CHIT GWEE PUA

Petrus Setiawan
Chapter #2

Bohong dan Bayangan

Aku membuka sepatuku. Ubin pelataran Kelenteng Boen Tek Bio terasa dingin di telapak kakiku. Aku duduk bersandar pada tiang kayu bercat merah kusam, meluruskan kedua kaki yang rasanya lemas seperti dipukuli balok.

Di dalam, aroma hio menyesakkan napas. Asapnya merayap pelan di antara tiang-tiang besar, bercampur bau minyak lilin merah yang terbakar di atas meja-meja altar. Suasana di sini saat bukan hari besar selalu seperti ini: tenang, teduh, membuat orang lupa kalau beberapa meter di luar sana ada keramaian Pasar Lama yang selalu bising dan berdebu.

Beberapa orang tua sibuk menggoyangkan tabung bambu berisi bilah-bilah kayu ramalan—sampai berbunyi klotak-klotak. Suara itu berulang-ulang, terdengar seperti detak jam dinding tua yang tidak teratur.

Aku memejamkan mata rapat-rapat. Kuusap tengkukku yang masih terasa hangat. Bau besi karat dan darah yang tadi sempat mampir di lidahku mulai menghilang, tapi rasa mual di perutku belum sepenuhnya pergi.

Kertas hasil pemeriksaan darah di dalam saku celanaku kukeluarkan dan kubaca lagi. Belum berubah. Golongan darah: B. Bukan halusinasiku. Bagaimana mungkin? Rumus biologi yang diajarkan Pak Suryo mengajarkan: Dua orang tua bergolongan darah O hanya bisa punya anak bergolongan darah O. Tidak ada persilangan gaib yang bisa menghasilkan anak bergolongan darah B. Hanya ada satu kemungkinan: Ada persilangan lain—yang tidak melibatkan Papa.

Bayangan Mama kembali terbayang di benakku. Perempuan setengah baya yang saban hari sibuk dengan bau amis babi, baju kaos oblong lusuh, dan rambut yang dijepit seadanya pakai jepitan plastik murah. Wajahnya yang keriput sebelum waktunya selalu kelihatan lelah.

Mama tidak pernah pakai bedak, apalagi minyak wangi. Mana sempat dia kepikiran soal lelaki lain di antara urusan memotong sayuran pakan babi dan membersihkan tumpukan kotoran di kandang? Kalau pun ada lelaki yang mendekatinya, siapa? Apakah salah satu tetangga kami di Sewan yang rata-rata hidup pas-pasan seperti kami? Mungkinkah salah satu tetangga itu adalah ayahku yang sebenarnya?

"Nyari siapa, Ken?"

Sebuah suara serak mengagetkanku. Aku membuka mata dan mendongak.

Di depanku berdiri Engko[1] Suwanta. Pria tua yang masih suka dipanggil engko berusia tujuh puluhan itu mengenakan kemeja putih tipis bergaris-garis yang kancing atasnya terbuka. Tangan kanannya memegang sapu lidi bergagang panjang yang sudah agak aus, sementara tangan kirinya memegang cangkir seng berisi teh tawar hangat.

Aku tidak tahu berapa lama Engko Suwanta sudah membantu di kelenteng ini. Dia orang tua yang suka tersenyum ramah kalau anak-anak Sewan main ke area kelenteng, meski kadang dia juga yang memperingatkan kalau kami berlarian terlalu dekat dengan altar utama.

"Gak nyari siapa-siapa, Ko," jawabku pendek sambil memperbaiki posisi dudukku. "Cuma numpang duduk."

Engko Suwanta menatapku beberapa detik dari balik kacamata tebalnya. Matanya yang agak sipit dan keruh itu memindai wajahku dari dahi turun ke dagu. Bisa kulihat, bahkan di usia tuanya, otot-otot lengannya yang mencuat dan tato naga yang mengintip dari balik kemejanya. Seorang teman pernah mengatakan bahwa tato itu adalah lambang keanggotaan suatu geng penjahat legendaris Benteng[2] yang sudah lama tercerai berai. Entah di mana dia mendapatkan tato seperti itu.

"Muka lu pucat bener," katanya sambil memindahkan sapunya ke tangan kiri lalu menyeruput tehnya. "Soal cewe? Atau abis dimarahin Tjun Hauw?"

"Bukan, Ko. Sedikit pusing aja," jawabku cepat, mencoba mengalihkan pandangan ke arah patung dewa di altar tengah.

Engko Suwanta tidak langsung pergi. Dia malah menarik sebuah kursi plastik yang ada di dekat tiang dan duduk di sampingku. Gerakannya lambat, diiringi bunyi sendinya yang berderak pelan. Pria tua itu memandangiku dengan tatapan kasihan—tatapan khas seorang tua yang tahu kalau anak muda di depannya sedang memikul beban berat tapi tidak tahu cara mengungkapkannya.

"Udah nemenin Mak lu di klinik?" tanyanya pelan.

Aku menoleh dengan terkejut. "Ko Suwanta tahu dari mana Mama di klinik?"

Lihat selengkapnya