Charlie and Millie

Farah Maulida
Chapter #23

The Bitter Haggle

Charlie baru saja menutup kap mobil Mrs. Handerson yang belum sepenuhnya rampung diperbaiki ketika matanya menangkap kehadiran Millie yang menerjang masuk ke dapur melalui pintu belakang.

Sedetik kemudian, Charlie terkesiap hebat saat pintu dibanting menutup dengan sangat keras. Ada sesuatu yang jelas-jelas tidak beres dari cara Millie masuk ke rumah, membuat Charlie refleks berlari menyusulnya.

"Millie, what's going on?"

Millie menaruh sebotol Sunny D di atas meja, nyaris membantingnya. Gadis itu kemudian melepaskan mantel tanpa sedikit pun berniat menoleh ke arah Charlie.

"Millie, talk to me," tuntut Charlie, kali ini dengan nada yang lebih lembut sembari mengambil satu langkah mendekat.

Diam-diam Millie menarik napas panjang, masih enggan menatapnya.

"I'm fine," sahutnya pendek.

Millie baru saja hendak beranjak pergi dari dapur ketika tangan Charlie menahan lengannya. Cengkeraman jemarinya terasa hangat, tetapi cukup kuat untuk membuat langkah Millie terhenti.

Gadis itu akhirnya menoleh dan mendapati kekhawatiran terpancar jelas dari kedua mata cokelat Charlie.

"Please, talk to me. What's going on?"

Millie tetap bergeming selama beberapa saat. Ia tidak yakin apakah seharusnya membiarkan Charlie mengetahui hal ini atau tidak. Namun setelah mengembuskan napas panjang, ia akhirnya menyerah.

"Do you remember when I told you that we need to find the one person who claimed as Tyler Sanders?"

Charlie mengangguk singkat, membuat Millie melanjutkan, "Aku bertemu dengannya di Sookie's tadi."

Pernyataan itu seketika membuat gurat tegang di kening Charlie menghilang, digantikan keterkejutan.

"Apa? Kamu bertemu dengannya? Kenapa kamu tidak menghubungi—"

"His name is Chuck."

Mata Charlie melebar seketika.

Dan belum selesai sampai di sana, Millie kembali membuka seluruh kejanggalan yang sejak berada di minimarket tadi terus mencokol di kepalanya.

"Siapa Chuck ini, Charlie? Kalau melihat dari ekspresimu yang pucat pasi seperti ini, aku yakin kamu pasti tahu siapa si brengsek yang kumaksud itu."

Charlie menyadari ada kekecewaan dalam suara Millie. Gadis itu perlahan berjalan mundur, melepaskan lengannya dari genggaman Charlie hanya untuk menciptakan sedikit jarak di antara mereka.

Namun alih-alih menjawab, Millie kembali melayangkan satu pertanyaan yang kini terasa semakin mengganggu pikirannya.

"Apa yang dilakukan Chuck kemarin itu ada hubungannya dengan Samantha?"

Charlie masih saja terdiam. Tatapannya terkunci pada lantai kayu dapur, seolah tengah menimbang dengan berat apa yang harus ia lakukan. Butuh waktu hampir semenit penuh sebelum akhirnya ia berdiri tegak dan berjalan meninggalkan dapur tanpa memberikan kejelasan apa pun.

Millie menatap kepergian Charlie sambil bersedekap rapat, memeluk tubuhnya sendiri tanpa tahu harus bersikap bagaimana lagi.

****

Charlie mengemudikan mobilnya gila-gilaan, menembus kegelapan jalanan River Oaks menuju satu-satunya tempat yang sejak beberapa hari terakhir terus menghantui bayang-bayang kecurigaannya. Hanya butuh waktu lima menit sampai mobil Charlie meluncur tajam dan berhenti di pelataran luas kediaman Samantha.

Charlie membanting pintu mobilnya hingga suara dentumannya menggema di udara malam. Ia melangkah lebar menaiki anak tangga teras, lalu mengetuk pintu rumah Samantha dengan hantaman telapak tangan.

Tidak sampai semenit, pintu berderit terbuka. Gadis berambut pirang yang sudah hampir ia kenal sepanjang hidupnya berdiri di sana dengan wajah girang saat mendapati kehadiran Charlie.

"Look who's finally show up here—"

Pekikan riang Samantha terputus ketika Charlie menarik lengannya dengan kasar, membawanya keluar dari ambang pintu menuju teras.

Samantha mendesis jengkel sambil mengusap lengannya. Ia bahkan baru hendak mengumpat ketika Charlie lebih dulu memuntahkan emosinya.

"Chuck? Really? What the fuck did you want this time, Sam!?"

Kerlingan nakal di kedua mata Samantha seketika memudar. Tatapannya bergerak gelisah, menghindari sorot mata Charlie yang begitu tajam menusuk.

"What are you talking about?" Samantha berusaha berkilah sembari tertawa sumbang.

Charlie merogoh salah satu saku jaket hitamnya dan mengeluarkan sebuah kunci yang sudah ia simpan rapat selama beberapa hari terakhir. Kunci yang, entah kenapa, sangat mirip dengan kunci utama mobilnya.

"I believe it's yours, isn't it?"

Charlie menunjukkan kunci itu tepat di depan mata Samantha.

Ia mendengus geli, masih tidak habis pikir, "How could you even duplicated my car key? And what for!?*

Sisa-sisa kebohongan yang berusaha dipertahankan Samantha akhirnya rusak sudah.

Bukannya ia berikan pada Samantha, Charlie kembali memasukkan kunci tersebut ke sakunya tanpa pernah melepaskan tatapannya yang tajam pada gadis itu.

"Let me guess, you ask your fucking cousin, by using Tyler Sanders's name to trick Millie, and make me freak out? Membuatnya berpikir bahwa aku meninggalkannya di pesta api unggun kemarin begiru saja sehingga ia terpaksa memutuskan untuk pulang sendiri dengan berjalan kaki? Kamu sudah gila atau apa, Samantha!?"

Bukannya merasa bersalah mendengar makian Charlie, rasa takut yang semula hadir di mata Samantha justru pupus seketika. Ia biarkan letupan amarah mulai merambat pada kedua matanya, tidak gentar meski Charlie menatapnya semakin tajam.

Charlie mengusap rambutnya, melampiaskan rasa depresi, lalu kembali menggeram, "Aku sudah katakan jutaan kali padamu, bahkan ketika aku masih di Seattle. Leave Millie alone. If you ever do something stupid to her again, I will—"

"What, Charlie? What will you do? You're gonna kill me?" potong Samantha dengan suara melengking tajam.

Kali ini gadis itu memberanikan diri menatap balik kedua mata Charlie dengan kebencian menyala. Ia maju satu langkah ke hadapan Charlie seakan menantang cowok itu.

"Kalau memang kamu tahu semua ini adalah ulahku, memangnya kamu mau apa? Kamu mau membunuhku karena sudah mengganggu Millie lagi?"

Kedua tangan Charlie terkepal amat keras di sisi tubuhnya. Buku-buku jarinya memutih, menahan diri sekuat tenaga agar emosinya tidak meledak di detik itu juga.

Charlie pantang sekali bersikap kasar terhadap lawan jenis. Namun demi melindungi Millie dari gadis nekat seperti Samantha, terlebih setelah apa yang dilakukannya kali ini sudah jauh melampaui batas, Charlie akan buat pengecualian.

"I will, if I have to."

Untuk sesaat, Samantha tidak menduga akan jawaban dingin penuh keyakinan yang baru saja Charlie ucapkan.

Namun sedetik kemudian, sebuah kekehan tajam dan hampa lolos dari bibir Samantha. Gadis berambut pirang itu bahkan sampai bertepuk tangan perlahan, seolah dipaksa menyaksikan dengan getir satu hal paling ironis dalam hidupnya.

"Charles Nathaniel Everett Robinson, manusia berhati dingin dan baja yang nyaris tidak pernah tahu apa itu sebuah pengorbanan, mau membunuh seseorang hanya demi seorang gadis yang dulu begitu dibencinya."

Lihat selengkapnya