Charu

sk_26
Chapter #27

Anda mirip ayahanda

Musim salju berlalu begitu cepat. Sejak terakhir kali ia dipanggil menemui raja di ruang pustakanya, Charu lebih sering terlihat di paviliunnya. Dia jarang keluar atau sekedar menemui putri Reina seperti sebelumnya.

Pagi ini ia memutuskan untuk berkuda di halaman belakang istana sendirian. Berpikir menunggangi kuda adalah satu-satunya cara untuk menghibur hatinya yang bersedih karena sikap raja kepadanya. Charu masih memikirkan semua perkataan raja Chang waktu itu. Semua perkataan itu terus berputar di otaknya, pagi siang dan malam.

Bau jerami, bau tanah basah, dan suara ringkikan pelan.

"Kau juga bosan ya?" bisik Charu sambil mengelus leher kuda hitam yang dipinjamnya dari kandang. Tanpa pelana mewah, tanpa dayang yang membantu, Charu melompat naik. Selendangnya yang lusuh ia ikat kencang.

Ia memacu. Tap, tap, tap, duk, duk.

Awalnya pelan, lalu semakin kencang. Mengelilingi halaman belakang yang luas itu.

Angin musim dingin masih menggigit pipinya, tapi di ujungnya sudah ada rasa yang berbeda. Musim semi akan tiba.

Di sudut-sudut halaman, tunas-tunas plum mulai mengintip, putih kecil malu-malu. Salju yang menumpuk di atap kandang mulai menetes. Mencair. Matahari pagi tidak lagi pucat, tapi hangat keemasan, menyentuh punggung Charu. Bunga-bunga liar yang selama ini tidur di bawah tanah, mulai memberanikan diri membuka mata.

Charu menarik tali kekang. "Hiaakk!!"

Kuda jantan itu meringik keras, kepalanya terangkat tinggi, lalu membawa penunggangnya berlari. Suara hentakan kaki berpadu selaras dengan degup jantung Charu yang akhirnya bebas.

Tanah halaman belakang yang masih lembap karena salju yang mencair itu terinjak-injak, memercikkan lumpur ke gaun sederhananya. Tapi Charu tidak peduli. Angin musim semi yang pertama akhirnya menyapu wajahnya.

Dinginnya sudah tidak menusuk. Angin itu membawa wangi — wangi tanah basah, wangi tunas plum yang mulai mekar di kejauhan, wangi jerami hangat dari kandang. Wangi kehidupan baru. Rambut Charu menari indah seiring dengan laju kuda.

Di setiap hentakan, Charu merasa beban di dadanya terlepas satu per satu. Beban sebagai putri yang tidak diinginkan. Beban sebagai bayangan Reina. Beban sebagai rahasia Ayah.

Untuk sementara, semua itu tertinggal di belakang.

Satu putaran.

Dua putaran.

Lima putaran.

Lihat selengkapnya