Charlie and Millie

Farah Maulida
Chapter #16

Strawberry Shortcakes on Bonfire

Bagi Millie, menyambut kepulangan Charlie adalah menyambut kembali sosok seorang kakak yang sudah lama begitu ia nantikan kehadirannya di rumah ini.

Andai saja Charlie bisa berpikir sedemikian sama dengan Millie.

Charlie mengira pergi sejauh mungkin sampai ke ujung negara bagian sana adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan mereka berdua. Namun jarak yang Charlie ciptakan justru malah membuatnya semakin dekat dengan Millie.

Alih-alih memudarkan perasaannya, Charlie malah jadi semakin rindu dan semakin jatuh cinta pada adik tirinya itu setiap hari.

Jadi buat apa lagi ia tetap di Seattle? Sepertinya pilihan terakhir Charlie saat ini adalah berdamai saja dengan kenyataan pahit yang ada dan memikirkan bagaimana caranya ia tidak mati muda karena harus terus mengorbankan perasaan setiap kali berada didekat Millie.

"Hi, sister..."

Sial, Charlie lebih baik menikam dadanya sendiri saja dengan belati dibanding harus menyebut gadis pujaannya itu dengan sebutan Adik.

"You looked... Charlie oh my God!"

Dunia Charlie nyaris runtuh saat ia tidak mengantisipasi apa yang dilakukan Millie sedetik setelah gadis itu kehilangan kata-kata saat berhadapan dengan Charlie.

Millie memekik kegirangan, lalu melompat kegirangan untuk memeluk leher Charlie hingga membuat cowok itu dengan sigap meraih pinggang Millie.

"Charlie, I'm so happy you're back home." ujar Millie begitu dekat di telinga Charlie.

Hati Charlie berdesir hebat. Ini pertama kalinya mereka berada sedekat ini. Saling bersentuhan.

Millie tidak akan pernah tahu bahwa tubuhnya yang mendekap erat Charlie adalah mimpi terbesar Charlie yang selalu cowok itu bayangkan setiap hari.

Charlie rela memberikan apa saja yang ia miliki di dunia ini jika itu berarti ia bisa memberhentikan waktu sejenak, supaya Charlie bisa memeluk erat Millie lebih lama lagi.

****

"Charlie, Homecoming Bonfire at River Oaks High. You coming?"

Charlie sedang sibuk mengotak-atik sepeda motor tua peninggalan ayahnya di dalam garasi—suasana dan aroma oli yang sudah lama begitu ia rindukan—ketika dua teman sekolahnya di River Oaks High, Brian Higgs dan John Denver, mendadak muncul tanpa diundang.

Charlie melempar kunci pas ke atas tumpukan peralatan mekaniknya, lalu menyambar kain lap setengah kotor di atas meja kayu untuk membersihkan kedua tangannya yang berlepotan oli hitam.

"Is that still a thing in here?" Charlie terkekeh pelan, menyandarkan pinggulnya di tepi meja kerja sebelum melempar kain lap itu kembali.

"Dude, you've only been gone for a year, not a century! Bagaimana? Semua orang di sekolah sudah heboh menantikan kehadiranmu begitu kami tahu kamu kembali ke River Oaks."

Charlie meraih sekotak rokok di atas meja, mengambil sebatang untuk ia selipkan di bibir, lalu menyalakan pemantik api.

"Who even told you guys I was back?"

"Siapa lagi kalau bukan si Hastings? Lebih tepatnya, adiknya yang tergila-gila padamu itu. Siapa namanya?" Brian menoleh pada John di sebelahnya, meminta konfirmasi.

"Stephanie,"

"Nah, itu! Juniormu yang satu itu heboh sekali memberitahu semua orang di koridor kalau kamu sudah pulang ke River Oaks. Beritanya bahkan sudah menyebar sampai ke telinga Samantha."

Charlie menghisap dalam-dalam rokok di tangannya, lalu menghembuskan asapnya perlahan ke udara malam di luar garasi.

"Don't bring up that blonde's name again, man."

"Ahh... I heard the rumors, too," ujar Brian dengan nada menggoda.

Charlie mengerutkan keningnya, menatap Brian tajam. "What rumor?"

"Soal kamu yang mengamuk luar biasa pada Samantha di telepon, gara-gara ulahnya yang merusak mobil adik tiri cantikmu itu."

Charlie menghisap rokoknya sekali lagi, lebih dalam dari sebelumnya. Ada percikan kekesalan yang tersulut di dadanya saat mendengar temannya menyebur Millie seperti itu.

"Stop calling my sister like that."

Baik Brian maupun John sama-sama menoleh dan bertatapan terkejut.

"Your sister? Really? Now you call her as your sister? Wow, Charlie," Brian bersedekap, "being away for a while has really softened your heart."

Charlie mendengus dingin. "What do you mean?"

"Baru kali ini aku mendengarmu mau menyebut gadis itu adalah adikmu. Biasanya, untuk menyebut namanya saja setiap kali kami kemari, kamu tidak sudi."

Charlie terdiam. Tenggorokannya mendadak terasa kering. Ada rasa bersalah yang menyengat saat diingatkan kembali betapa buruk dan kasar sikapnya pada Millie tahun lalu.

"Charlie! Charlie!"

Teriakan Millie menggema dari dalam rumah, memutus keheningan percakapan Charlie bersama kedua orang temannya di dapur.

Tak lama kemudian, sosok gadis yang sedang menjadi topik pembicaraan muncul di ambang pintu sambil berlari kecil dengan napas terengah.

"Char—oh, I'm sorry, I don't know you have company. I'll come back later—"

"No, it's okay," potong Charlie agak berseru, refleks menahan kepergian Millie. "What is it?"

"Ooh, itu... Aku dan Mama mau ke supermarket untuk membeli bahan makanan. Tadi Mama tanya, kamu mungkin ingin meminta dimasakkan apa untuk makan malam nanti? Mama bilang harus cepat-cepat karena beliau sudah menunggu di dalam mobil."

Charlie bertolak pinggang, mengamati Millie sambil terkekeh pelan.

"What do you want to eat tonight, Millie?" tanya Charlie lembut, sama sekali tidak menyadari wajah kedua temannya di belakang yang saling berpandangan sambil melongo heran.

Millie mengetuk-ngetukkan jemarinya di kusen pintu sambil berpikir. Ia lalu mendesah pelan. "Ah, kalau mengikuti mauku, aku takut kamu tidak akan suka."

Charlie membuang puntung rokok ke dekat kakinya lalu menginjaknya sampai padam. Ia terkekeh lagi.

"Anything you eat, Millie. I'll eat whatever you want tonight."

"Really? Even if I wanted to eat salted stinky fish with sambal—which you usually really hate the smell of?"

Lihat selengkapnya