Waktu upacara lampion akan dimulai sebentar lagi. Istana kerajaan dipenuhi cahaya dan suara yang belum pernah seramai ini. Seluruh koridor digantung lampion Jingga — ratusan, mungkin ribuan. Cahayanya memantul di salju yang baru turun, membuat seluruh istana tampak seperti berada di dalam cahaya senja yang tidak pernah padam. Aroma kue beras, teh jahe, dan kayu bakar bercampur menjadi satu.
Para putri dari kerajaan tetangga berjalan dengan gaun terbaik mereka. Para pangeran dengan jubah kebesaran mereka. Musik guqin mulai dimainkan pelan dari aula utama. Tapi di tiga paviliun yang berbeda, tiga hati berdebar dengan alasan yang berbeda.
Di Paviliun Timur, Putri Reina menatap cermin. Gaun biru pucat pilihan ibunya yang akan membalut tubuhnya malam ini terlihat sangat serasi.
Di Paviliun Barat, Charu sudah siap. Gaun merahnya menyala. Lampion kecil miliknya ia sembunyikan di balik lengan bajunya. Ia menatap cermin perunggu itu lagi, tapi kali ini bukan untuk mencari siapa dirinya. Ia menatap untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa malam ini, ia akan berdiri sebagai Charu — bukan sebagai putri kedua, bukan sebagai anak yang diselamatkan. Hanya Charu.
Gong besar istana ditabuh. Musik guqin berhenti.
DUNG!!
Upacara lampion musim dingin resmi dimulai. Raja Chang mengangkat tangan. Semua hening.
“Sudah waktunya!” serunya lantang. "Tuliskan nama orang yang paling ingin kalian jaga cahayanya supaya tetap menyala tahun ini. Biarkan air yang membawanya!"
Para pelayan mendorong pintu besar di belakang aula. Di balik Kolam Cermin besar di tengah istana yang airnya tidak pernah beku, bahkan di musim dingin, karena ada mata air panas di bawahnya. Ratusan lampion teratai kecil sudah disiapkan di tepinya, lengkap dengan kuas dan tinta.
Tradisinya bukan dansa. Tradisinya adalah menulis nama.
Jika kau menulis nama seseorang di lampion airmu, dan melepaskannya bersamaan dengannya, artinya kau berjanji akan menjaga orang itu sepanjang musim dingin yang akan datang. Begitu tradisinya.
Semua orang menulis nama yang mereka inginkan tak terkecuali Pangeran Haru. Ia menuliskan nama Sora dengan tinta tebal. Tongkat estafet kepemimpinan kini berada ditangannya. Ia berharap ia akan menjadi pemimpin yang luar biasa untuk kerajaan Sora juga Muratsuki.
Reina mengambil satu lampion teratai. Sebuah nama sudah ia siapkan. Namun sebelum ia menggoreskan tinta itu, ia menatap ke seberang kolam. Disana pangeran Natsu juga sedang menulis, wajahnya terlihat sangat serius.
Reina memejamkan mata sejenak kemudian menulis dengan huruf kecil yang hanya bisa dibaca oleh air.