Charlie and Millie

Farah Maulida
Chapter #17

The Dead Keykeeper

"Millie, hai..."

Millie berbalik cepat mendengar namanya dipanggil. Matanya langsung berbinar saat mengenali sosok gadis tak asing yang kini berdiri didepannya dengan senyum lebar yang begitu manis.

"Oh, finally... wajah yang kukenal," ujar Millie lega pada Stephanie Hastings.

"Sebenarnya sejak tadi aku mau menghampirimu, tapi melihatmu dikerumuni teman-teman Charlie, aku jadi sungkan untuk mendekat," balas Stephanie seraya tersenyum mengerti.

Millie terkekeh pelan. Ia melirik sekilas ke belakang punggung, dimana Charlie sedang tertawa bersama kawan-kawannya di dekat api unggun. Walau berada di tengah keramaian, setiap beberapa menit sekali pandangan Charlie akan terus bergulir ke arah Millie, memastikan gadis itu masih tetap berada dalam jangkauan matanya.

"Ada apa dengan Seattle sampai bisa mengubah sikap dingin Charlie jadi berubah sehangat itu padamu, Millie? Seingatku, dulu dia bahkan tidak mau berada di dalam satu ruangan yang sama denganmu?"

Millie mengangkat kedua bahunya seraya tertawa pendek. "Aku juga tidak tahu. Tapi selama di sana, kami jadi sering mengobrol. Anyway, sudah lama sekali kita tidak bertemu. Bagaimana kabarmu? Apakah Adrian sudah kembali ke Austin untuk menyelesaikan kuliahnya?"

Stephanie memutar matanya sambil mendengus malas.

"Ah, kakakku itu selalu punya seribu alasan setiap kali Ayah menyuruhnya kembali ke kampus. Katanya, dia sudah terlanjur jatuh cinta setengah mati dengan minimarket kami. Lagipula, dia bilang aku sama sekali tidak bisa diandalkan untuk memegang Sookie's dan mengurus inventaris toko sendirian selama dia berkuliah."

Stephanie bersedekap di depan dada. Millie juga menyadari setiap kali Stephanie bicara padanya, sudut mata gadis itu selalu melirik kearah kakak tirinya yang masih sibuk mengobrol di seberang sana.

"Apakah dia benar-benar kembali ke River Oaks sepenuhnya, Millie? Atau dia kembali untuk Spring Break saja?" tanya Stephanie pelan. Kedua pipinya tampak bersemu di bawah kilatan unggun.

"Um... I think so. Why?"

Lirikan mata Stephanie kini jatuh pada Millie. Kemudian ia mengulas senyuman penuh arti.

"I think you know why, Millie. Didn't my brother tell you how I feel about Charlie?"

Millie tidak langsung menjawab karena mendadak saja tenggorokannya jadi terasa kering. Entah mengapa, kini mengetahui ada dua gadis yang terang-terangan mendambakan kakak tirinya membuat dada Millie mulai dirayapi sedikit kegelisahan.

"Berarti kamu bersaing dengan Samantha," timpal Millie berusaha terdengar santai. Tapi ucapannya barusan justru sukses membuat wajah Stephanie menegang seketika.

"Apakah Samantha tahu kalau aku menyukai Charlie? Oh, Tuhan... jangan-jangan dia sudah tahu—"

"Stephanie, slow down," Millie meletakkan gelas plastiknya ke atas meja terdekat, menatap Stephanie bingung. "Memangnya apa yang akan dilakukan Samantha kalau dia tahu kamu menyukai Charlie?"

"Ooh, Millie, kau tidak akan pernah tahu. Samantha bisa sangat bringas jika menyangkut Charlie. Dia akan melakukan apa saja agar semua orang tahu hanya dialah yang berhak mencintai dan memiliki Charlie. Gadis itu terobsesi pada Charlie, sampai rela menjadi pelampiasan Charlie tanpa pernah berani menuntut kejelasan hubungan mereka. Tak peduli sudah berapa kali mereka tidur bersama."

Ucapan Stephanie menghantam Millie tepat di ulu hatinya.

"Jadi... mereka...?"

Stephanie mengangguk cepat, memutus sisa pertanyaan Millie.

"Jangan kaget, Millie. Ini sudah jadi rahasia umum, bahkan satu sekolah sudah tahu. Samantha and Charlie lost their virginity to each other. Semua orang di River Oaks High sampai menjuluki mereka The Dynamic Duo. Aku kesal sekali waktu mendengar julukan itu."

Stephanie mengembuskan napas berat, kembali menatap sosok Charlie dari kejauhan dengan binar memuja yang tak mampi gadis itu sembunyikan.

"Andai aku diberi sedikit saja kesempatan untuk sekadar menyukai teman kakakku itu. Untung saja Charlie dan Adrian berteman dekat sejak dulu, jadi kalau Charlie sedang berkunjung ke Sookie's atau sedang menemani Adrian mengotak-atik mesin, aku bisa mencuri-curi kesempatan untuk..."

Stephanie terus berbicara, namun sisa ucapannya sama sekali tidak lagi masuk ke telinga Millie. Kepalanya mendadak terasa berat saat ia baru mengetahui satu fakta tak terduga tentang kakak tirinya itu.

Millie menyambar kembali gelas plastik yang tadi ditaruhnya di meja, lalu meneguk habis isi punch yang menurutnya rasanya sangat tidak enak dilidahnya.

"Millie, slow down! You're going to choke yourself!" ujar Stephanie agak panik saat dilihatnya Millie bersusah payah menelan habis sisa minuman dalam gelasnya.

Millie kemudian mengusap setetes sisa minuman di sudut bibirnya dengan ujung lengan jaket.

"Stephanie, aku... aku mau ke toilet sebentar. Kamu tahu toiletnya di mana?"

Stephanie menunjuk ke arah lorong dekat bangunan utama sekolah. Tanpa menoleh lag Millie bergegas melangkah pergi dengan langkah agak gontai.

Millie sebenarnya tidak benar-benar ingin ke toilet. Ia hanya butuh melarikan diri dari gemuruh asing di dadanya semakin menderu tidak menentu.

Padahal Millie tidak pernah seperti ini. Ia selalu menyukai keramaian dan menikmati berkenalan dengan orang-orang baru. Teman-teman Charlie pun juga menyambutnya dengan sangat ramah. Tak ada satu pun murid River Oaks yang memandangnya aneh

Tidak mungkin juga kan, kegelisahannya muncul akibat ia mengetahui fakta Charlie dan Samantha sering tidur bersama?

Kenapa pula Millie harus gundah seperti ini?

Di dalam toilet, Millie menyalakan keran air dan membasuh wajahnya berulang kali dengan air dingin. Berharap bulir-bulir yang menyapu wajahnya mampu memadamkan kekacauan dalam kepala Millie.

Millie menatap pantulannya sendiri pada cermin sambil mendengus geli.

"Elo tuh kenapa sih?" bisiknya pada diri sendiri dalam bahasa Indonesia, kebiasaan Millie jika pikirannya mulai kalut dan tidak menentu, "Nggak usah mikir yang aneh-aneh, deh. Peduli apa sih lo sama kehidupan percintaan kakak tiri lo itu? Charlie is your brother! You shouldn't be thinking about him like this."

Setelah melontarkan teguran itu pada pantulan dirinya, Millie berbalik dan melangkah keluar.

Begitu dahan pintu toilet terbuka, Millie hampir meloncat kaget saat mendapati seorang cowok jangkung bertubuh tinggi sudah berdiri menyandar pada dinding toilet.

"Geez, God!" Millie terperanjat sambil memegangi dada.

Lihat selengkapnya