Charu

sk_26
Chapter #17

Perkemahan lereng Appoy

Pagi berkabut.

Sebuah kereta kuda yang telah disiapkan berisi satu penumpang hendak dilajukan. Sang kusir hampir saja menarik tali di kedua telapaknya, tapi penumpang tunggal dibelakangnya justru berseru dengan cepat. "Tunggu ... biarkan aku turun sebentar untuk mengantar sesuatu penting!" Charu perlahan turun menuju bibi Darlie yang sejak tadi menatapnya dengan raut sedih.

"Putri, kereta tuan Haru dan tuan Natsu sudah mulai berangkat." tutur sang kusir, kemudian menatap kereta milik pangeran Haru dan pangeran Natsu yang perlahan mulai mengabur dari netra.

Charu tak mengindahkannya, lalu dengan langkah jinjit setengah berlari menghampiri Darlie. "Bibi ... surat untuk ibu suri. Tolong sampaikan pesan ini sepekan mendatang." Charu mengulum senyum di akhir kalimatnya.

Darlie mengangguk. Setelah itu tuan putri gegas kembali ke dalam kereta kencana tanpa sepatah katapun lagi. Meninggalkan wanita yang pernah mengasuhnya itu dengan perasaan bersalah. Tatapannya yang sendu dan kebohongan Charu seolah menjadi belenggu dalam hati Charu. Hatinya mencelos diliputi kepiluan serta perasaan iba yang terus merangkak seiring kecepatan laju kereta. Jika bibi Darlie tahu, ia pasti tak akan mengizinkannya. Dan jika bibi Darlie tidak tahu, seumur hidup ia tak akan mampu memaafkan dirinya sendiri atas kebohongan ini. Sungguh, Charu tak sanggup membayangkan keduanya dalam waktu bersamaan.

"Kusir, percepat laju keretanya ... kita tidak boleh kehilangan jejak!" titah Charu berusaha tegar. Buliran buliran bening telah memenuhi pelupuknya, tapi Charu berusaha menahannya. Suara napasnya berat, dada bergetar menahan isak. Kenangan bersama bibi Darlie, paman Phau masih terasa begitu nyata. Bukan hanya mereka, Charu juga merasa berhutang pada tempat itu. Tempat yang telah membesarkannya selama sembilan tahun lamanya. Kini ia pergi dengan cara yang paling kejam menurutnya. Air matanya pecah.

"Putri, kau baik-baik saja?"

"Ya, aku baik baik saja." kata Charu sambil menggeser kain tirai jendela kerata, berusaha menyamarkan isaknya yang terlanjur terdengar. "Hanya saja aku merasa sedikit terganggu karena suhu dingin yang membuat hidungku sensitif. Aku akan menutup jendelanya."

Salju tebal nan tinggi menyelimuti bangunan-bangunan serta menutup sebagian jalanan kota. Pepohonan yang rindang seolah tenggelam oleh warna putih yang berlapis. Dingin nan sunyi. Rute menuju perbatasan menjadi samar tertutup kabut. Hawa dingin menusuk bagaikan belati yang mengiris tulang. Ini baru permulaan, perjalanan yang sesungguhnya akan segera dimulai.

Sementara itu jarak Sora dan Waji terlampau cukup panjang. Roda kereta harus tetap kuat untuk melaju diatas tebalnya es di sepanjang jalanan terjal, serta menuruni medan landai yang memerlukan kewaspadaan serta kesabaran agar segera sampai di kaki lereng gunung Appoi. Gunung yang menjadi titik seberapa jauh jarak yang terbentang.

"Berhenti disini!" seru Natsu begitu roda menyentuh area kaki gunung. Kereta segera berhenti. Menyisakan tanda tanya bagi dua kereta yang mengantri dibelakangnya.

"Badai salju sepertinya akan segera turun, tuan. Apa baik-baik saja jika keluar dari kereta?" tanya penasehat Natsu yang berada satu kabin dengannya. "Tuan harus mengenakan mantel tebal untuk melindungi diri."

"Aku hanya memeriksa sebentar." Natsu lalu turun untuk melihat keadaan pangeran Haru yang berada di belakang. "Kau baik-baik saja, adik?" tatapnya cemas.

Haru mengangguk, "jangan khawatirkan aku, kakak Natsu. Kita harus segera mencari tempat yang aman. Setelah badai salju, kita harus cepat sampai ke Waji."

"Ada apa?" Charu yang semula berada di kereta akhirnya tak bisa menahan diri untuk tidak turun memeriksa. Khawatir sesuatu terjadi pada pangeran Haru.

"Kita segera menepi ke lereng gunung!" terang Natsu. Uap dingin keluar dari bibirnya secara teratur. "Charu, kita akan mendirikan kemah sampai badai selesai."

"Baiklah," jawab Charu.

Lihat selengkapnya