Malam berlalu, sejak pertemuannya dengan Pangeran Natsu, Reina sulit sekali memejamkan mata. Selalu wajah pangeran yang berjuluk Senja yang muncul dalam kepalanya.
Julukan itu memang cocok. Rambutnya gelap tapi matanya seperti cahaya jingga terakhir sebelum malam. Tenang, hangat, dan membuat orang ingin menatapnya lebih lama.
Reina berguling di atas tempat tidurnya. Memeluk bantal. Lalu melempar bantal itu karena kesal pada dirinya sendiri. Putri yang dingin ini menjelma menjadi gadis kasmaran yang sangat aneh.
“Apa yang kau lakukan, Reina? Kau seperti gadis-gadis di buku romansa murahan yang dibaca pelayan-pelayan itu!” pekiknya pada diri sendiri.
Ia bangun, menyalakan lilin, dan mencoba membaca buku. Buku yang sama yang dibahas Natsu tadi. Tapi huruf-hurufnya berantakan. Yang ia lihat hanya senyum kecil Natsu ketika menemukan kesalahan di halaman 47.
Tok Tok!!
Pintu kamarnya diketuk pelan.
“Kakak? Kau belum tidur?“ suara Ren dari luar, berbisik seperti maling.
Reina membuka pintu dengan wajah cemberut. Ren hanya ingin memastikan apakah kakak sulungnya itu baik-baik saja setelah pertemuan istimewanya dengan Natsu. “Bagaimana? Pangeran Senja-mu itu? Apa ada kendala sejauh ini?”
“Ren, kau jangan membuatku kesal! ” Reina mendengus, tapi tak bisa menyembunyikan raut wajahnya yang salah tingkah itu. “Berhentilah memanggilnya begitu.”
Ren tetawa kecil, “besok malam perayaan lampion musim dingin akan diadakan,” kata Ren, nadanya tiba-tiba lebih dewasa. “Semua orang akan menyalakan lampion dan menulis nama seseorang yang ingin dinikahi. Aku mengerti mengapa kau tiba-tiba ingin mengikuti upacara itu, kak.”
Reina terdiam. Ia tahu tradisi itu. Tapi adiknya ini selalu ingin menguji kesabaran. Pertama dia membocorkan banyak hal tentangnya kepada Natsu, lalu dia menyinggungnya tentang julukan yang ia beri pada pria yang dicintainya itu. Dan sekarang, astaga! Reina bersumpah akan mengusirnya dari kamar jika ia tak bisa berhenti berbicara.
Reina menatap lampion kertas di sudut kamarnya yang belum dinyalakan. Cahaya lilin dari cangkir cokelat memantul di matanya. “Apa kau sudah puas mempermalukan kakakmu ini, hah!?”
***