CHIT GWEE PUA

Petrus Setiawan
Chapter #3

Gerbang yang Retak

Langkah kakiku menyusuri jalanan Pasar Lama terasa berat dan limbung. Panas terik sore mulai berangsur surut, digantikan angin lembap yang bertiup dari arah Sungai Cisadane. Bau amis air sungai, bau pakan babi dari kandang-kandang penduduk, dan harum bau gorengan di tepi jalan menyambutku begitu angkot yang kutumpangi memasuki kawasan Sewan.

Semua pemandangan ini adalah rumahku. Kampung tempat aku tumbuh besar, berkeringat, dan bernapas sejak aku bisa mengingat. Tapi sore ini, saat melewati deretan rumah papan berlapis seng dan dinding bata yang mengelupas, tempat ini mendadak terasa asing. Kuusap keningku yang masih berdenyut panas. Di tengah keningku, tanda lahir samar itu terasa berdenyut. Kuingat dulu saat kecil, beberapa anak pernah kupukul saat menjulukiku “Nehi”, kata yang sering terdengar di filem-filem India karena tanda di keningku katanya mirip hiasan dahi para pemeran di filem-filem itu.

Sensasi pusing, bau darah, dan bayangan rawa-rawa di pelataran Kelenteng Boen Tek Bio tadi merayap bangun dalam kepalaku. Rasa panas di kening ini seolah mengupas lapisan ingatan tua yang sudah bertahun-tahun kukubur rapat-rapat. Ingatan saat aku masih anak-anak.

Dulu, saat keluargaku pindah ke rumah sempit di Sewan ini, hal pertama yang kukatakan adalah, "Mama, ada yang tinggal di gudang."

Mama cuma menoleh sekilas. "Mana ada gudang di rumah ini? Rumah kita cuma dua kamar."

"Dulu ada di pojok situ, Mama," jawabku ngotot.

Mama tidak menggubrisku. Mungkin dianggapnya itu cuma racau anak kecil yang capek karena baru pindahan. Aku tidak berbohong. Di pojok rumah yang sudah berganti tembok semen itu, aku berteman dengan sosok gadis bule penghuni gudang tua yang sudah tidak ada lagi. Lebih tepatnya, sudah tidak terlihat oleh orang kebanyakan.

"Aku Anneke," sapanya tiba-tiba suatu sore. Rambut dan matanya kecokelatan. Wajahnya pucat, pakaiannya gaun renda berwarna putih kusam berbercak darah kering. "Aku takut pada orang-orang bermata sipit seperti kalian, seperti orang-orang Jepang yang membunuh kami sekeluarga. Kau juga sipit, tapi tak menakutkan."

"Tenang, Anneke. Kami orang Tionghoa, bukan Jepang," sahutku waktu itu tanpa rasa takut sedikit pun. "Jadilah temanku, tapi jangan mengganggu yang lain. Tidak semua orang menyambutmu seperti aku."

Anneke tersenyum tipis. "Terima kasih. Aku akan diam."

Orang-orang tua Sewan sering berbisik, konon semua anak yang terlahir tepat di Malam Ke-Lima Belas tahun baru—malam bulan purnama penuh perayaan Cap Go Meh—pasti punya "pintu" yang terbuka. Mereka bisa melihat, diganggu, bahkan bercakap-cakap dengan arwah. Sejak kecil, ciri-ciri itu sudah ada padaku. Tetangga dan teman-teman sepermainan memandangku sebagai anak pendiam yang aneh, yang sering ketawa atau bicara sendiri di pinggir selokan.

Namun, aku tidak ketawa atau bicara sendiri. Ada Zhao. Ada Anneke. Ada yang lain.

Zhao—artinya Pagi—adalah temanku yang sering datang menembus jendela tanpa perlu membukanya. Seperti namanya, mukanya bundar dan wajahnya selalu tersenyum hangat seperti matahari pagi. Setiap kali muncul di bawah pohon mangga atau di atas pagar seng, dia selalu menyapaku dengan tawanya yang renyah dan riang.

"Sinar Pagi, Anak Lima Belas!" begitu pekiknya gembira, seolah kehadiranku adalah hal paling penting buatnya hari itu. Hanya dia yang memanggilku seperti itu, seturut hari lahirku, hari ke-lima belas.

"Kenapa namamu Zhao?" tanyaku sewaktu kami duduk berdua.

Lihat selengkapnya