Charlie and Millie

Farah Maulida
Chapter #24

If You Only Knew

Millie menyaksikan bagaimana, dalam kurun waktu satu minggu, kehadiran Samantha kembali memenuhi ruang lingkup kehidupan Charlie. Gadis itu seolah memang tercipta untuk selalu muncul di setiap momen penting dalam hidup Charlie, menyelinap masuk ke dalam setiap kesempatan yang memungkinkan, lalu berdiri di sisi cowok itu seakan-akan tempat tersebut memang sudah menjadi miliknya sejak awal.

Bahkan ketika hari kelulusan Charlie tiba, Samantha—yang notabene satu angkatan dengannya—selalu berhasil hadir di hampir setiap sesi potret keluarga. Ia berdiri di samping Charlie dengan senyum lebar, sesekali menyelipkan diri ke dalam frame dengan begitu natural, seolah sedang menyatakan kepada siapa pun yang melihat bahwa Charlie adalah miliknya. Mutlak. Tidak boleh ada yang mengganggu gugat.

"You know what, Millie, you should come with us to the prom!"

Millie nyaris menjatuhkan apel yang baru saja hendak dimakannya begitu mendengar ucapan Samantha. Ia menatap gadis berambut pirang itu dengan ekspresi nyaris tidak percaya, seolah Samantha baru saja mengajaknya menghadiri acara yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kehidupan Millie.

"Yang benar saja. Aku bukan murid River Oaks, Samantha."

Samantha berdecak ringan. "Prom River Oaks terbuka untuk umum, kok. Atau, aku bisa meminta sepupuku yang kebetulan bersekolah di River Oaks juga untuk mengajakmu ke prom. Bagaimana?"

Charlie yang kebetulan sedang melewati Samantha untuk membuka pintu kulkas dan mengambil sekaleng soda langsung menyahut tanpa menoleh.

"You mean, Chuck?"

Nada sarkastik dalam suara Charlie membuat guratan riang di wajah Samantha sempat memudar. Hanya sesaat, sebelum gadis itu kembali memasang senyum seolah tidak terjadi apa-apa.

"No, Charlie. It's my other cousin. Jake. He's really nice, Millie. I bet you'll like him once you meet him."

Baik Millie maupun Charlie sama-sama memandang Samantha, tetapi dengan isi kepala yang sepenuhnya berbeda. Millie bahkan tidak pernah sedikit pun terpikir untuk menghadiri pesta prom yang bukan berasal dari sekolahnya. Sementara Charlie justru semakin tidak habis pikir dengan permainan apa lagi yang sedang coba dilakukan Samantha. Sejak kejadian Chuck, setiap langkah gadis itu terasa seperti memiliki maksud tersembunyi, dan Charlie sudah terlalu mengenalnya untuk percaya bahwa semua ini hanyalah ajakan polos.

Millie akhirnya mengulas senyum tipis, setengah enggan, berharap percakapan itu segera berakhir.

"Thanks, Samantha, but I think I'll pass."

Ia tidak perlu melihat raut wajah Samantha lebih lama untuk tahu bahwa penolakan itu mungkin tidak akan diterima dengan mudah. Millie pun memilih meninggalkan dapur sebelum kekesalan dan kecanggungannya semakin kentara. Namun baru beberapa langkah ia berjalan, suara Samantha kembali menyusul dari belakang.

"Kalau begitu, bagaimana kalau kamu menemani aku berbelanja dress untuk prom?"

Langkah Millie terhenti. Ia menoleh perlahan dengan kening berkerut samar.

"Apa?"

"Come on," Samantha memasang wajah memelas, lalu mendekat beberapa langkah, "aku juga butuh saran sesama gadis. Aku sama sekali tidak punya adik perempuan yang bisa dimintai pendapat mengenai gaun prom yang akan kukenakan. Dan aku yakin pasti akan menyenangkan kalau kita bisa saling bertukar pendapat soal gaun serta barang-barang feminin lainnya sembari berbelanja. Bukan begitu, Charlie?"

Charlie yang namanya tiba-tiba diseret ke dalam percakapan hanya diam. Ia membuka kaleng sodanya, meneguk sedikit, kemudian membuang muka.

Samantha kembali mengarahkan tatapan memelas kepada Millie. Bibirnya dimajukan sedikit, raut wajahnya dibuat semanja mungkin, seolah penolakan Millie akan menjadi sebuah dosa besar yang tidak bisa dimaafkan.

Millie mengembuskan napas panjang. Pada akhirnya, ia menyerah.

"Fine."

Seketika wajah Samantha berubah cerah.

"Yeay! Charlie, go get your car!"

Sebelum Charlie sempat memberikan reaksi apa pun, Samantha sudah lebih dahulu meluncur keluar dari dapur sambil menyambar mantelnya. Ia bahkan tidak menghiraukan dua orang yang masih mematung di tempat, seolah keputusan untuk pergi berbelanja sudah menjadi sesuatu yang mutlak dan tidak membutuhkan persetujuan siapa pun lagi.

Charlie menatap pintu yang baru saja dilewati Samantha, kemudian perlahan mengalihkan pandangannya kepada Millie.

"What are you doing?" desisnya.

Millie hanya mengedikkan bahu, berusaha sebisa mungkin tidak mengambil pusing. "Bukannya kamu juga kemarin yang minta ditemani?"

"Yes, but—"

"Come on, guys! Let's go!"

Millie dan Charlie masih saling bergeming ketika Samantha berseru pada mereka di halaman.

Millie menarik napas panjang, lalu membuang muka seolah memilih menyerah pada keadaan daripada memperpanjang perdebatan. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, ia pun berjalan meninggalkan dapur.

Charlie tetap bergeming selama beberapa detik, menatap punggung Millie yang semakin menjauh dengan ekspresi tidak percaya. Ia bahkan belum benar-benar memahami bagaimana sebuah ajakan sederhana untuk membeli corsage bisa berubah menjadi acara belanja bertiga dengan Samantha.

Dan entah kenapa, firasat buruk di dalam dadanya mengatakan bahwa perjalanan ini sama sekali tidak akan sesederhana yang Charlie bayangkan.

****

Samantha sudah keluar-masuk ruang ganti setidaknya belasan kali. Setiap kali tirai bilik terbuka, selalu ada gaun baru yang melekat di tubuhnya—berpotongan berbeda, warna berbeda, bahkan dengan detail yang semakin mencolok dari gaun sebelumnya. Namun entah bagaimana, tidak ada satu pun yang berhasil membuatnya puas. Atau lebih tepatnya, belum ada satu pun yang berhasil membuat Charlie memberikan reaksi yang ia inginkan.

"Come on, Charlie! You gotta put some interest on one of the dresses or gowns I've tried!"

Charlie yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari sebuah manekin bahkan tidak mengangkat kepala. Tangannya masih terlipat di depan dada, sementara ekspresinya menunjukkan betapa sedikitnya minat yang ia miliki terhadap acara belanja tersebut.

"They look all the same to me," keluhnya malas-malasan.

Samantha memutar mata. "Oh, come on!"

Ia kembali masuk ke ruang ganti dengan langkah kesal. Beberapa detik kemudian, tirai kembali terbuka dan Samantha muncul dengan gaun lain. Ia berdiri di depan cermin, berputar sekali, kemudian dua kali, sebelum akhirnya menoleh mencari dua orang yang menurutnya seharusnya menjadi juri dalam acara pemilihan gaun tersebut.

"Millie!"

Millie yang sejak tadi berdiri di deretan rak gaun agak jauh dari bilik ganti Samantha menoleh.

"What about this one?"

Millie memperhatikan gaun itu beberapa detik. Ia sebenarnya tidak tahu harus menjawab apa karena hampir semua gaun yang dicoba Samantha memang terlihat bagus.

Akhirnya, ia hanya mengangkat satu ibu jari sambil tersenyum setengah hati.

"It's good."

Bukannya tersanjung, Samantha malah mendesah kesal.

"Kamu sama saja seperti Charlie!"

Millie terkekeh kecil. "Well, it does look good on you though, Samantha."

Namun Samantha sudah kembali membalikkan tubuh dan masuk ke bilik ganti, seolah jawaban Millie tadi masih jauh dari standar yang ia inginkan. Millie hanya menggeleng pelan, lalu kembali memperhatikan deretan aksesori di bagian lain toko.

Charlie yang rupanya sudah bosan berdiri sendirian akhirnya melangkah mendekati Millie.

"Hey—"

"Look, you might wanna give Samantha this."

Millie buru-buru menunjuk salah satu kalung di dalam etalase, sengaja memotong apa pun yang hendak Charlie katakan. Charlie mengikuti arah telunjuknya dan mendapati sebuah kalung perak.

"What would I give Samantha a necklace?"

Lihat selengkapnya