"Are you sure you wanna do this?"
Millie masih mengenakan seragam sekolahnya. Jas sekolahnya sudah ia lepaskan, menyisakan kemeja putih yang lengannya digulung asal hingga siku serta rok kotak-kotak yang sedikit berayun setiap kali ia berpindah tumpuan kaki.
Di hadapannya, Charlie duduk santai di depan wastafel dengan handuk putih tersampir di kedua bahunya. Rambut cokelatnya sengaja dibasahi agar lebih mudah dipangkas.
Charlie menangkap keraguan yang terus berputar di mata Millie melalui pantulan cermin di depannya. Sudut bibirnya pun terangkat pelan.
"Do I look like I'm not sure to let you hold your knife to cut my hair?"
Bukannya ikut tersenyum, Millie malah mendesah pelan. "Charlie, I'm being serious."
Tawa kecil lolos begitu saja dari bibir Charlie. Ia menggeleng samar sebelum menyandarkan punggungnya lebih rileks pada kursi.
"I'm deadly serious too, Millie." Tatapannya masih bertemu Millie lewat pantulan cermin. "Just cut the damn hair."
Millie masih diam beberapa detik. Pandangannya bergantian antara gunting di tangannya dan rambut Charlie yang kini sudah menyentuh tengkuk. Akhirnya ia mengembuskan napas panjang, seolah sedang mengumpulkan keberanian, lalu melangkah mendekat.
Perlahan jemarinya menyibakkan sisi rambut Charlie. Bunyi gunting mulai memecah keheningan, diikuti helaian-helaian rambut cokelat yang jatuh perlahan di atas handuk.
Tak ada yang berbicara.
Hanya suara gunting, embusan napas mereka, dan sesekali tatapan Charlie yang diam-diam mencuri pandang lewat pantulan cermin.
Ketika Millie harus mendekat agar dapat merapikan bagian dekat telinga Charlie, wajah mereka hanya terpaut beberapa inci. Aroma sampo bercampur wangi lembut vanilla yang selalu melekat pada rambut Millie perlahan memenuhi indra penciuman Charlie.
Napasnya nyaris tercekat.
Ia buru-buru mengalihkan pandangan sebelum Millie sempat menyadarinya.
"Stay still."
Tanpa sadar, Millie mengangkat satu tangannya dan menahan sisi rahang Charlie agar tetap lurus menghadap cermin. Sentuhannya begitu ringan, namun cukup untuk membuat seluruh tubuh Charlie menegang. Ada dorongan liar yang begitu mendesak dalam raga Charlie untuk mengulurkan tangannya agar dapat mencengkeram pinggang ramping Millie, dan menarik gadis itu duduk tepat di pangkuannya.
Millie kembali fokus pada pekerjaannya. Ia berdiri tepat di belakang Charlie, menyisir rambut yang masih panjang ke arah belakang sebelum kembali mengguntingnya sedikit demi sedikit. Sesekali ia menepuk pelan bahu Charlie untuk membersihkan potongan rambut yang menempel, lalu meniup perlahan bagian tengkuknya agar helaian-helaian kecil itu tidak menggelitik kulit Charlie.
Fuuuhhh
Seketika Charlie memejamkan mata.
Sialan. Sejak kapan kegiatan potong-memotong rambut bisa berubah menjadi begitu intim dan menyiksa seperti ini?
"Can I ask you a question?"
Charlie membuka mata lagi, berusaha memusatkan pikirannya pada percakapan agar tidak terus melayang ke tempat-tempat yang tidak seharusnya.
"Ask away."
Millie tidak langsung menjawab. Tangannya tetap sibuk merapikan bagian belakang rambut Charlie, seolah sedang memilih kata-kata yang tepat.
"Do you remember the night when you got a really high fever last year? Ketika luka lebammu sudah terlalu infeksi sampai kamu hampir tidak sadarkan diri?"
Charlie spontan menoleh sedikit hingga gunting di tangan Millie berhenti bergerak.
"I remember. What about it?"
"Hey..." Millie mendorong pelan dagu Charlie agar kembali menghadap depan. "Stay still."
Charlie tersenyum kecil sambil menurut.
Millie kembali menggunting beberapa bagian rambut Charlie dalam diam. Baru setelah beberapa detik berlalu, ia kembali membuka suara, kali ini jauh lebih pelan.
"I know this might sound weird... dan aku juga yakin kamu mungkin sama sekali tidak ingat karena waktu itu kamu sedang demam tinggi."
Millie berhenti sejenak, lalu menambahkan,
"Tapi... apakah ada kemungkinan walaupun sangat kecil, kamu ingat apa yang muncul di dalam mimpimu saat kamu demam tinggi waktu itu?"
Kening Charlie langsung berkerut, "Was something happened?"
Millie buru-buru menggeleng.
"No. Nothing happened."
Jawabannya terlalu cepat.
Charlie bisa menangkap kegugupan yang berusaha disembunyikan gadis itu.
"Then?"
Millie menggigit pelan bibir bawahnya sebelum akhirnya terkekeh samar, lebih tepatnya agak malu pada pertanyaan konyolnya sendiri.
"Malam itu... waktu demammu mulai turun dan aku duduk di samping tempat tidurmu untuk memastikan kamu baik-baik saja..." Ia berhenti sejenak, lalu mengangkat bahu kecil. "You kinda... said my name."