Charlie and Millie

Farah Maulida
Chapter #20

Cedar Hollow Creeks Confession

Charlie menghentikan Jeep tepat di tepi Cedar Hollow Creek. Dari sana, aliran air terlihat jauh lebih liar daripada yang dibayangkan Millie.

Aliran air jernih berlari deras di antara bebatuan besar, memukul sisi sungai dengan suara gemuruh yang memenuhi lembah. Pepohonan cedar dan oak tumbuh rapat di sepanjang tepian, sebagian akarnya mencuat dari tanah, sementara angin dari perbukitan membawa hawa dingin dan aroma tanah basah.

Charlie mematikan mesin, turun tanpa menjelaskan apa pun, lalu memutari Jeep untuk membukakan pintu bagi Millie. Gestur kecilnya tetap berhasil membuat Millie heran sampai sekarang mengingat betapa dinginnya cowok itu.

"Where are we?"

Charlie tidak langsung menjawab. Ia hanya berjalan lebih dulu melewati rerumputan tinggi dan akar-akar pohon yang menjulur di tanah, sesekali menoleh untuk memastikan Millie masih mengikutinya. Semakin dekat mereka ke tepian sungai, suara air terdengar semakin keras. Jalur yang mereka lewati berakhir di sebuah lereng cukup curam dengan pemandangan langsung menuju aliran Cedar Hollow Creek.

Charlie berhenti beberapa langkah dari bibir lereng untuk mengulurkan tangan pada Millie.

"Hold my hand."

Millie menatap tangan Charlie yang terulur, lalu menatap kakak tirinya sambil terkekeh.

"Charlie, I'm fine."

"I know." Tatapan Charlie tetap tertuju pada tepian sungai. "Tapi anginnya cukup kencang di sini. Aku akan lebih tenang kalau kamu pegang tanganku."

Millie terpaku. Di antara temaram bayangan pepohonan, ia bisa membaca dengan jelas raut kecemasan yang membayang di sudut mata dan rahang Charlie yang mengetat.

Perlahan, Millie mengikis jarak dengan menyambut uluran tangan Charlie. Dalam hitungan detik, jemari Charlie langsung menyatukan genggamannya, begitu erat, hangat, dan seolah membawa keputusasaan yang tertahan, sebelum kembali menuntun langkah Millie menuju bibir sungai.

Charlie tidak mengatakan apa-apa. Pandangannya tertahan pada air yang bergerak deras di bawah mereka, sementara jemarinya perlahan melonggarkan genggaman tetapi tidak sepenuhnya melepaskan tangan Millie. Tangan satunya bertumpu pada batang pohon di samping tubuhnya. Dari tempat Millie berdiri, ia bisa melihat perubahan di wajah Charlie dengan jelas—rahang yang mengeras, napas yang semakin berat, dan warna pucat yang perlahan muncul di wajahnya.

"Charlie..."

Charlie menoleh, seperti baru sadar bahwa Millie berdiri di sana bersamanya.

"Are you all right?"

Ia tidak langsung menjawab. Charlie justru menatap kembali aliran sungai di hadapan mereka, lalu menarik napas panjang dengan berat di tengah gemuruh air.

"Airnya sangat deras, bukan?" gumam Charlie lirih.

Millie memilih diam, membiarkan cowok itu memecah kebisuannya sendiri.

"Dan aliran deras ini... pernah merenggut nyawa salah satu teman terbaikku," Charlie melanjutkan, suaranya bergetar tipis di antara gemuruh sungai. "Karena... kesalahanku sendiri, Millie."

Seketika Millie menoleh, matanya melebar. "What... what do you mean it was your fault?"

Genggaman tangan Charlie terlepas begitu saja. Tanpa peringatan, ia maju satu langkah mendekat ke tepi tebing yang licin, seolah selangkah lagi ia bisa terperosok ke dalam pusaran air.

"Charlie, careful—"

"I know. I just... I just need to look closer."

Millie memperhatikannya dalam diam. Untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang selama ini hampir tidak pernah diperlihatkan Charlie kepada siapa pun. Bukan kemarahan, bukan sikap dingin, melainkan rasa takut yang sudah berumur bertahun-tahun dan masih tinggal di tempat yang sama. Charlie akhirnya mundur dari tepian dan kembali berdiri di samping Millie.

"Usiaku sebelas tahun waktu itu, dan Tyler Sanders adalah sahabatku sejak kami masih di taman kanak-kanak. Waktu itu sedang musim panas, kami mengayuh sepeda cukup jauh dari rumah. Aku yang mengusulkan agar kami pergi ke anak sungai Cedar Hollow Creeks, bahkan berencana untuk berenang. Tapi begitu melihat arusnya deras sekali, kami membatalkan niat kami dan beralih memasang hammock yang sudah kami bawa dari rumah."

Charlie jeda sejenak, dadanya naik turun mengendalikan degup jantung yang terpacu.

"Aku meminta Tyler mencari ranting kering dan batu-batu kecil. Rencananya, setelah hammocknya terpasang, kami ingin membuat api unggun kecil-kecilan... berpura-pura menjadi petualang dewasa yang sedang mendaki gunung. Kami selalu punya mimpi itu sejak dulu dan Tyler tentu saja begitu bersemangat. Ia langsung menghilang untuk mengumpulkan kayu tanpa berpikir dua kali."

Charlie menelan ludah dengan susah payah. Jakun di lehernya bergerak kaku.

"Sepuluh menit... dua puluh menit... sampai hampir satu jam, ia tidak kunjung kembali. Aku mulai cemas. Sejauh apa ia berjalan, sampai memanggil namanya ratusan kali saja dia tidak bisa menyahut? Lalu... tiba-tiba aku mendengar suara jeritan keras."

Mata Charlie menerawang, kembali terlempar ke masa lalunya yang begitu kelam.

"Aku berlari sekuat tenaga dan menemukan Tyler sudah terseret di tengah pusaran arus. Tanpa berpikir panjang, aku melempar diriku ke air untuk menggapai tangannya. Tapi bukannya menyelamatkannya, kami berdua justru terombang-ambing disapu derasnya sungai."

Charlie memberanikan diri menatap Millie yang masih mematung tanpa berkedip.

"Aku kehilangan kesadaran setelah itu. Aku dinyatakan hilang selama 48 jam dan kejadian itu membuat seluruh River Oaks gempar, sampai tim SAR pusat Texas Hill Country harus turun tangan mencari keberadaan kami. Mereka baru menemukanku dalam keadaan hipotermia parah di anak sungai sebelah sana..."

Charlie menunjuk sebuah kelokan sungai di jauh bawah sana, sebelum perlahan menarik jarinya dan menunjuk tepat ke pijakan batu di bawah kaki mereka. Suaranya memelan, pecah di ujung kata.

"... dan Tyler, ditemukan di bawah sini. Dibawah tempat kita berdiri."

Wajah Millie seketika pucat. Ia berdiri kaku, seolah kalimat Charlie baru saja menghapus seluruh suara di sekelilingnya. Di hadapan mereka, Cedar Hollow Creek masih mengamuk di antara bebatuan, airnya berputar liar lalu menghantam tepian sebelum kembali menyeret apa pun yang berada terlalu dekat dengan arus.

Anehnya, Charlie justru terlihat sangat tenang. Ia menundukkan kepala dan menatap Millie, tetapi ketenangan di wajahnya terasa jauh lebih mengkhawatirkan daripada kemarahan. Seolah ada sesuatu yang sedang ia tahan, sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak pernah berhasil ia ucapkan kepada siapa pun.

"The night at the bonfire... when I couldn't find you, it felt exactly like this." Suara Charlie rendah, nyaris tenggelam oleh gemuruh sungai. "I was so scared. I was so damn scared, Millie."

Untuk pertama kalinya, Charlie membiarkan seluruh pertahanannya runtuh di hadapan seseorang. Ia tidak lagi peduli apakah Millie akan melihat sisi dirinya yang selama ini ia sembunyikan, karena rasa takut kehilangan gadis itu terlalu besar untuk kembali ia simpan sendiri. Ia sudah pernah kehilangan Tyler. Satu kehilangan saja rupanya cukup untuk membuat seseorang harus hidup bertahun-tahun dengan ketakutan yang sama, menunggu kejadian buruk berikutnya datang tanpa pernah benar-benar merasa siap untuk menghadapinya.

"I couldn't let anything happen to you. Tyler was enough. Losing him was enough for me. I couldn't lose you too."

"Charlie..." Suara Millie akhirnya keluar, tipis dan tercekat. "What happened to Tyler wasn't your fault."

Charlie menggeleng. Tatapannya jatuh lagi ke sungai.

Lihat selengkapnya