"CHARLIE! YOU'RE ON THE NEXT SHOT, WILL YOU?"
Pandangan Charlie terangkat dari layar ponselnya yang sejak beberapa menit terakhir hanya menampilkan beranda Facebook.
Suara David—teman sekelasnya yang malam itu tengah menjadi selebriti utama di pesta rumahnya sendiri—menggema di tengah dentuman musik sambil menunjuk sebuah tong bir raksasa yang dikelilingi sorak-sorai para tamu.
Charlie mematikan layar ponselnya, lalu mengangkat gelas plastik merah berisi gin ke arah David sebagai tanda balasan. Ia hanya melempar senyum tipis tanpa mengucapkan apapun. Charlie kembali meneguk segelas gin di tangannya, melenyapkan sisa senyum yang ada di bibirnya.
"Hey, gorgeous."
Charlie menoleh, mendapati seorang gadis berambut cokelat terang mengambil tempat di sampingnya. Jarak mereka begitu dekat hingga aroma parfum manis dari gadis itu menguar begitu kuat menusuk indra penciuman Charlie.
"Hey, Emma," sapa Charlie singkat sambil membalas dengan separuh senyum.
Emma menyandarkan tubuh ke sandaran sofa, lalu menatap Charlie beberapa saat sebelum terkekeh pelan.
"I've been watching you across the room for almost an hour," katanya dengan senyum menggoda, "Lucunya, di saat semua temanmu sedang menikmati pesta gila-gilaan, kamu justru seperti berharap pesta ini bisa bubar lebih cepat dari harapanmu."
Charlie hanya mengembuskan napas pelan sambil meneguk gin di tangannya. Sulit menjelaskan sesuatu pada orang yang bahkan sama sekali nyaris tidak pernah Charlie ajak bicara di sekolahnya.
"I'll tell you what." Emma menggeser posisi duduknya lebih intim, hingga bahu mereka nyaris bersentuhan. Jemarinya terangkat perlahan, menyentuh garis rahang Charlie dengan senyum yang semakin menggoda.
"Normally, I like making people work hard before I sleep with them." Ia mendekat hingga bibirnya hampir menyentuh telinga Charlie. "But for you... I'll make an exception."
Charlie belum sempat mencerna maksud kalimat itu ketika Emma lebih dulu mencium bibirnya.
Semuanya berlangsung begitu cepat.
Charlie tidak membalas, namun juga tidak mendorong Emma menjauh. Ia hanya membeku, membiarkan primadona nomor satu disekolahnya itu bercumbu dengan Charlie.
Emma semakin memperdalam ciuman mereka, bahkan menyelipkan jemarinya ke rambut bagian belakang Charlie, berharap cowok itu akhirnya memberi respons walaupun hanya sepersekian detik.
Beberapa detik kemudian, Emma menjauh sambil tersenyum puas. Tatapannya menelusuri wajah Charlie sebelum ia berdiri dan mengulurkan tangan.
"Come with me."
Charlie memandang tangan yang terulur didepannya selama beberapa saat.
Mungkin ia seharusnya menolak. Mungkin ia seharusnya pulang saja daripada memaksa diri sendiri duduk ditengah keramaian pesta tanpa benar-benar bisa ia nikmati.
Namun setelah lebih dari delapan gelas gin yang sudah Charlie teguk malam ini, pikirannya terlalu lelah untuk terus mempertanyakan mana keputusan yang benar dan mana yang salah.
Tanpa banyak bicara, Charlie akhirnya berdiri dan membiarkan Emma menggandeng tangannya menembus keramaian pesta menuju lantai dua rumah David.
Di tengah perjalanan, Emma melirik sekilas ke pergelangan tangan Charlie.
"By the way... nice bracelet."
Charlie spontan menunduk. Pandangannya jatuh pada gelang hitam sederhana yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
Gelang hitam dengan simpul sederhana. Gelang dengan dua inisial namanya terukir di bagian tengahnya.
Gelang yang diterimanya dari surat terakhir Millie.
****
Pintu kamar di lantai atas rumah David bahkan belum benar-benar tertutup ketika Emma sudah mendorong Charlie hingga tubuh cowok itu jatuh terduduk di atas ranjang. Gadis itu langsung naik ke pangkuannya, meraih tengkuk Charlie dengan ganas untuk kembali melumat bibirnya tanpa memberi kesempatan sedikit pun Charlie untuk menarik napas.
"Robinson, you have no idea how hot and attractive you are," bisik Emma di sela ciumannya. "I've been keeping an eye on you ever since you transferred to our school."
Charlie membisu, agak kewalahan sebenarnya dengan ciuman buas Emma di pangkuannya. Charlie membiarkan Emma mencium bibirnya lagi sebelum gadis itu akhirnya berhenti dan menatapnya lekat-lekat sambil mulai membuka kancing kemeja Charlie.
"You brought a condom?"
Charlie berkedip beberapa kali, lalu mengusap tengkuknya dengan canggung.
"Uh... I don't know. Let me check first." Ia mengembuskan napas pendek. "And honestly... it's a little hard to check my wallet while you're sitting on me."
Emma tertawa sejenak, lalu turun dari pangkuan Charlie secepat kilat,
"Fair enough."
Charlie segera berdiri, "And I'm gonna use the bathroom first to wash up a little. I just need a minute."