Seperti kata ayah Charlie beberapa waktu lalu di garasi, pertengkaran antara kakak dan adik adalah hal yang sangat wajar terjadi.
Dan untuk pertama kalinya semenjak perdamaian dua kakak beradik tiri itu, mereka kembali terlibat dalam pertikaian cukup hebat. Pertengkaran yang sangat tidak Charlie harapkan.
Yang jadi pertanyaan, benarkah pertengkaran ini murni soal kakak-adik? Soal Subaru buatan Charlie yang tidak dirawat dengan benar oleh Millie? Atau jangan-jangan ini hanya kedok dari besarnya rasa cemburu Charlie atas apa yang dialami Millie belakangan ini?
"Dua hari lalu Millie diantar pulang oleh teman sekolahnya. Laki-laki, namanya Keith. Quarterback andalan Chilton. Sopan sekali anaknya, baik pula. Sampai-sampai mama Millie mengajaknya makan malam..."
Charlie tidak lagi mendengar kelanjutan cerita ayahnya di telepon. Pikirannya telah berhenti pada kalimat 'diantar teman sekolahnya, laki-laki' ayahnya.
Ia baru tersadar dan berdeham pelan ketika menyadari ayahnya sudah selesai bercerita di ujung sana.
"What happened with her car? She didn't drive it yesterday?"
"Ooh, itu," ayah Charlie menjeda sejenak, terdengar seperti baru saja membuka pintu, "sepertinya kemarin ada masalah dengan mobil buatanmu. Sudah dua hari ini Millie tidak mengendarainya ke mana-mana. Ayah sudah menawarkan untuk membawanya ke bengkel dekat sini, mengingat kemampuan ayah soal otomotif tidak secanggih kamu. Tapi Millie bilang biar dia saja yang membawanya nanti hari Sabtu. Sepertinya dia merasa tidak enak hati karena kecerobohannya sendiri."
Charlie sendiri tidak tahu pasti apa yang membuat hatinya begitu gelisah hari itu. Entah karena kabar dari ayahnya bahwa Millie begitu ceroboh, atau karena ia baru mengetahui ada seorang laki-laki yang diizinkan ayah Charlie masuk ke rumahnya di River Oaks, mengantar Millie hingga ikut makan malam bersama ayah Charlie dan ibu tirinya.
Satu jam setelah panggilan telepon dengan ayahnya berakhir, Charlie mendengar ponselnya bergetar di dekat tempat tidur.
Biasanya, Charlie akan langsung bersemangat setiap kali melihat nama Millie tertera di layar ponselnya.
Namun kali ini, Charlie tidak melakukan apa-apa. Ia hanya membiarkan ponselnya bergetar sepanjang panggilan berdering, hingga layarnya meredup dan meninggalkan satu notifikasi panggilan tak terjawab.
Charlie mengembuskan asap rokoknya yang sedang ia hisap ke langit-langit kamar. Ia lalu memutar volume pada pemutar musiknya kencang-kencang sampai batas maksimal, membiarkan lagu Afterlife dari Avenged Sevenfold menggema sangat keras hingga membuat dinding kamarnya bergetar.
Tidak lama kemudian, sebuah pesan suara dari Millie masuk.
Untuk pertama kalinya selama beberapa bulan terakhir mereka rutin berkomunikasi, Charlie langsung menghapus pesan suara yang baru masuk dari adiknya itu tanpa mau mendengarkannya terlebih dahulu.
****
(Tiga hari sebelumnya...)
"Back for another pile of chocolate?"
Millie meletakkan tiga batang Toblerone ke atas meja kasir seraya mengernyitkan dahi pada cowok tinggi berambut agak pirang di hadapannya.
"I have tons of school projects with tight deadlines. I need some sugar to cheer me up. Anyway, aren't you supposed to be at college right now?" Millie melayangkan tatapan menyelidik pada cowok bernama Adrian Hastings didepannya, yang kini tengah sibuk memindai cokelat pesanan Millie.
"Men like me don't do college stuff all the time, young lady. I have another life too." cetus Adrian. Wajah sedatar suaranta saat bicara seperti biasanya, membuat Millie jadi mati-matian menahan tawa.
Baru saja Millie hendak menyerahkan selembar uang dua puluh dolar, ia mendadak teringat satu barang yang terlewat.
"Ya Tuhan, aku lupa membeli Sunny D," ujar Millie pada Adrian, sedikit panik.
Adrian mendesah pelan. "Makanya, lain kali di tulis saja apa saja yang harus kamu beli sebelum kesini. Stoknya tinggal satu. Di ujung lorong kedua, dekat deretan minuman soda. Grab that while it still there."
Millie mengangguk dan bergegas mengambil sebotol jus jeruk pesanan ibunya. Saat Millie tengah kembali, pintu minimarket Sookie's terbuka dengan kasar, membuat kesunyian minimarket jadi terpecah oleh serombongan gadis yang masuk sambil berbincang cukup heboh.
"Party at my house tonight, 7 PM, girls!" seru seorang gadis berambut lurus berkilau, yang langsung disambut pekikan heboh teman-teman disekitarnya.
"Mana mungkin kami lewatkan! Your Spring Break Party is the only bomb thing everyone has been waiting for!" sahut gadis lain di sebelahnya tak kalah nyaring.
Gadis tersebut kemudian, sedangkan satunya lagi masuk menyusuri lorong-lorong barang. Dua gadis itu berdiri di depan meja kasir, sengaja menggoda Adrian terang-terangan sambil tersenyum manis.
"Kalau kalian pikir rayuan ini bisa meloloskan kalian untuk membeli minuman keras, simpan saja harapan kalian, Ladies. No alcohol allowed under 21," cetus Adrian dingin, bahkan tanpa sudi melirik kedua gadis centil di depannya.
Millie yang kini berdiri tepat dibelakang dua gadis itu tidak sengaja meloloskan kekehan melihat respon kaku Adrian yang menurutnya sangat lucu dan menghibur.