“Aku dengar putra jendral Shen sangatlah mapan. Dia terpelajar dan sangat sopan. Aku ingin memilihkan calon suami yang tepat untuk putri Charu. Di pesta pertunangan Reina nanti, semua keluarga jendral pasti akan menghadiri. Putri Charu dan anak jenderal pasti akan saling cocok satu sama lain.”
Raja Chang menghela nafas panjang. Sambil memijit pelipisnya ia berkata, “keputusan itu, baiknya tanyakan dulu pada putri Charu. Aku tak ingin mengambil langkah sepihak. Bagaimanapun juga, istana Sora masih berhak atas hidup putri itu.”
“Baiklah, Yang mulia, hamba akan membicarakannya dengan putri Charu.” Ia bergegas keluar lalu mengerling sinis.
“Benalu itu ... kau pikir aku tak tahu tentang hubungannya dengan calon menantuku?”
Ratu Momo kembali ke kamarnya. Menutup semua pintu dengan rapat. Hanya menyisakan satu pelayan setianya. Dia sudah seperti orang yang kehilangan akal. Selama ini dia adalah sosok ratu dan wanita paling anggun serta murah hati. Tak disangka, naluri keibuannya menjadikan ratu menjadi sosok penjahat yang paling menakutkan.
“Surat sialan ini! Aku tak akan membiarkan Charu merebut kebahagiaan putri Reinaku.”
Beberapa hari yang lalu, orang suruhan ratu Momo yang ditugaskan untuk menjadi mata-mata Charu menyampaikan bahwa pangeran Natsu telah mengirim sebuah paket untuk Charu. “Pelayan ... bakar surat ini! Pastikan tidak ada seorangpun yang mengetahui. Kalau sampai ada yang tahu, kau akan ku seret ke dalam penjara!”
“Mengerti, Yang Mulia ratu.” jawab pelayan itu dengan takut.
***
Sehari sebelum pertunangan digelar, pangeran Natsu dan selir Daini sudah tiba di istana Waji berserta rombongan dan keluarga dari pihak permaisuri Daini.
Pangeran Natsu terlihat sangat tampan mengenakan jubah berwarna merah tua. Rambutnya rapi. Wajahnya putih bersih bagaikan dewa. Tatapannya tenang namun memikat. Dia adalah sosok yang akan menjadi pusat perhatian selama beberapa hari di istana Waji mulai dari sekarang.
Raja dan ratu Waji menyambut menantu serta keluarga calon besan dengan sangat hangat. Karpet merah digelar. Para dayang membawa teh. Asap dupa tipis mengepul aromanya wangi menyerbak. Dengan sigap para pelayan menyiapkan beberapa nampan perak. Air mawar untuk cuci tangan. Kain hangat disodorkan. Tabuhan genderang pelan dimulai. Gerbang dalam dibuka lebar, tanda tamu agung diterima penuh hormat.
para pelayan menyiapkan beberapa meja rendah. Kain sutra terbentang. Cangkir porselen tersusun rapi berjajar. Lilin kecil dinyalakan. Aroma teh melati menguar lembut sebagai sajian pembuka.
“Pangeran Natsu beserta keluarga besar telah tiba di istana!!” Suara penjaga pintu meraung keras.
Raja dan Ratu Waji langsung berdiri dari singgasana. Langkah mereka turun pelan namun mantap.