

Ia berbalik, berniat kembali ke kamar tanpa mengatakan apa-apa lagi.

"Millie."

Langkah gadis itu terhenti tepat di anak tangga pertama. Ia menoleh perlahan.

Josh masih berdiri di tempatnya, menatap Millie dengan sorot mata begitu tenang.

"Give him some time," ujarnya pelan. "Charlie left because that was his decision. Not because of you."

Millie tidak menjawab. Ia hanya mengangguk kecil, lalu kembali menaiki tangga menuju kamarnya.

****

Sudah hampir tiga bulan sejak Charlie meninggalkan River Oaks.

Musim gugur yang dulu mengantar kepergian Charlie kini telah berganti menjadi musim dingin. Salju mulai turun hampir setiap minggu, menyelimuti halaman rumah Robinson, atap kandang, hingga jalan setapak menuju garasi.

Ada satu hal yang tidak ikut berubah bersama pergantian musim, yaitu kebiasaan Millie duduk berlama-lama di dalam mobil biru pemberian Charlie.

Josh memang sudah mengajarinya menyetir hingga akhirnya Millie berhasil mendapatkan surat izin mengemudi. Setiap sore, mereka berkeliling River County bersama. Josh sabar mengajarkan bagaimana mengambil tikungan, memarkir mobil dengan benar, sampai cara menghadapi jalan yang licin ketika musim dingin datang. Sedikit demi sedikit, Millie mulai terbiasa berada di balik kemudi.

Akan tetapi, begitu ia sudah benar-benar diizinkan mengendarai mobil itu sendiri, Millie justru tidak pernah membawanya ke mana-mana.

Mobil itu lebih sering terparkir rapi di dalam garasi, tetap bersih seperti hari pertama Josh menyerahkan kuncinya pada ulang tahun Millie. Sesekali gadis itu hanya duduk di kursi pengemudi tanpa menyalakan mesin. Jemarinya mengusap pelan lingkar kemudi, memperhatikan setiap detail kecil yang Charlie buat sendiri dengan begitu teliti. Bahkan debu tipis yang hinggap di kap mobil sering kali lebih dulu ia bersihkan sebelum sempat terlihat oleh orang lain.

Josh berkali-kali menolak memberikan nomor ponsel Charlie. Bukan karena ia tidak kasihan pada Millie, melainkan karena ia telah berjanji pada putranya untuk menjaga permintaan itu.

Millie bukannya tidak mencoba mencari jalan lain.

Ia mengirim email untuk Charlie. Berisi ucapan terima kasih serta berbagai pertanyaan tentang kepergian Charlie.

Tidak pernah dibalas.

Millie memilih cara lain, yaitu menulis surat.

Pun tidak pernah ada balasan.

Kenapa?

Kenapa Charlie harus pergi?

Kenapa Charlie memilih menghilang begitu saja dari hidupnya?

Harapan terakhir Millie sempat bergantung pada Thanksgiving.

Ia begitu yakin Charlie setidaknya akan pulang menemui Josh. Tidak mungkin seseorang melewatkan Thanksgiving bersama keluarganya, pikir Millie saat itu.

Namun harapan terakhir Millie pupus ketika Josh mengabarkan bahwa Charlie memutuskan akan tetap tinggal di Seattle pada hari Thanksgiving.

Entah sudah berapa banyak sepucuk surat yang Millie kirim ke alamat baru Charlie di Seattle sana. Ia bahkan menyelipkan gelang hitam yang dulu dibuatnya sendiri. Gelang sederhana dengan inisial C.R. yang selama ini sudah gagal ia berikan secara langsung.

Dan sekarang, Millie cukup yakin gelang pemberiannya sudah berakhir di tempat sampah.

Memikirkan itu saja sudah membuat hati Millie bertambah sesak.

Sore itu salju kembali turun perlahan. Butiran-butiran putih menempel di sisi luar jendela kamar, membuat pemandangan River County tampak nyaris berubah seluruhnya menjadi putih.

Millie berdiri cukup lama di depan jendela sebelum akhirnya beralih ke meja belajarnya.

Di samping kotak kayu berisi surat-surat dari Papa, masih tersimpan rapi sebuah amplop lain yang sudah berkali-kali ia baca selama tiga bulan terakhir.

Dengan hati-hati Millie mengambilnya.

Lihat selengkapnya