“Hamba tidak menangis, Yang mulia.” Charu mengusap pipinya yang basah. Entah sejak kapan air mata itu tiba-tiba turun begitu saja.
“Charu, aku sungguh sangat menyesal atas ketidakberdayaanku. Aku mengaku salah padamu, pada ibumu. Tapi aku melakukan ini demi kebaikanmu.”
“Tapi suara Yang Mulia tidak terdengar seperti ucapan seorang ayah yang sedang menyesal.”
“Jaga bicaramu, Charu!”
“Ayah,” lirihnya. “Apa ayah tahu bagaimana Charu menjalani hari-hari tanpa sosok ayah dan ibu yang menemani Charu? Apa ayah tahu bagaimana perlakuan orang-orang di istana Sora pada Charu waktu itu? Apa ayah tahu bagaimana sulitnya bertahan di tempat yang sama sekali tak menginginkan Charu? Ayah tak pernah tahu betapa sakitnya ketika ayah membanggakan putri Reina di depan semua orang. Tapi aku, Charu, harus menunduk, harus kecil, harus tidak terlihat agar tidak dibenci!”
“Charu!!” Darah Chang seketika mendidih. Refleks seorang Raja yang tidak pernah dibantah. Tangannya terangkat.
Tapi tangan itu berhenti di udara. Gemetar. Tidak pernah... tidak pernah ia mengangkat tangan pada anaknya. Charu tidak menghindar. Ia justru menatap tangan itu dengan air mata yang terus mengalir.
“Ayah ... aku juga putrimu, putri sulungmu.” Charu terisak. Air mata Charu yang sedari tadi ditahan akhirnya pecah juga. Suara isaknya menggema di dalam perpustakaan yang sunyi itu.
Raja Chang mematung. Meresapi tiap perkataan putrinya yang haus akan kasih sayang serta pengakuan dari ayah kandungnya.
“Ayah, kau tidak perlu cemas. Aku akan menyembunyikan identitasku ke ratu, putri Mahkota, putra bungsu. Aku akan menyembunyikannya ke semua orang, bahkan kepada diriku sendiri. Ayah tidak perlu mengkhawatirkan semua itu.” Kalimat itu begitu manis, begitu terdengar patuh, dan begitu menusuk raja Chang. “Aku akan terus bersikap baik dan menjadi teman yang setia untuk putri Reinamu.”
“Charu, apa kau sudah puas menceramahi ayahmu!?” gertak raja Chang yang sudah mulai hilang kesabaran. “Apa yang kau katakan? Apa kau lupa jika Reina adalah adikmu!? Menuntut perlakuan setara? Apa kau pikir hal itu tidak menimbulkan kecurigaan ratu?”
Charu tidak menjawab hanya menghapus air matanya.
“Apa didikan seperti ini yang diajarkan Sora kepadamu!?” Chang melangkah, mendekat ke arah Charu. “Kau tidak pernah belajar etika.”