"Hey, Uncle, can you give me a ride to Chilton today?"
Josh mengangguk tanpa ragu. Ia menyesap kopinya perlahan sebelum membalas, "Sure, honey. What happened to your car?"
"Oh, no. All's good. I just have to get there earlier because there's this chemistry presentation for the project I have to do with Hannah. Aku bisa memanfaatkan waktu untuk menghafal materi di dalam mobil sembari—"
"Let me take you to your school,"
Suara Charlie tiba-tiba memotong ucapan Millie, membuat kalimat gadis itu menggantung begitu saja di udara.
"Tapi bukankah kamu juga harus pergi ke sekolah?" tanya ayah Charlie, menatap putranya heran.
Charlie meraih sepotong roti panggang dari piring di meja makan.
"Kreditku sudah hampir habis, Dad. Lagipula ini bulan terakhirku di SMA. Semua kredit nilaiku sudah ku tuntaskan di Seattle kemarin sebelum pindah kesini lagi. Sekarang aku cuma perlu menunggu surat penerimaan universitas dan hari kelulusan. So, I guess I have plenty of free time now."
Pandangan Charlie beralih, menatap Millie tepat di manik matanya. "I'll take you to your school."
Millie mengerjap pelan. "No, it's okay. I'll take the bus."
Keheningan singkat seketika melingkupi dapur setelah mendengar penolakan halus Millie.
"Kenapa, Millie? Charlie sama sekali tidak keberatan mengantarmu, kok," sahut Josh lembut.
Millie melempar senyum canggung pada Josh, sebisa mungkin menghindari tatapan Charlie yang kini mulai memicing tajam menatapnya.
"Tidak apa-apa, Uncle. Jarak sekolahku dan sekolah Charlie cukup jauh. Aku... aku naik bus saja."
"No, I'm still taking you," potong Charlie tegas.
Tanpa menunggu balasan, cowok itu melahap sisa roti panggangnya dalam satu suapan besar, lalu menyambar kunci mobil dan tas ransel yang tergeletak di sofa ruang tengah.
"Tapi—"
"Let's go, chop-chop!" panggil Charlie seraya melangkah lebar menuju pintu luar, sama sekali tidak memberi ruang bagi Millie untuk memprotes.
Josh merangkul bahu putri tirinya ragu, lalu menyunggingkan senyum simpatik. "He finally come around, wouldn't he?"
Millie memaksakan sebuah senyum tipis untuk Josh. Dalam hati, ia sendiri bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan ayah Charlie itu.
****
Apa yang terjadi setelah Charlie dan Millie kembali berada di dalam satu kabin mobil yang sama, tiga hari sejak pertengkaran mereka di pesta api unggun?
Jawabannya... tidak ada apa-apa.
Hanya keheningan yang terasa jauh lebih berisik daripada suara halus mesin Jeep yang membelah jalanan pagi River Oaks. Cahaya matahari menembus sela-sela pepohonan oak di sepanjang jalan, jatuh bergantian di wajah mereka yang sama-sama memilih menatap ke arah berbeda.
Charlie mengira Millie sengaja menyibukkan diri dengan kartu-kartu kecil berisi materi presentasinya agar tidak perlu berbicara dengannya.
Sementara Millie justru berpikir sebaliknya.
Charlie pasti masih marah.
Mungkin cowok itu hanya mengantarnya pagi ini karena merasa bertanggung jawab, bukan karena benar-benar ingin.
Millie mengembuskan napas pelan sambil membalik kartu berikutnya. Tanpa disadari, helaan napasnya justru membuat Charlie menoleh sekilas.
Sejak mereka meninggalkan rumah tadi, setiap menit Charlie memutar otak agar ia dapat mencari cara untuk membuat Millie mau bicara lagi dengannya. Charlie begitu tersiksa karena sudah tiga hari ini Millie jadi menjauh darinya di setiap kesempatan. Jadi jangan heran kalau pagi ini Charlie bersikeras mengantar adik tirinya itu, tanpa memberinya kesempatan untuk menolak.
Akhirnya, Charlie menyerah pada pikirannya sendiri.
"You wanna play a song?"
Millie mengangkat wajah perlahan. Dahinya berkerut tipis.
"Song?"
Charlie mengangguk sambil tetap memusatkan perhatian pada jalan di depannya.
"Yeah. Kamu bisa sambungkan ke audio mobil. Anything you want."
Millie melirik ponselnya yang tergeletak di pangkuan, lalu kembali menatap kartu presentasi di tangannya. Sesaat ia ragu. Bukan karena tidak ingin mendengarkan musik, melainkan karena takut setelah percakapan singkat itu selesai, mereka akan kembali tenggelam dalam keheningan yang sama canggungnya.
Melihat Millie tidak kunjung menjawab, Charlie kembali mencoba.
"Come on. Aku juga penasaran sama lagu-lagu Indonesia yang sering kamu dengarkan."
Charlie mengernyit sambil berpikir keras.
"Apa ya... band yang namanya mirip peri kecil yang filmnya sangat populer dulu dikalangan anak-anak dan dongeng? The thing that Tinkerbell had a huge crush on him."
Millie tampak semakin bingung.
Charlie mengangkat sebelah alis.
Butuh waktu dua detik sebelum Millie akhirnya menutup mulutnya sendiri agar tawanya tidak lepas begitu saja.
"Peterpan, maksudmu?"
Charlie langsung menunjuk ke arahnya, "Yes! That's the one."
Millie menggigit bagian dalam pipinya kuat-kuat, sebisa mungkin menahan senyumnya. Namun usahanya sia-sia. Sudut bibirnya tetap terangkat pelan.
Dan Charlie melihatnya.
Untuk pertama kalinya setelah tiga hari, senyum Millie mengikis rasa sesak dalam dada Charlie.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Millie mengambil ponselnya lalu menyambungkannya ke sistem audio Jeep. Beberapa detik kemudian, irama nada musik ber genre alternatif pop mulai berdentum di seluruh kabin mobil Charlie
Charlie mendengarkan beberapa saat sebelum akhirnya bertanya,
"Is this Peterpan's song you really most listened to?"
Millie menggeleng pelan, "No. It's not Peterpan."
Charlie melirik layar audio, "Then who?"
"The Midnight Darlings."
Charlie mengangguk kecil.
"And what's the title?"
Millie menoleh kepadanya, lalu menjawab,
"Am I Loving You Alone."
Tanpa sadar Charlie ikut menoleh.
Pandangan mereka bertemu.
Hanya sesaat.
Namun cukup lama hingga keduanya sama-sama lupa harus mengatakan apa.
Millie yang lebih dulu memalingkan wajah. Ia kembali menunduk menatap kartu-kartu presentasinya, meski satu kata pun sudah tidak lagi masuk ke kepalanya.