Pangeran Natsu dan putri Reina akhirnya resmi menikah. Raja Chang menganugerahkan gelar Pangeran Mahkota Pendamping sekaligus menteri urusan diplomatik. Jabatan itu tidak begitu saja raja Chang berikan pada menantunya. Ia tahu betul apa yang akan dilakukan pangeran Natsu dengan jabatannya itu.
Aula bergemuruh. Natsu yang asalnya hanya pangeran dari kerajaan kecil, kini dalam satu hari menjadi orang kedua paling berkuasa di Waji.
Pangeran Natsu menunduk, menerima anugerah itu sebagai kehormatan untuknya. Air matanya akhirnya jatuh karena haru, begitupun dengan Lady Daini.
Ia tahu apa artinya gelar itu. Itu bukan hanya kehormatan. Itu adalah belenggu. Dengan menerima posisi itu, ia tidak akan pernah bisa meninggalkan Waji. Tidak akan pernah bisa kembali ke kerajaannya. Dan tidak akan pernah bisa memilih Charu.
Dari jauh, di balik pilar aula tempat ia tidak boleh masuk, Charu melihat Natsu berlutut. Ia melihat kakak— orang yang ia cintai menerima takdir yang akan mengikatnya seumur hidup. Charu berbalik pergi, sebelum Natsu sempat melihatnya. Ia menjauh dari kerumunan. Ia tak perlu menunggu acara selesai.
Ujung gaunnya terseret pelan di atas lantai kayu koridor luar aula. Langkahnya kecil, terburu-buru. Ia menjauh dari kerumunan. Menjauh dari suara genderang kehormatan, dari sorak sorai para menteri yang memberi selamat pada Menteri Diplomatik baru, dari tawa bahagia Reina.
Semakin jauh ia berjalan, semakin sepi. Sampai kedua kakinya sampai di Taman Batu di belakang aula — taman yang tidak ada yang datang saat pesta berlangsung. Hanya batu, pasir putih yang disapu membentuk ombak, dan satu pohon plum yang belum berbunga.
Di sanalah akhirnya napasnya putus.
Charu bersandar di pilar kayu taman. Ia tidak menangis. Putri dari Kerajaan Sora tidak diajarkan menangis di tempat terbuka. Tapi bahunya naik turun.
“Kak Natsu ....”
Nama itu keluar seperti desir angin.
Di dalam aula, suara Raja Chang masih terdengar samar mengumumkan pesta malam.
***
Kediaman Charu kini ada di Paviliun paling ujung di komplek istana Waji. Tempat tinggal terpisah itu hasil dari negosiasi pangeran Ren dengan ayahandanya, tentunya dukungan dari ratu Momo yang berada di kubu Ren.
Orang menyebutnya dengan sopan sebagai 'Kediaman Tamu Kehormatan istana'. Tapi semua orang tahu artinya: tempat untuk tamu yang tidak boleh terlalu dekat dengan pusat istana. Kediaman itu hanya mempekerjakan dua penjaga pintu, serta satu dayang yang merangkap sebagai juru masak sekaligus. Tidak ada tabib, hanya dayang belia yang bernama Hana.