Satu kebiasaan apa yang paling tidak dirindukan keluarga Robsinson ketika Charlie memutuskan kembali ke River Oaks?
Ya, betul sekali. Jawabannya, pertengkarannya dengan sang ayah.
Tentu saja bukan tanpa alasan. Semua bermula ketika surat penerimaan dari MIT tiba di kediaman keluarga Robinson dua hari yang lalu.
Seharusnya kabar tersebut menjadi momen penuh sukacita. Sebuah pencapaian yang layak dirayakan seluruh keluarga. Namun semuanya berubah ketika Charlie dengan tegas menyatakan bahwa ia tidak akan menerima tawaran tersebut.
Alih-alih berangkat ke Massachusetts, Charlie berkata ia telah mendaftarkan diri untuk berkuliah di University of Texas.
Pria berusia lima puluh tahun itu begitu murka, tidak terima impian besar yang telah di doktrinnya dalam kepala Charlie sejak kecil dibuang begitu saja tanpa ada diskusi terlebih dahulu.
Mereka tidak berhenti bertengkar. Perdebatan yang semula hanya berupa adu argumen berubah menjadi pertengkaran panjang selama dua hari berturut-turut.
"Again?"
Millie melirik ke arah lantai dua, tepat menuju ruang kerja Josh, ketika suara bentakan yang saling bersahutan kembali terdengar, disusul bunyi keras sesuatu yang sesekali di hantamkan ke meja.
"Well, padahal rasanya menyenangkan sekali tidak mendengar suara keras mereka selama lebih dari setahun ini," ujar Magda dengan nada sarkastis.
Kalimat Magda sebenarnya cukup lucu untuk Millie tertawakan. Namun kali ini Millie tidak bereaksi apa-apa.
Jauh di dalam hati, Millie merasa ikut bertanggung jawab. Kalau saja kemarin ia tidak membahas rencana kuliah Charlie saat memotong rambut kakak tirinya, mungkin pertengkaran sebesar ini tidak akan pernah terjadi.
Dampak pertikaian itu tak hanya dirasakan oleh kedua laki-laki tersebut. Mama Millie bahkan jadi lebih sering mengambil jam lembur di restoran demi menghindari kegaduhan di rumah setiap malam.
"Migrain Mama bisa kambuh kalau dengerin mereka berantem hebat kaya gitu terus, nak. Udah dua hari soalnya. Mama kali ini nyerah deh,"
Millie hanya mampu mengangguk pelan di telfon waktu Mama nya mengabarkan akan lembur lagi malam ini sampai restaurant tutup.
Ia tahu, sekeras apa pun Josh Robinson menolak keputusan Charlie sekarang, cepat atau lambat pria itu pasti akan mengalah. Charlie terlalu keras kepala untuk dipaksa mengubah keputusan yang sudah ia tetapkan.
Namun bukan itu yang Millie khawatirkan.
Yang ia takutkan adalah retakan hubungan di antara ayah dan anak itu akan bertahan jauh lebih lama daripada pertengkarannya sendiri.
Menurut Uncle Josh, Charlie sangat sembrono karena melepas peluang yang diimpikan banyak orang. Sementara bagi Charlie, tempat seseorang menuntut ilmu itu tidak serta-merta menentukan keberhasilan masa depannya.
Siang itu, Millie baru saja memarkirkan mobilnya di halaman ketika matanya menangkap sosok Charlie yang sedang bersandar santai di samping Jeep hitam miliknya.
Sebatang rokok terselip di antara jemarinya.
Wajah Charlie tampak jauh lebih lelah dibanding biasanya. Namun begitu melihat Millie turun dari mobil, rautnya yang letih perlahan memudar, berganti menjadi senyum tipis.
"You look a bit tired," ujar Millie sambil menutup pintu mobil.
Charlie baru saja hendak menjawab ketika suara dehaman yang dibuat-buat langsung memotong tatapan mereka.
"Good afternoon, dear Millie's brother!" Hannah menyapa Charlie dengan nada melengking kelewat riang.
Millie nyaris saja memutar bola mata.
Charlie hanya terkekeh pelan.
Pandangan cowok itu beralih pada tumpukan buku tebal yang sedang dibawa kedua gadis tersebut.
"Afternoon, Hannah. Kalian mau mengerjakan apa?"
"School project before summer break," jawab Hannah ceria. Sedetik kemudian, Hannah berkedip genit pada Charlie, "Care to help us?"
Belum sempat Charlie menjawab, Millie sudah lebih dulu mendorong bahu sahabatnya.
"Come on, soldier. Don't you dare bother my brother."
"Uuu, your sister is so feisty, Charlie," cibir Hannah pasrah saat Millie mendorong pelan bahunya menuju pintu masuk rumah.
Pemandangan dua gadis itu membuat Charlie terkekeh sambil menggeleng samar.
Saat hendak melangkah masuk, Millie menyempatkan diri untuk menoleh kebelakang punggung, memeriksa Charlie.
Cowok itu masih berdiri menyesap rokok seraya memandang kosong ke halaman ranch keluarga Robinson yang luas membentang.
Millie memandangi Charlie selama beberapa detik, lalu menoleh kepada Hannah.
Ia menyerahkan dua buku tebal yang sejak tadi dibawanya ke pelukan sahabatnya itu.
"I'll catch up with you in my room."
Hannah melirik Charlie sekilas, seolah langsung memahami maksud Millie. Tanpa banyak bertanya, ia mengangguk lalu berjalan masuk ke dalam rumah.
Begitu Hannah menghilang di balik pintu, Millie berbalik menghampiri Charlie.
Cowok itu menoleh begitu menyadari kehadiran Millie. Senyumnya kembali terbit, tipis namun tulus.
"Kenapa kembali lagi? Ada yang ketinggalan?" tanya Charlie.
Millie menggeleng pelan. "Nope. Just... want to make sure that you're alright."
Kening Charlie berkerut tipis. "What do you mean?"
Millie tidak langsung menjawab. Tatapannya justru mengisyaratkan seolah ia tahu Charlie sedang berpura-pura baik-baik saja.
Charlie mengembuskan napas pelan. Rokok di sela jemarinya tinggal separuh. Ia mengisapnya sekali lagi sebelum menjatuhkannya ke tanah dan memadamkannya dengan ujung sepatu.
"I'm alright, Millie. Stop worrying about me."
Millie abaikan ucapan Charlie barusan dengan melangkah lebih dekat untuk berdiri bersisian di samping cowok itu.
Untuk beberapa saat, tak ada suara di antara mereka. Keduanya sama-sama menatap hamparan halaman perkebunan yang luas, memperhatikan beberapa ekor kuda milik keluarga Robinson yang sedang berkeliaran bebas di padang rumput.
Millie menurunkan tali ransel dari bahunya, lalu mengeluarkan sebuah kotak makan dari dalam, membuat Charlie memperhatikan setiap gerak-gerik gadis itu dalam diam.
Cowok itu sedikit tertegun saat Millie membuka tutup wadah tersebut dan menyodorkan sepotong roti lapis dipotong dua ke arahnya.
"Aku tahu kamu belum makan apa pun seharian ini. So, eat it," kata Millie dengan lembut.
Charlie terkekeh pelan, menerima kotak makan itu. "I ate," ujar Charlie defensif, lalu menambahkan dengan nada lebih pelan, "I just didn't eat at home."
Millie berdecak pelan. "Home cook is way better than anything you buy outside, Charlie."
Charlie kembali terkekeh. Tanpa banyak bicara lagi, ia mengambil sandwich tersebut dan menggigitnya tanpa ragu.