CHIT GWEE PUA

Petrus Setiawan
Chapter #1

Rahasia Keluarga

Hari itu, Selasa, 29 Agustus 2017, pertama kali aku berpikir bahwa aku bukan anak ayahku. Entah dengan siapa ibuku berselingkuh sampai mengandung dan melahirkan aku.

Pernah kubaca, kaum lelaki memikirkan tentang perempuan dan seks setiap 45 menit. Buatku, di usia delapan belas ini, angka itu jelas terlalu lama. Aku memikirkan tentang hal-hal berbau seks mungkin setiap sepuluh menit atau kurang. Setiap pagi, makhluk kecil lembek di dalam celanaku sudah pasti akan bangun dan menggeliat tanpa kusuruh, dan dalam sekejap, tanpa bisa kucegah, dia akan membesar dan mengeras, sekeras gagang pintu kamarku, membuat celanaku langsung sesak dan makhluk itu kesakitan. Harus kuakui, rasa sakit yang nikmat. Setelah itu, sepanjang hari lamunan jorok dalam kepalaku kerap datang dan pergi, saat kupandangi sosok-sosok indah para gadis di sekolah dan para guru perempuan, ataupun saat mereka tidak ada.

Namun, bagaimanapun selalu joroknya pikiranku, tidak pernah kupikir ibuku akan pernah berselingkuh, dan aku anak hasil perselingkuhannya dengan lelaki yang bukan ayahku, suaminya. Seandainya pun dia ingin berselingkuh, apakah dia punya kesempatan dalam kesehariannya membantu ayahku seharian di bawah terik matahari dan gelimang lumpur? Jika pun dia sempat, sulit kubayangkan ada lelaki yang akan tertarik berselingkuh dengannya, perempuan bersahaja dengan raut wajah yang selalu suram dan suara melengking yang jauh dari kata memikat, dengan kerut wajah yang jauh lebih ramai daripada perempuan seusianya, ditambah dengan aroma keringat babi yang menempel di pakaiannya, yang membuat kebanyakan orang akan menjauh.

Namun hari itu, saat dia masuk rumah sakit dan memerlukan tambahan darah, baru kutahu dia dan ayahku bergolongan darah yang sama, golongan O. Aku, sebagai anak yang berbakti tentu ikut mengajukan diri menyumbang darah, dan langsung ditolak. Hasil pemeriksaan menyatakan darahku masuk golongan B. Artinya cuma satu, aku bukanlah anak ayahku, karena dua orang tua bergolongan darah O seharusnya hanya bisa melahirkan anak bergolongan darah O. Setidaknya, begitulah yang kudengar dari guru biologiku.

Hari itu ayahku menyumbangkan darahnya dan menjadi suami pahlawan penyelamat istri, dan aku menjadi anak yang bingung tiada tara dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak kutahu harus kutanyakan pada siapa.

Aku duduk di bangku kayu selasar klinik. Di atap, kipas angin berputar pelan sambil berdecit. Lewat kaca pintu yang kusam, aku bisa melihat Ayah duduk di samping seorang perawat. Kemeja lusuhnya digulung sampai siku, memperlihatkan kulit lengannya yang hitam terbakar matahari. Suster menusukkan jarum ke lengannya, dan perlahan selang plastik mulai terisi darah merah tua.

Suster yang memeriksa sampel darahku tadi cuma berkata datar, "Dek, darahnya beda. Gak bisa jadi donor buat ibunya." Sempat kulihat raut menyelidik pada tatapannya padaku, meski dia tidak menanyakan apa-apa. Sebaiknya memang tidak, jika dia tidak ingin berhadapan dengan kemarahan orang muda yang sedang kalut sepertiku. Sempat kulihat tatapan kuatir Papa yang memandang Mama yang terbaring lemas. Betul-betul potret seorang suami teladan yang peduli istrinya.

Kertas golongan darah itu kuremas kuat-kuat lalu kumasukkan ke saku celana. Rasanya aneh sekali. Rumah kami di Sewan di bantaran Cisadane itu sempit. Cuma ada dua kamar berdinding papan retak. Suara napas, senggolan bahu, sampai gerutu dan serapah tiap pagi terdengar jelas. Mama selalu ada di sana: menggarami daging babi, menyapu kompor, atau duduk memijit kakinya yang bengkak.

Dia selalu seharian bersama Papa di rumah, ladang, dan kandang babi. Kapan dia punya waktu buat berselingkuh? Dan sama siapa? Pikiranku melantur ke sana-sini. Pemandangan mesra Papa dan Mama di kamar klinik itu mendadak kelihatan aneh. Tahukah Papa bahwa aku anak lelaki lain? Pikirku lagi dan lagi. Baiklah, saat ini biarlah Mama sembuh dulu dan Papa tenang dulu. Nanti suatu hari akan kutanyakan kepada mereka, baik sendiri-sendiri ataupun berdua sekaligus. Kapan dan bagaimana, belum terpikir olehku.

Sebelum Papa keluar dari kamar, aku berdiri dan melangkah pergi. Di luar, panas Pasar Lama Tangerang langsung menyengat kulit. Bau selokan yang tersumbat, minyak gorengan, dan amis daging babi bercampur di udara siang yang pengap.

Orang-orang tua di kampung sering bilang, tahun 2017 ini tahun Ayam Api, tahun ciong[1] buat orang yang lahir di Tahun Kelinci seperti aku. Katanya bakal banyak masalah. Dulu aku cuma menganggap itu ramalan kosong menjelang Tahun Baru Imlek. Tapi siang ini, saat berjalan di atas aspal yang panas, kepalaku terasa berat sekali. Mulai kupikirkan, apakah ramalan itu memang ada benarnya?

Deg. Deg. Deg.

Lihat selengkapnya