Charlie and Millie

Farah Maulida
Chapter #15

Three Second to the Sky

Millie suka sekali kembang api.

Setiap perayaan Hari Kemerdekaan tanggal 4 Juli, Millie selalu berdiri di halaman depan rumah, memandangi langit malam Texas yang meledak oleh warna-warni kembang api dengan mata berbunga-bunga.

Sejak usianya tiga belas tahun—tahun pertamanya saat pindah ke Texas—gadis itu langsung jatuh cinta pada pendar cahaya yang menghiasi langit malam setiap Hari Kemerdekaan Amerika. Sejak saat itu pula, tanggal 4 Juli selalu menjadi hari yang paling dinantikannya sepanjang tahun. Selain rumah Uncle Josh sering dijadikan tempat berkumpul para anggota keluarga Robinson yang lain, Uncle Josh dan Ibunya juga akan membeli kembang api dalam jumlah tak masuk akal, menjadi orang yang paling bersemangat meramaikan suasana.

Dan di saat itulah, Charlie bisa leluasa melihat senyum dan tawa Millie tanpa diketahui siapa pun.

Di saat semua orang sibuk menatap langit dan terpesona oleh gemuruh kembang api, Charlie hanya sibuk menikmati satu-satunya pemandangan indah yang sejak tadi jadi yang paling sibuk memandangi kembang api yang memenuhi langit malam.

Senyum Millie. Senyum gadis itulah yang di amati Charlie dari kejauhan. Kembang api yang memenuhi langit di atas kepalanya sih sudah jelas kalah saing dengan tawa memesona gadis itu.

Namun, sekarang bahkan belum masuk bulan Juni. Sekarang baru pertengahan Maret, dan musim semi baru saja tiba. Bunga-bunga liar bermekaran cantik dan harum di sekitar pelataran rumah.

Sangat indah. Tapi sungguh timpang dengan kondisi hati Millie.

Millie juga mendadak jadi random sekali ingin menyalakan kembang api agar suasana hatinya yang begitu payah semingguan ini dapat sedikit terobati.

"Can we just light some fireworks even though it's not the 4th of July yet?" tanya Millie suatu sore pada Magda di dapur yang sedang mencuci sayur asparagus.

Magda menaikkan sebelah alisnya. "Of course you can. What are we celebrating?"

Millie mengembuskan napas panjang hingga beberapa helai poni di dahinya ikut terangkat. "My sorrow."

Magda mengulum senyum, berusaha setengah mati menahan tawa agar tidak menyakiti hati gadis remaja yang sudah begitu ia sayangi seperti cucunya sendiri itu.

Suara pintu depan yang terbuka menghentikan obrolan mereka, disusul langkah kaki Mama Millie yang baru kembali dari tempat kerja.

"Oh, Magda, good you're here. Have you prepared—"

"All prepared, Ma'am!" potong Magda dengan suara sedikit meninggi, bahkan sebelum Mama Millie menyelesaikan kalimatnya.

Millie mengernyit bingung, menatap mereka bergantian. "Prepared for what?"

Mama Millie menghentikan langkahnya, menatap putrinya dengan senyum lembut yang serba salah.

"Ruang kerja Ayah Charlie, Sayang. Kata Uncle Josh, berhubung Charlie dipastikan tidak akan pulang ke River Oaks dalam waktu dekat, dia berencana mengubah kamar Charlie sementara waktu menjadi ruang kerjanya."

Millie tertegun seketika mendengar ucapan tak terduga Mama nya. Dengan pikiran agak mengawang, ia meraih kotak sereal cokelat di atas lemari makanan dan meraih segenggam untuk dimakannya tanpa susu.

Apakah Charlie benar-benar tidak akan pernah kembali ke River Oaks, sampai Uncle Josh tega mengubah kamar putranya sendiri begitu saja?

"Did Uncle Josh even ask Charlie about it? What happened to his own office room?" tanya Millie pelan, berusaha menyembunyikan getar kecewa dalam suaranya.

"Katanya segala tumpukan berkasnya sudah memenuhi ruang kerjanya yang sekarang. He needs more space to thrown that pile away into another room. And, yes of course he did ask Charlie. It was actually Charlie's idea," jawab Mamanya santai sambil berjalan menuju lemari es untuk mengeluarkan beberapa bahan makan malam.

Baik Magda maupun Mama Millie sama sekali tidak menyadari pusaran rasa sakit yang menghantam dada Millie mendengar jawaban Mamanya.

Semuanya ide Charlie...

Semuanya ide Charlie...

"Memangnya Charlie tidak memberitahumu? Kalian masih sering mengobrol, kan?" tanya Mama Millie lagi dari balik pintu lemari es, membuyarkan lamunan Millie.

Millie hanya bergumam samar.

Mama nya tidak tahu apa-apa soal pertengkaran sengit minggu kemarin itu. Saat tahu hubungan kedua anak mereka mulai membaik beberapa bulan belakangan, Mama Millie jadi orang pertama sekaligus yang paling bahagia melihat progres kedekatan Millie dengan kakak tirinya itu. Millie jelas tidak tega jika harus menghancurkan kebahagiaan Mama nya dengan mengatakan hubungan mereka retak lagi hanya karena undangan makan malam dadakan Mama nya pada Keith kemarin itu.

Millie menggeleng pelan, mengusir kabut di kepalanya lalu mengulas senyum tipis dipaksakan.

"Sini sayurnya, Ma. Biar Millie bantu potongin."

****

Niat Millie untuk segera masuk ke rumah setelah memarkir Subaru-nya yang baru diambil dari garasi Adrian mendadak menguap ke udara saat di dapatinya seorang gadis berambut pirang panjang tengah berdiri tepat di depan teras rumah Millie.

Samantha berdiri kikuk, sambil mengulas senyum tak kalah canggung. Sangat berbeda sekali dengan wajah Samantha yang Millie lihat di Sookie's kemarin itu.

"Ha... Hai..." Samantha mendekat dengan langkah ragu serta tergagap.

"Hai..." sahut Millie waspada, mencoba membaca situasi. Takut-takut gadis didepannya ini berulah lagi.

Samantha menautkan jari-jarinya di depan dada, tampak gelisah. Ia mengibaskan rambut pirangnya ke belakang sebelum menatap Millie lurus-lurus.

"Aku... Aku ingin minta maaf... atas apa yang kulakukan kemarin... pada mobilmu."

Millie terpaku. Batinnya ingin tertawa karena sungguh tidak percaya mendengar kalimat itu bisa lolos dari mulut seorang Samantha.

Millie berdeham sejenak untuk menguasai diri agar tidak kelepasan tertawa, "It's okay, Samantha."

"No, you don't understand. I am... really, really sorry," potong Samantha cepat dengan nada nyaris terdengar memohon.

"It's okay, really. Let's forget about it."

Samantha sekilas menatap Subaru di belakang punggung Millie, lebih tepatnya ke bodi mobilnya yang sudah kembali mulus.

Samanta balik menatap Millie. "You fixed the car already?"

Millie mengangguk singkat. "Adrian did it. Dia ternyata jago juga, seperti pacarmu."

Samantha menyemburkan kekehan pelan. "Boyfriend? You mean, Charlie? Really? He's not my boyfriend, Millie."

Millie menghela napas letih. "Well, everyone kept saying that. Not you, not Charlie, not even Adrian. But from what I saw, there was clearly something more than just a friendship between you two." Millie buru-buru menambahkan, "But that's totally fine. Seriously, I'm happy for both of you."

Samantha menatap Millie seolah gadis di hadapannya ini baru saja mengutarakan hal paling konyol di dunia.

Lihat selengkapnya