Perjamuan di Aula Utama sudah lama bubar.
Pangeran Ren punya satu kebiasaan yang sangat unik yaitu suka berjalan-jalan tengah malam disekitar istana ketika sedang suntuk. Ia kerap berkeliling sendirian sambil bersenandung kecil menghirup udara segar. Ia memotong jalan lewat taman belakang agar tidak membangunkan para dayang. Jalan yang lebih sepi, lebih dingin, lebih indah untuk menatap rembulan. Pangeran Ren tidak berniat lewat Paviliun malam itu.
Salju tipis masih turun.
Di bawah Paviliun Tengah yang gelap, ia melihat punggung yang sangat ia kenal. Jubah brokat hitam keemasan. Rambut yang diikat mahkota giok. Tegak, tapi sedikit basah oleh salju. Ia lalu berhenti.
"Pangeran Natsu?" Kemam Ren dengan suara nyaris tak terdengar.
Pangeran Natsu tentu tidak menjawab. Ia masih mendongak ke atas. Ren mengikuti arah pandang calon kakak iparnya itu. Dan di jendela lantai dua, ada Charu. Dengan hanfu putih tipis, rambut berantakan, wajah sembab menahan tangis. Menatap Natsu dengan tatapan yang membuat Ren yang saat itu sedang bagus suasana hatinya mendadak lumayan gusar. Ada apakah disana?
Itu bukan tatapan seorang sepupu pada kakaknya. Itu tatapan seorang wanita pada pria yang ia cintai. Gadis itu terlihat seperti menangis. Bahunya berguncang hebat. Menatap Natsu dengan tatapan yang tidak pernah Ren lihat sebelumnya. Tatapan seorang wanita yang jatuh cinta sampai hancur.
Ren terpaku. Napasnya tercekat. Dunia seolah berhenti.
Ren menatap mereka bergantian. Otaknya yang lelah setelah perjamuan mencoba mencerna apa yang ia lihat. Seperti adegan perpisahan pasangan yang saling mencintai.
Samar-samar Ren mendengar ... Pangeran Ren mendengar dua sejoli yang membuat hati siapapun akan terenyuh. Sesuatu yang sangat mengguncang akal sehatnya. Putri Charu yang hebat itu? Dan pangeran Natsu? Pangeran Ren membeku ditengah keheningan malam. Bibirnya terkunci rapat, namun bola matanya hampir saja jatuh menggelinding di kakinya.
Salju yang perlahan surut, menjadi saksi bisu bahwa rahasia yang paling mereka jaga di istana ini, malam itu, akhirnya terbongkar oleh orang yang salah, di waktu yang paling salah. Pangeran dan putri Charu adalah sepasang kekasih yang saling merelakan.
Langkahnya mati di tengah jalan setapak bersalju. Di ujung sana, di bawah satu lampion merah yang hampir padam — ia melihatnya. Ren melihat semuanya dan mendengar kebenaran itu. Satu nama yang terus terlintas di kepala pangeran tujuh belas tahun itu hanyalah kakak perempuannya—putri Reina.
****
Esoknya, upacara pertunangan pangeran Natsu dan putri Reina tetap digelar seolah tak terjadi apapun sebelumnya.