Ini adalah percobaan ketiga kalinya bagi Millie untuk menghubungi Charlie hari itu. Dan jika dihitung dengan pesan suara yang dikirimkannya tadi pagi, ini sudah menjadi voicenote keempat dalam kurun waktu tiga hari yang dilewatkan Charlie tanpa ada jawaban dari kakak tirinya itu sama sekali.
"Damn it," Millie mengutuk layar ponselnya dengan lirih ketika panggilan itu kembali dialihkan secara otomatis ke kotak pesan suara.
Millie memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket dengan gerakan kasar seraya mengembuskan napas panjang.
Ia segera menyalakan mesin Subaru-nya, memutuskan untuk menuju ke satu-satunya tempat yang ia yakini bisa membantunya keluar dari masalah ini.
Adrian sedang sibuk menyusun beberapa barang di etalase ketika lonceng di atas pintu minimarket berdentang.
"Well, hello—"
"I need your help," potong Millie tanpa basa-basi.
Adrian mengerjapkan mata sejenak, lalu mengembuskan napas pelan. Tanpa perlu penjelasan panjang lebar, ekspresi panik di wajah Millie sudah cukup membuat Adrian menebak alasan gadis itu datang mencarinya.
"Let me guess. Your car?"
Millie mengangguk cepat.
"Aku ingat kamu beberapa kali membantu Charlie di garasi saat merakit mobil ini. Katakan saja aku sok tahu, tapi aku yakin kamu bisa membantuku menghilangkan goresan menyedihkan di bodi mobilku."
Adrian menurunkan tangannya, lalu berdiri berkacak pinggang di depan Millie.
"Millie, apa yang ada di mobilmu itu bukan sekadar coretan tinta atau noda cat yang bisa dihapus dengan cairan pembersih. Samantha benar-benar merusaknya dengan pisau lipat kemarin. Satu-satunya cara untuk memperbaikinya adalah dengan mengecat ulang bodi mobilmu itu."
Adrian menjeda kalimatnya, menatap Millie dengan serius. "Dan untuk melakukannya, aku harus bertanya pada Charlie cat apa yang dia gunakan agar warnanya tidak timpang dengan warna dasar. Kamu tahu sendiri bagaimana Charlie. Begitu aku bertanya tentang detail warna mobilmu, dia pasti akan curiga dan bertanya kenapa aku tiba-tiba tertarik. Lalu setelah itu dia akan tahu semuanya, dan—"
"Okay, stop. Stop it," Millie mengibaskan tangan di depan wajah Adrian, memotong kalimat cowok itu dengan frustrasi. "I know what you mean."
Adrian mengembuskan napas letih, memilih untuk tidak mendebat Millie lebih jauh. Ia menatap gadis di depannya yang tampak begitu terbebani.
"Begini saja," ujar Adrian akhirnya, melunakkan nada suaranya. "Aku akan mencoba memperbaiki mobilmu dan mencari tahu sendiri jenis cat yang digunakan Charlie tanpa harus menghubunginya. Untungnya, di River Oaks ini ada beberapa kenalanku yang cukup andal dalam urusan pengecatan otomotif. Tapi, Millie... ini akan memakan biaya yang tidak sedikit. Do you prepared for the money?"
Millie menautkan kedua tangannya, sempat ragu sejenak. Namun rasa bersalahnya pada mobil pemberian Charlie jauh lebih besar daripada apa pun.
Ia pun mengangguk, meyakinkan diri. "Lakukan saja apa yang harus kamu lakukan. Don't worry about the money. I'll take care of everything."
Adrian mengangguk samar sebagai tanda persetujuan.
Ia memperhatikan Millie yang mulai melangkah mundur beberapa langkah untuk keluar dari Sookie's. Namun sebelum jemari gadis itu menyentuh gagang pintu, Adrian memanggilnya lagi.
"Millie."
Millie menoleh. "Yes?"
Adrian menyambar satu batang Toblerone dari meja kasir dan melemparkannya ke arah Millie. Gadis itu refleks menangkapnya dengan raut bingung.
"Cheer up, will you? We're gonna fix this together," ujar Adrian dengan nada tenang yang menyejukkan.
Millie tertegun sejenak menatap cokelat di genggamannya. Sudut-sudut bibirnya perlahan terangkat, mengulas senyum tulus pertamanya hari itu. Ia mengangguk pelan kepada Adrian, lalu berbalik dan melangkah keluar dari minimarket.
****
Panggilan telepon dari Millie kembali muncul di hari keempat, tepat ketika Charlie baru saja menyelesaikan tugas sekolahnya yang sedang menumpuk malam itu.
Seperti yang dilakukannya selama beberapa hari terakhir, Charlie hanya diam terpaku. Ia menatap layar ponselnya yang bergetar di atas meja belajar, menampilkan nama Millie yang berkedip-kedip.
Sebenarnya, ada dorongan kuat dari dalam dirinya untuk menyerah pada ego dan menjawab panggilan itu. Ia merindukan suara gadis itu. Namun, ingatan tentang laporan ayahnya beberapa hari lalu kembali melintas di kepalanya.
Ponselnya berhenti bergetar, menyisakan satu notifikasi panggilan tak terjawab di layar yang meredup. Charlie baru saja hendak mengembuskan napas lega ketika ponselnya kembali bergetar hebat di tempat yang sama.
Millie menghubunginya lagi.
Dan kali ini, ketahanan Charlie benar-benar runtuh.
Charlie mengerang frustrasi menatap langit-langit kamarnya, lalu menyambar ponselnya secepat kilat dan menekan tombol hijau.
"Ha—"
"Charlie! Oh my God, you answering," suara Millie langsung memotong di ujung telepon, terdengar panik sekaligus lega yang amat sangat.
Untuk sesaat, Charlie terpaku. Entah bagaimana, rasa kesal dan sesak yang memenuhi dadanya selama empat hari ini mendadak menguap begitu saja hanya karena mendengar suara cemas gadis itu.
"Charlie, are you alright? Apa kamu sakit? Kenapa tidak menjawab teleponku sama sekali?" tanya Millie bertubi-tubi, nada suaranya dipenuhi kekhawatiran yang tulus.
Charlie tidak sadar ketika seulas senyum tipis sempat terukir di bibirnya mendengar perhatian Millie. Ia baru saja membuka mulut untuk menjawab dengan normal, ketika kalimat ayahnya tentang cowok quarterback asal Chilton kemarin itu kembali berdenging di telinganya, merenggut seluruh kehangatan dalam dirinya.
"Charlie? Kamu masih di sana, kan? Did I do... something wrong?" suara Millie merendah, terdengar tidak pasti.
"What happened to your car?"
Charlie akhirnya mendengar suaranya sendiri melontarkan pertanyaan tersebut. Nadanya terdengar dingin dan tajam. Untuk satu detik lamanya, ia sempat merutuki dirinya sendiri karena bersikap sekaku itu.
Di seberang sana, keheningan sempat tercipta.
"Bagaimana... bagaimana kamu bisa tahu ada sesuatu yang terjadi pada mobilku?" Millie balik bertanya dengan nada bingung.
"Dad told me," ujar Charlie pendek. Terdengar helaian napas kecil dari Millie di ujung telepon.
"Ini bukan sesuatu yang fatal, Charlie. Aku juga sudah berencana untuk memperbaikinya minggu ini. Hanya sedikit kecerobohan—"
"Sedikit?" potong Charlie, suaranya naik satu oktaf. Ia tidak bisa lagi menahan ketegangan yang mendera kepalanya. "Sedikit kecerobohan apa yang membuat mobilmu sampai tidak bisa kamu kendarai lagi, Millie? Kecerobohan macam apa yang membuatmu terpaksa harus diantar pulang oleh seorang laki-laki?"
Ada jeda yang cukup lama setelah Charlie melemparkan kalimat penuh sindiran itu. Udara di antara mereka mendadak terasa mencekik.
"I'm sorry, Charlie. It was an accident," suara Millie bergetar, mencoba mempertahankan penjelasannya. "Aku sama sekali tidak bermaksud untuk merusak mobil itu. Dan aku sudah bilang, aku bertanggung jawab penuh untuk memperbaikinya secepat mungkin."
Charlie memejamkan mata dan menekan pangkal hidungnya dengan kuat, merasa sama sekali tidak puas dengan jawaban defensif dari Millie.