Charu

sk_26
Chapter #28

Persiapan pertunangan

Pesta pertunangan putri Mahkota Waji dengan pangeran Natsu akan dihelat beberapa hari mendatang. Seorang utusan mengabarkan jika rombongan calon pengantin telah tiba di pintu perbatasan. Raja Chang segera memerintahkan seluruh istana agar segera menyiapkan segala keperluan pesta.

“Pesta harus meriah ... aku tak ingin ada kekurangan satupun. Putriku Reina, dia akan menjadi seorang istri pangeran Natsu. Siapkan yang terbaik untuk menyambut keluarga calon menantu!” titah raja Chang dengan suara tegas.

Seluruh aula langsung bersujud. “Baik, Paduka!”

Sejak saat itu istana tidak pernah tidur.

Lentera-lentera merah digantung di setiap sudut. Karpet sutra terbaik dari gudang dikeluarkan. Para dayang berlarian — sebagian menjahit gaun baru untuk Putri Mahkota, sebagian menumbuk beras ketan untuk kue pesta, sebagian lagi memetik bunga plum yang baru mekar untuk hiasan. Semua orang sibuk untuk Reina.

Di tengah keributan itu, Charu hanya berdiri diam di antara para pelayan, dayang, kasim istana yang sedang sibuk mengerjakan tugas masing-masing mereka. Charu tersenyum, namun tatapannya pias. Andai dia yang akan menikah, apakah ayahnya akan melakukan hal yang sama?

“Putri Charu!” panggil seseorang dengan suara yang lembut.

“Putri Reina? Kenapa anda keluar?”

“Aku hanya bosan, ingin melihat ke halaman. Apa kau sedang sibuk?”

“Tidak ...” jawab Charu. “hanya menonton pekerjaan mereka.” tatapannya terarah ke para pelayan pria yang memasang tirai sutra putih yang menjuntai dari atap. Sutra itu berkibar tertiup angin musim semi. Menebarkan bayangan lembut ke bawah. “Ini akan menjadi perayaan termegah selama musim semi.”

Reina tersipu. Suasana hatinya yang murung beberapa waktu yang lalu perlahan sembuh. “Kalau begitu, bagaimana kalau kita mengobrol di bangku taman?” tawarnya yang langsung disetujui Charu dengan anggukan.

Mereka berdua menuju ke sebuah kursi terdekat untuk mengobrol. Satu putri Mahkota, dan satunya lagi hanya putri paviliun. Dua putri dengan nasib yang berbeda sedang duduk bersama.

“Putri Charu, apa akhir-akhir ini ayahanda sering memanggilmu?” tanya putri Reina dengan sangat hati-hati. Ia takut menanyakan hal itu, tapi ia juga sangat tersiksa menyembunyikan hal itu.

“Tidak, putri ... Yang mulia jarang memanggil saya. Hanya sekali ketika saya baru saja tiba di Waji.”

Reina mengangguk. Charu, bagaimana bisa kau menyembunyikan ini? Reina sangat merasa bersalah. “Begitu? Maaf aku salah lihat kalau begitu.”

Charu tersenyum kikuk. Reina, dia ingin sekali membahasnya diam-diam. Tapi dia juga tak bisa memaksa Charu jika yang bersangkutan tidak bersedia. Sejak mengetahui kebenaran itu, Reina memang jarang sekali keluar kamar dan mengobrol dengan Charu. Dia hanya sesekali bertemu di koridor istana lalu tersenyum. Hanya itu.

“Putri, kak Natsu sebentar lagi akan datang melamarmu ... apa kau sangat gugup?” Charu meremas jemari Reina.

Reina tersenyum lembut, “ya. Aku sangat gugup. Sesuatu yang sangat lama kuinginkan, mengapa tiba-tiba menjadi hal yang begitu menggelisahkan.”

Lihat selengkapnya