Hari-hari berlalu.
Pendidikan yang Pangeran Haru tempuh di Waji selama beberapa pekan akhirnya telah cukup sebagai bekal untuknya kembali ke Sora.
Di Waji ia Belajar strategi perang bersama jenderal-jenderal Waji, belajar tata krama dan politik di bawah pengawasan langsung Ratu Momo, serta pengembangan strategi kepemimpinan yang dipelajari langsung dari raja Chang.
Kini waktunya telah tiba.
Di seberang lautan, rakyat Muratsuki sudah menantikannya dengan penuh harap. Kabar tentang kepulangannya sudah menyebar ke setiap sudut desa. Mereka telah lama merindukan sosok pewaris sah kerajaan Sora yang bijaksana seperti pemimpin sebelumnya.
Di istana Sora, Ibu Suri yang sudah menua menghitung hari dengan cemas di kamarnya. Bibi Wein yang selama ini menjadi ibu pengganti baginya telah menyiapkan segala keperluan upacara. Semua petinggi kerajaan, para menteri dan panglima perang, sudah tidak sabar menantikan hari penobatannya sebagai Raja Sora yang baru. Sudah saatnya Sora bersinar. Diantara banyaknya pihak yang mendukungnya, satu pengecualian yakni selir Daini yang tidak berharap penobatannya.
Namun ada sesuatu yang menarik dari penobatan raja kali ini, orang yang paling berjasa atas kesembuhannya justru tidak turut serta menyaksikannya. Seperti yang telah Charu sampaikan dan tetap ia pertahanan, ia tak akan kembali lagi ke Sora.
Bibi Darlie dan paman Phau bahkan sangat sedih ketika mendengar kabar ini. Ibu suri yang marah karena Charu melanggar etika kerajaan serta permaisuri Wein dan Ishi yang gembira karena orang yang sangat dibencinya itu kini tak ada. Semuanya membicarakan gadis panti asuhan itu yang datang dan pergi secara tiba-tiba.
Tibalah saatnya acara penobatan Raja Sora.
Hari yang telah ditunggu-tunggu selama bertahun-tahun akhirnya datang. Sejak fajar, seluruh ibu kota Muratsuki sudah dipenuhi lautan manusia. Rakyat dari desa-desa terpencil datang berbondong-bondong, mengenakan pakaian terbaik mereka hanya untuk menyaksikan satu momen bersejarah.
Istana Sora yang selama bertahun-tahun terasa suram dan kosong tanpa sosok raja, kini dihias begitu megah. Bendera dengan lambang bunga seruni berkibar di setiap menara. Lonceng-lonceng kuil dibunyikan tanpa henti, mengalunkan doa dan harapan untuk era yang baru.
Di balairung utama, semua petinggi kerajaan telah berkumpul. Ibu Suri duduk di singgasana samping dengan mata yang berkaca-kaca, menahan haru setelah penantian yang begitu panjang. Di sebelahnya, pangeran Natsu, raja Chang, ratu Momo dan pangeran Ren turut menyaksikan penobatan dengan perasaan yang sama.
Pintu besar balairung terbuka perlahan. Pangeran Haru melangkah masuk dengan pakaian kebesaran Raja Sora. Wajahnya yang dulu terlihat begitu lemah dan pucat setiap kali bulan purnama sebagai pangeran muda yang sakit-sakitan, kini telah berubah menjadi sosok pemimpin yang gagah dan penuh wibawa. Pendidikan kilat di Waji terpancar jelas dari setiap langkah dan tatapannya yang tenang.