Petang menjelang.
Pangeran Ren menemui pangeran Natsu di ruang baca setelah pertunangan. Tujuannya adalah berbicara secara empat mata dengan laki-laki yang saat ini menjadi calon kakak iparnya.
“Maaf jika hamba lancang mengatakan ini, tapi yang mulia pangeran Natsu, apakah anda dan putri Charu memiliki hubungan dekat?”
Pangeran Natsu mengernyitkan dahi, “aku dan Charu?” nada bicaranya sengaja ia buat setenang mungkin.
“Yang mulia pangeran Natsu, maaf aku tidak bermaksud menyinggung anda. Tapi, di malam setelah penyambutan permaisuri Daini dan rombongan Sora, aku melihat anda dan putri Charu sepertinya sedang terlibat percakapan yang serius. Maksudku, apa ada sesuatu yang tak kakak perempuanku paham tentang hal ini?!”
“Pangeran Ren, anda pasti salah melihat.” Natsu masih sudi menampilkan senyumnya yang ramah. Ia tahu kemana arah pertanyaan adik Reina ini. Malam itu, jika saja seseorang mendengarkan apa yang ia dan Charu bicarakan, maka konsekuensinya sangat fatal, bukan? “Aku dan Charu adalah saudara. Kami tumbuh dan besar di istana yang sama. Tentu saja kami sering mengobrol banyak hal. Kami memang sangat dekat.” Saudara. Itu adalah kata yang tepat untuk menutupi semuanya.
Ren terkekeh, “selarut itu?” Jemarinya mengetuk ujung meja dengan gerakan sangat pelan. Seirama dengan detak jantung Natsu yang mulai tak karuan. “Yang mulia, hamba tidak bermaksud menggurui. Tapi jika diantara anda dan putri Charu ada sesuatu, baiknya diselesaikan sekarang sebelum semuanya terlambat.”
Natsu mengeraskan rahang. Ucapan pangeran Ren memang benar. Ia tak bisa menyangkal, tapi ia tak akan pernah mengakuinya. “Charu sangat menyayangiku seperti kakak kandungnya sendiri. Jadi, sangat wajar kalau kami mengobrol banyak hal sampai lupa waktu. Tenanglah pangeran Ren, tidak ada apapun diantara aku dan Charu. Hanya sebatas kakak dan adik sepupu yang sangat dekat.”
Ren membantah, “tapi tatapan itu? Apa yang mulia sungguh-sungguh mengabaikannya?” Ren menatap Natsu dengan sangat tajam. “Aku tidak melihat tatapan seorang adik kepada kakaknya. Lagipula, mana ada adik yang menangisi pertunangan kakak sepupunya hingga selarut itu. Apa ada yang salah dengan kakak Reina—ku hingga membuat putri Charu menangis?”
Dibawah meja, tangan Natsu mengepal kuat. Tapi ekspresi diwajahnya selalu sama—tenang dan berusaha terkendali. “Tidak ada yang salah dengan putri Reina. Charu itu sangat kekanakan. Aku hanya berusaha membuatnya mengerti. Jadi, apapun yang pangeran Ren lihat, semuanya hanyalah praduga yang tak mendasar. Pangeran Ren sangat menyayangi putri Reina, itu sebabnya begitu sensitif.” Natsu tersenyum kecil, senyum yang membuat kesabaran Ren semakin terkikis. ”Sangat wajar bagi seorang adik yang menghawatirkan calon suami kakaknya.”