Charlie and Millie

Farah Maulida
Chapter #12

The Voicenote That Leads to You

Sejak Charlie memutuskan untuk berhenti melawan semesta dan membiarkan Millie perlahan merangkak masuk ke dalam hidupnya, Charlie tahu segalanya yang sudah ia bangun selama ini tidak akan lagi sama.

Hanya saja, Charlie tidak pernah menyangka perubahannya akan datang lewat hal-hal sesederhana sebuah pesan singkat.

Iya, pesan singkat.

Hari-hari kelamnya di Seattle perlahan mulai memudar semenjak ia membuka obrolan dengan adik tirinya itu. Charlie mulai menyadari bahwa Seattle sebenarnya tidak sesuram yang ia pikirkan selama ini.

Charlie tidak lagi bangun setiap pagi dengan harapan hari itu akan cepat berlalu. Beban yang mencokol di dalam dadanya perlahan mengikis, membuat menarik napas jadi lebih mudah.

Lucunya, Charlie tidak pernah sadar kapan ia berhenti menunggu akhir hari. Yang ia tunggu sekarang hanyalah satu notifikasi dari Millie. Terutama, notifikasi voicetone dari gadis itu yang sering memenuhi kolom percakapan mereka.

Tidak ada yang luar biasa penting. Namun, entah bagaimana, cerita-cerita sederhana Millie selalu menjadi bagian yang paling Charlie tunggu setiap harinya.

Yang tidak pernah Millie sadari, justru ocehan-ocehan random, tawa cerianya, dan caranya menemukan hal lucu dari kejadian paling sepele melalui setiap pesannya telah mencairkan sisi paling dingin dalam diri Charlie.

Percakapan Facebook mereka kemudian bergeser menjadi pesan singkat, disusul panggilan telepon yang semakin sering. Sampai akhirnya, Millie menemukan kebiasaan baru. Setiap kali Charlie tidak sempat mengangkat teleponnya, gadis itu akan meninggalkan sebuah voicenote.

Isi voicenotenya sendiri masih tidak begitu penting.

April 13 — 8:09 PM

"Charlie... Aku baru saja keluar dari perpustakaan. Dan aku melihat seseorang yang cara berjalannya persis seperti kamu. Aku bahkan hampir memanggil namamu. Untung tidak jadi. Karena setelah kulihat lagi... orang itu tingginya sekitar lima puluh tahun. Maksudku... Umurnya. Bukan tingginya. Oke. Aku membuat semuanya jadi lebih buruk. Forget it. Good night."

Sepele, bukan? Tapi justru ini yang selalu Charlie tunggu. Hal pertama yang akan dilakukan Charlie begitu kelasnya usai. Ia akan memeriksa apakah pesan dari Millie yang begitu di harapkan Charlie sudah menunggu di ponselnya.

Charlie akan mendengarkan dengan saksama, memutar berulang kali, dan tersenyum-senyum sendiri didepan lokernya yang terbuka atau di meja kafetaria. Kadang-kadang teman Charlie hanya bisa menggelengkan kepala kalau Charlie sudah asyik sendiri dengan ponselnya.

April 22 — 7:18 PM

"Charlie. Aku punya satu pertanyaan bagus, dan sangat penting. Sangat, sangat penting. Semoga saja setelah ini kamu tidak langsung memblokirku. Kalau iya, aku terpaksa harus membeli tiket ke Seattle dan menggedor pintu rumahmu agar kamu membuka blokirannya. Oke, aku mulai bicara melantur.

Kalau seekor sapi berdiri di padang rumput, terus hujan turun, apakah itu tandanya si sapi sudah mandi? atau cuma basah saja?

Oke. Aku baru sadar kenapa Hannah bilang aku tidak boleh menelepon orang setelah eksperimen di laboratorium biologi selama tiga jam tanpa istirahat. Sepertinya otakku memang sudah konslet. Ignore me. Ciao!"

Untuk voicenote tentang sapi ini, dahi Charlie mengernyit sepanjang voicenote Millie diputar. Cowok itu benar-benar mencoba mencari hubungan logis dari pertanyaan absurd Millie yang satu ini.

"She's ridiculous." gumam Charlie seraya menggelengkan kepala. Ia menyandarkan punggung ke sofa sambil memandang langit-langit kamarnya. Kepalanya mulai membayangkan setiap cerita Millie didalam voicenote barusan.

Beberapa detik kemudian, tawa Charlie merobek kesunyian dalam kamarnya. Bukan tawa singkat, melainkan tawa geli hingga membuat sekujur tubuhnya bergetar hebat.

Voicenote berikutnya datang keesokan malam. Saat Charlie tengah berada dalam kafe bersama teman-temannya.

Charlie harus menyingkir secepat kilat begitu ponselnya berdenting, memunculkan nama Millie.

April 28 — 7:42 PM

"Charlie, I have a bad news again. It was involved our beloved housekeeper, our dearest Magda. Tadi aku mencoba memasak sesuatu di dapur. Tentu saja di dapur, tidak mungkin di garasi mu, kan! Tapi lima menit kemudian alarm kebakaran berbunyi hingga membuat Magda luar biasa panik.

But don't you worry. Your house's still there. The only thing that burn down is my dignity. Magda sekarang jadi melarangku menyentuh apapun yang ada di dapur tanpa pengawasannya. Dia berlebihan sekali bukan? Tapi aku tetap saja menyayanginya. Hanya dia yang memperbolehkanku menyimpan Indomie di kabinet rahasia yang Magda buat sendiri di belakang lemari dapur supaya tidak ketahuan Mama. Eits, ini jadi tidak rahasia lagi karena aku sudah memberitahumu.

Anyway, have a good Saturday night, brother. Your dad seems missing you. Call him when you're not busy, okay?"

Charlie terkekeh sesaat sambil memijat pelipis. Ia mengulang isi pesan suara Millie sekali lagi. Lalu sekali lagi, hingga Charlie terlalu lama berdiri didepan jendela kafe, membuat temannya mengetuk kaca untuk menyadarkan Charlie bahwa teman-temannya masih menunggu didalam kafe.

Voicenote favorit Charlie pun datang seminggu kemudian. Tanpa salam. Tanpa basa-basi. Dan tetap tidak penting isinya.

MARCH 12 — 8.25 PM

"Charlie, lagi-lagi, tadi aku melihat seseorang memakai jaket yang mirip punyamu. Selama tiga detik aku benar-benar mengira itu kamu, kupikir kamu hari ini kembali dari Seattle dan langsung berbaik hati untuk menjemputku ke sekolah. Naif sekali aku, ya? Aku bahkan sempat melambaikan tangan. Bagian paling memalukannya, orangnya membalas. Terus aku sadar, ternyata yang melambaikan itu guru Matematikaku. Jadi... sekarang beliau mungkin mengira aku anak paling ramah se-antero Chilton. Memalukan sekali, ya Tuhan."

Kali ini tawa Charlie menggema di dapurnya ketika ia sedang makan malam sendirian.

Ibu Charlie, yang baru saja pulang setelah menjalani shift panjang di Rumah Sakit Elizabeth Memorial, mengerutkan kening saat mendapati putra semata wayangnya sibuk tertawa sendiri.

"Well, this is new."

Charlie spontan menoleh kearah ibunya.

"Apa?"

Lihat selengkapnya