Charlie tampak begitu tampan malam ini.
Jas hitam dan kemeja berwarna senada membalut tubuhnya yang tinggi dan tegap dengan sangat pas. Rambut cokelat yang biasanya dibiarkan berantakan kini tertata lebih rapi, meskipun beberapa helainya masih jatuh sedikit di atas dahi dan membuat penampilannya tidak terlihat terlalu kaku.
“Smile for the camera!”
Josh kembali mengangkat kameranya dan menyuruh Charlie berdiri sedikit lebih tegak di ambang pintu. Charlie menurut dengan ekspresi setengah pasrah, memaksakan senyum di bibirnya tersungging sementara ayahnya tidak berhenti memotret dari berbagai angle. Satu tangannya memegang kotak kecil berisi corsage anggrek ungu.
Corsage yang, pada akhirnya, Charlie pilih sendiri tanpa meminta saran ataupun bantuan dari Millie.
“Dad, come on. I’m gonna be late,” gerutu Charlie ketika suara kamera kembali berbunyi untuk entah keberapa kalinya.
“Charlie, kapan lagi kami bisa melihatmu serapi dan setampan ini? Oh my God, look at you. So sharp. So handsome," ujar Mama Millie dari sebelah Josh dengan mata berbinar penuh kebanggaan.
Lagi-lagi Charlie hanya bisa mendesah panjang, pasrah dan ingin cepat-cepat pergi dari sana. Atau setidaknya Charlie ingin sekali merebut kamera dari tangan ayahnya dan membuangnya saja jauh-jauh.
Millie hanya bisa menyaksikan semua itu dari dapur. Setiap kali matanya menangkap ekspresi nelangsa Charlie, bibirnya nyaris mengukir senyum geli.
Kalau saja kejadian empat hari yang lalu itu tidak pernah terjadi, Millie pasti sudah ikut bergabung dengan Josh dan Mamanya di depan halaman sana.
Millie sudah membayangkan ia bakal jadi yang paling sibuk membetulkan penampilan Charlie, memastikan jas yang dikenakannya tidak kusut sedikitpun, atau mungkin menjadi juru foto dadakan agar Millie bisa mengambil potret Charlie berdiri bersama ayahnya.
Ya, semua momen itu bisa saja terjadi, jika saja Millie tidak mengikuti kata hatinya yang sembrono dan membuat Samantha sampai murka kemarin itu.
Kebungkaman Charlie maupun Millie kini terasa seperti dulu lagi, seperti ketika Millie baru pindah ke Texas.
Walaupun kali ini, bukan Charlie lah yang secara terang-terangan menjauhinya. Justru Millie yang selalu lebih dulu mencari alasan untuk pergi setiap kali mereka berada di ruangan yang sama.
Jika Charlie masuk ke dapur, Millie akan membawa minumannya ke ruang keluarga. Jika Charlie duduk di ruang keluarga, Millie akan mengatakan ada tugas yang belum selesai dan naik ke kamar. Bahkan ketika Charlie beberapa kali tampak ingin mengajaknya bicara, Millie selalu berhasil menemukan alasan untuk menghindar.
Ia hanya tidak tahu bagaimana harus menghadapi Charlie sekarang.
Di luar rumah, setelah akhirnya berhasil melepaskan diri dari antusiasme Josh, Charlie berjalan menuju mobilnya.
Ia membuka pintu pengemudi, tetapi sebelum masuk, ia berhenti sejenak.
Charlie menoleh ke arah rumah, menatap pintu depan yang masih terbuka. Berharap seseorang yang sejak tadi ia harapkan kehadirannya pada akhirnya muncul di detik terakhir sebelum Charlie pergi ke pesta Prom.
Namun tidak, tidak ada yang muncul. Millie tetap tidak muncul.
Charlie akhirnya mengalihkan pandangan dan menunduk sebentar sebelum masuk ke dalam mobil.
Di sisi lain, Magda yang sudah menyadari keanehan dua kakak beradik tiri itu sejak kemarin, akhirnya membuka suara.
“What is it now?”
Millie baru saja meletakkan piring terakhir yang ia keringkan dengan lap ke rak ketika suara Magda membuatnya menoleh.
“What is?”
“That,” Magda menganggukkan dagunya ke arah pintu depan, “Both of you.”
Millie mengangkat kedua bahunya, berusaha tampak acuh walaupun usahanya jelas sia-sia saja.
“Nothing, we're fine.”
Millie mengembuskan napas panjang, lalu menunduk menatap ujung sepatu ketsnya selama beberapa saat. Ia meletakkan kain lap di atas meja dan memberikan senyum tipis pada Magda sebelum akhirnya berjalan meninggalkan dapur.
Magda memandangi punggung Millie dengan iba tanpa berkata apa-apa lagi.
Ada banyak hal yang sebenarnya ingin sekali Magda katakan kepada Millie.
Namun semua itu bukan rahasianya untuk diceritakan.
****
“Millie! Earth to Millie!”
Millie tersentak ketika Hannah menjentikkan jarinya tepat di depan wajahnya. Ia mengangkat kepala dengan ekspresi kosong, baru menyadari bahwa Hannah sudah memperhatikannya sejak beberapa saat lalu.
“What?”
“You’ve been staring at the same algebra problem for five freaking minutes.”
Millie menunduk melihat buku di pangkuannya yang sejak tadi terbuka tanpa benar-benar ia pelajari.
Ia pun menghembuskan napas dengan berat serta lelah.
“Sorry. I haven’t been getting much sleep lately,” ujar Millie sambil meletakkan pensil dan mengusap sebagian wajahnya.
Hannah tidak langsung kembali menekuni tugasnya. Ia mengamati Millie sesaat dengan khawatir.
“You still in fight with him?”
Millie menggeleng pelan, “We’re not. We’re not fighting. We’re just…”
Millie tidak sanggup meneruskan ucapannya. Ia sendiri tidak tahu bagaimana harus menjelaskan hubungan mereka sekarang. Tidak sedang bertengkar, tetapi juga tidak benar-benar berbicara. Tidak saling membenci, tetapi setiap pertemuan rasanya sangat canggung. Tidak ada yang meminta maaf, tidak ada yang mencoba menyelesaikan apa pun, dan entah bagaimana semua itu terasa jauh lebih melelahkan daripada pertengkaran sebenarnya.
“Kenapa hubungan kami terasa lebih jauh lebih mudah ketika dia masih di Seattle? Saat ia kembali ke River Oaks, dia jadi lebih... Jadi lebih..."
“Menyebalkan? Brengsek? ” Hannah menimpali.
Millie meliriknya. Satu detik kemudian, mereka menertawakan ucapan Hannah.
“Apa semua kakak laki-laki memang seperti ini? Se menyebalkan ini? Dan kenapa rasanya adik perempuan selalu jadi pihak yang salah?”
Hannah terdiam sejenak. Kemudian tangannya bergerak dan menyentuh punggung tangan Millie dengan pelan.
“Aku tidak punya saudara laki-laki, Millie,” katanya. “Tapi aku punya sepupu laki-laki. Kami cukup dekat sampai aku bisa menganggapnya seperti kakakku sendiri. Dan ya, kami juga sering bertengkar. Salah paham. Pernah tidak bicara beberapa hari hanya karena sama-sama terlalu keras kepala.”
Millie mengangguk perlahan. Jawaban Hannah memberi secercah kelegaan, seolah Hannah baru saja membuktikan bahwa semua kekacauan ini mungkin memang bagian biasa dari hubungan kakak dan adik.
Namun ternyata ucapan Hannah belum selesai sampai disitu.
“Tapi kakak sepupuku tidak pernah membuatkan mobil untukku, Millie.”
Millie mengangkat wajah.
Hannah menatapnya cukup lama sebelum melanjutkan, “Dan dia juga tidak pernah menatapku seperti Charlie menatapmu.”
Ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuat Millie merasa tidak nyaman.
“Menatap bagaimana?”
Hannah tidak langsung menjawab. Ia menatap Millie sejenak, seperti mempertimbangkan sesuatu dengan tepat.