Charu

sk_26
Chapter #25

Sesuatu yang sulit dijelaskan

Sekembalinya dari paviliun Putri Reina, entah mengapa perasaan Charu justru semakin tidak nyaman.

Langkah kakinya yang biasanya ringan saat menyusuri koridor istana, kini terasa berat. Angin sore yang melewati serambi tidak lagi terasa sejuk.

Sewaktu Putri Reina mengatakan jika Pangeran Natsu memperlakukannya sangat manis belakangan, hati Charu seolah perih. Ada sekelumit perasaan seperti tersisih yang diam-diam menyelinap tanpa pernah Charu sadari.

Kak Natsu, sosok yang selalu ia anggap hanya miliknya — kakak sepupu yang hanya mau mendengarkan keluh kesahnya, yang hanya tertawa kecil saat Charu sedang kesal, yang hanya selalu menemaninya ke pantai, dan yang berjanji akan selalu ada untuknya. Ternyata sisi lembut itu juga bisa diberikan kepada orang lain. Bahkan dengan pesan yang lebih manis, 'menjaga kesehatan'.

Charu duduk di tepi ranjang kamarnya. Aksesoris itu masih terbayang jelas di kepalanya. Hadiah yang seharusnya menjadi miliknya, kini berada di tangan Putri Mahkota. Dan itu semua karnanya.

Rasa perih itu bukan cemburu, bukan juga marah. Ia sendiri tidak mengerti. Yang ia tahu, taman tempat ia dan Kak Natsu biasa bertemu, sore ini terasa tidak ingin ia kunjungi lagi. Kak Natsu sudah milik orang lain. Dan orang itu adalah adiknya sendiri—Reina.

Harusnya ia turut bahagia karena dua orang yang baik itu akhirnya akan menikah.

Putri Reina adalah adik tirinya. Yang sejak awal menganggapnya seperti teman dekat, yang selalu diajaknya berbicara tanpa memandang statusnya. Kak Natsu, dia adalah orang pertama di istana yang menganggapnya keluarga. Di saat semua orang hanya melihatnya sebagai anak panti yang tidak penting, hanya Kak Natsu yang memanggilnya, "Charu, apa kau baik-baik saja?”

Lalu untuk apa ia merasa seperti ini? Perasaan sesak, perih, dan seperti tersisih ini untuk apa? "Tidak!" Ia menepis pikiran egoisnya sendiri. Ia menggelengkan kepalanya dengan keras, seolah ingin mengusir bisikan-bisikan itu dari kepalanya.

Kak Natsu, dia sudah dewasa. Ia adalah Pangeran yang gagah dan terhormat. Ia pantas mendapat pasangan yang memiliki kehormatan dan posisi seperti Putri Reina. Seorang putri raja yang disayangi semua orang. Bukan seorang putri yang keberadaannya sejak awal penuh penolakan. Yang akan seterusnya disembunyikan identitasnya bahkan oleh ayahnya sendiri.

Charu menarik napas dalam-dalam. Ia memutuskan untuk tersenyum. Jika pernikahan itu memang akan terjadi, ia harus menjadi orang pertama yang memberi selamat dan berbahagia atas mereka.


***

Senja baru saja turun ketika suara genderang dari gerbang utama istana bertalu-talu. Rombongan Raja Chang dan Ratu Momo akhirnya kembali dari Sora.

Debu perjalanan masih menempel di jubah kebesaran Raja, tapi wajahnya terlihat puas. Ratu Momo berjalan di sampingnya, sesekali menatap ke arah paviliun Putri Mahkota. Para dayang segera berlari kecil menyambut, membawakan air dan handuk hangat.

Raja Chang tidak langsung beristirahat. Ia langsung duduk di singgasana kecil di aula depan, memanggil semua dayang untuk menyiapkan jamuan sederhana. Perjalanan ke Sora telah usai dengan membawa kabar gembira.

Keesokan paginya, sebelum matahari benar-benar tinggi, Raja Chang dan Ratu Momo sudah mengadakan rapat penting di Balai Serbaguna. Beberapa penasehat senior kerajaan, kepala upacara istana, Charu dan Putri Reina yang duduk dengan punggung tegak di sisi Ratu Momo. Tak lupa si bungsu Ren yang merupakan pangeran satu-satunya raja Chang dan ratu Momo.

Peta perbatasan Sora dan daftar hadiah pertunangan digelar di atas meja panjang.

“Ini bukan sekadar pernikahan,” kata Raja Chang, suaranya berat dan penuh wibawa. “Pertunangan putri Mahkota Reina dengan Pangeran Natsu adalah jembatan antara kita dan Sora. Kita tidak boleh ada kesalahan sedikit pun dalam upacara lamarannya.” Kepala upacara mencatat dengan cepat. Daftar kain sutra, perhiasan mahkota, dan jumlah prajurit pengawal mulai dibacakan satu per satu.

Putri Reina hanya menunduk, mendengarkan. Di balik wajahnya yang tenang, jantungnya berdebar begitu kencang. Nama Natsu disebut berulang kali di dalam rapat itu, dan setiap kali namanya disebut, ia tidak bisa menahan senyum tipis yang muncul di bibirnya. Ratu Momo yang duduk di sampingnya menyadari hal itu. Ia tersenyum kecil dan diam-diam menggenggam tangan Reina di bawah meja.

Lihat selengkapnya