CHIT GWEE PUA

Petrus Setiawan
Chapter #4

Rahasia Lemari Tua

Aku terdiam sejenak di muka pintu. Pintu papan rumah kami berderit pelan waktu akhirnya kudorong. Bau minyak kayu putih dan kuah sup ayam obat menyengat hidungku begitu aku melangkah masuk. Rumah kami kecil dan sempit—hanya ada ruang tamu yang menyatu dengan meja makan kayu tua, dan dua kamar tidur bersebelahan yang dipisahkan dinding tripleks tipis.

Di sudut meja makan, Papa sedang menuangkan air hangat dari termos seng ke dalam gelas beling. Begitu mendengar langkah kakiku, dia menoleh. Wajahnya yang kusam dan dipenuhi kerut di sekitar mata langsung menyunggingkan senyum tipis, seperti biasa dilakukannya.

“Tadi ke mana lu? Ngilang gitu aja dari klinik.” tanya Papa pelan. Aku heran, terbuat dari apa hati lelaki ini. Dia tidak marah dengan kelakuanku yang begitu lalai saat Mama sakit.

“Pusing aja, Pa. Kagak tahan bau obat dan lihat darah,” sahutku berbohong. 

"Mak lu udah mendingan," kata Papa sambil mengangkat nampan berisi mangkuk sup dan gelas hangat. "Udah tambah darah dari Papa. Lu udah makan belum? Itu di tudung saji ada bakut[1] sayur asin sama tahu goreng."

"Nanti aja, Pa. Belum lapar."

Aku mengekor langkah Papa dari belakang menuju kamar depan.

Kamar orang tuaku cuma berisi ranjang kayu berkasur kapuk tebal, sebuah lemari pakaian dua pintu dari kayu jati tua yang politurnya sudah mengelupas di sana-sini, dan sebuah meja kecil tempat menaruh jam waker dan botol-botol minyak angin.

Mama terbaring bersandar pada dua bantal yang ditumpuk. Wajahnya yang sebelumnya pucat kelabu kelihatan sedikit lebih segar, tapi lingkaran hitam di bawah matanya tidak berbohong. Dia memang sedang tidak sehat. Baju daster batiknya yang longgar kelihatan makin kebesaran di tubuhnya yang makin kurus.

"Ken..." panggil Mama liris waktu melihatku berdiri di ambang pintu. Tangannya yang kurus dan berurat menepuk tepi kasur. "Sini."

Aku mendekat, lalu duduk di tepi ranjang.

Papa dengan telaten memangku mangkuk sup, memotong daging ayamnya kecil-kecil dengan sendok, lalu menyuapkannya ke mulut Mama pelan-pelan. Ditiupnya setiap sendok dengan sabar, persis seperti seorang ayah yang sedang menyuapi balitanya yang sedang demam. Melihat pemandangan itu, dadaku semakin sesak.

Lelaki yang sedang memegang sendok ini adalah Lim Tjun Hauw—pria yang saban hari mengaduk pakan, membersihkan kandang, dan memelihara babi-babi untuk dijual pada pemotong di pasar. Tangannya kasar, kapalan, dan selalu berbau babi, tapi tak pernah sekalipun dia membentakku atau Mama. Perempuan di atas kasur ini adalah Tan Mei Kim—perempuan yang rela jari-jarinya lecet karena setiap hari membilas baju-bajuku di bak cuci semen.

Kalau aku bukan darah daging Papa, bisik batinku, kenapa Papa menatapku dengan mata seteduh ini? Apakah Papa tahu, atau Papa sengaja menanggungnya sendirian?

"Muka lu kenapa kuyu gitu, Ken?" Mama mengusap lenganku. Tangannya Mama hangat dan kasar, tangan seorang perempuan pekerja keras. "Lu ketularan pusing juga?"

"Kagak, Ma. Capek aja abis muter-muter." Lidahku terasa begitu kelu saat mengucapkan kebohongan itu.

Lihat selengkapnya