Charu

sk_26
Chapter #20

Paviliun Jingga

“Sejak kembali dari ruangannya, sikap ayahmu berubah menjadi sangat dingin terhadapku. Ia bahkan menolak saat aku mengajaknya untuk makan.” Ratu Momo sedang mengadukan kelu kesahnya pada putri sulung, tapi yang diajak bicara sedang hidup dalam lamunannya. “Reina, kau baik-baik saja?”

“Aku baik-baik saja, ibu. Yang ibu katakan tadi, Reina tak mengerti penyebabnya. Bukankah tadi siang ayah memanggil Charu ke ruangan kerjanya?”

Ratu Momo mengangkat satu alisnya, “benarkah?”

Reina mengangguk.

“Bertemu siapapun, tak seharusnya sikapnya menjadi dingin seperti ini kepadaku. Lagipula, pertemuan dengan gadis itu tak akan membuat raja berubah sikap, bukan?”

“Ibu?” Reina menatap mata ibunya dengan lekat. “Sebentar lagi musim dingin akan segera berakhir, acara festival lampionnya ... harus segera dilaksanakan. ”

“Kau ingin mengikuti festival itu? Ada apa ... kau biasanya tidak menyukai acara apapun yang berkaitan dengan perayaan musim dingin.” Ratu menatap putrinya dengan tatapan heran, namun sedetik kemudian ia mulai menampakan senyumnya. “Kau ingin merayakannya bersama Pangeran Natsu?”

“Ibu!” Mata Reina mendelik.

“Baiklah sayangku ... Reina-ku ini sudah tumbuh menjadi gadis yang besar. Festivalnya akan diadakan secepatnya. Mungkin lusa, atau besok malam. Kau tak sabar?” Ia mengelus dagu Reina yang sedang malu-malu.

“Akan sangat menyenangkan jika acara penerbangan lampion disaksikan oleh dua kerajaan.”

Tap Tap Tap

Derap sepatu pangeran bungsu membuat keduanya menolehkan wajah. Ratu Momo meletakkan cangkir tehnya, “putraku, Ren ... apa yang membawamu ke istana Ratu?”

“Hormat ananda Ren, pangeran bungsu paling kharismatik dan paling loyal terhadap kerajaan Waji.” Ren mulai membungkuk sempurna.

“Dasar bocah aneh!” kemam Reina sambil menggelengkan kepala.

“Ibu, kakak Reina yang cantik, dengarkan aku. Aku membawa kabar gembira yang akan membuat kalian sangat berterima kasih kepadaku.” sumbar Ren yang mulai mengambil posisi di dekat kakaknya. “Terlalu lama menjadi putri yang dingin bukanlah hal yang baik.”

“Ren, apa yang kau katakan!?” ratu Momo menghela nafas. “Kau baru saja masuk dan ingin membuat keributan dengan kakakmu?”

“Justru aku datang untuk membuat perubahan yang besar dalam kehidupan kak Reina.” bantah Ren dengan senyum sumringah, “pangeran Natsu malam ini akan mengajakmu kencan!” Ren berbisik.

“Ren! Kau ini sudah tak waras, ya!? Pergi sana ... aku tak butuh wajah menyebalkanmu itu!” bentak Reina dengan mata tersulut. Sudah berapa kali ia ingatkan agar tidak membahas pangeran Natsu di depan kedua orang tua mereka.

“Memangnya apa yang salah jika pangeran Natsu mengajakmu berkencan? Kakak, kau ini jangan terlalu pendiam, ya ... usiamu sudah tujuh belas tahun, sudah saatnya gadis seusiamu bertemu dengan laki-laki dan menghabiskan waktu bersama! Hidupmu sangat kaku dan membosankan.”

“Cih, otakmu itu ... jangan samakan aku denganmu, Ren!”

“Reina, Ren.” Ratu menenangkan kedua anaknya, “apa pantas kalian bertengkar seperti ini?” ratu melirik pada Reina dan Ren yang sama-sama menyilangkan dada. Mereka terkadang terlihat seperti anak kecil yang berebut mainan ketika bersama. “Reina, saran dari adikmu ada benarnya.”

“Ibu!” Reina menatap ibunya tak percaya. “Kalian berdua.”

Lihat selengkapnya