CHIT GWEE PUA

Petrus Setiawan
Chapter #5

Jejak di Pinggir Kali

Pikiran tentang catatan di kertas resep berbau kapur barus itu membuat seluruh isi kepalaku bising sepanjang pagi.

Di kelas, suara Pak Suryo, guru biologi sekaligus wali kelasku, yang sedang menjelaskan materi genetika populasi cuma terdengar seperti dengung lebah di kejauhan. Bintik-bintik spidol di papan tulis dan bagan persilangan genetik di depan kelas seolah mengejekku. Aku duduk di bangku belakang dekat jendela, memandang papan tulis putih itu, tetapi pikiranku entah di mana.

"Ken, lu kenapa? Kemarin kan udah izin kagak masuk seharian gara-gara Mak lu transfusi darah, sekarang malah jadi lu yang pucet begini?" bisik Akhmad, teman sebangkuku saat Pak Suryo keluar kelas.

"Kaga papa, Mad. Cuma pusing aja," jawabku singkat tanpa menoleh.

Dari deretan bangku depan, Meyling menoleh ke belakang bersama Aisyah, siswi berhijab yang dulu kutaksir, yang duduk di sampingnya. Aisyah menatapku dengan raut khawatir yang sama.

Meyling menyodorkan selembar buku catatan ke mejaku, sementara Aisyah meletakkan sebuah kotak bekal plastik kecil berisi roti kukus. "Nih, Ken, catatan pelajaran Biologi sama Kimia kemarin pas kamu izin. Disalin dulu gih," kata Meyling.

"Roti kukusnya dimakan ya, Ken," tambah Aisyah lembut. "Kemarin pas kamu izin jaga Ibu di rumah sakit, aku sama Meyling mau mampir tapi takut mengganggu. Ibumu udah mendingan, kan?"

"Makasih," bisikku pelan. "Ibu udah mendingan."

"Yaelah, Ais! Perhatian amat lu berdua sama akew[1] kandang babi!" suara serak Reno mendadak memotong dari meja sebelah kanan. Reno, si anak pejabat lokal, menyeringai ejek ke arahku. "Udah tahu si Ken kecapean ngurusin babi bapaknya!"

Beberapa anak geng Reno terkekeh. Kulihat mereka saling menyalami, berupaya memamerkan kekompakan mereka. Semua tahu Reno naksir Aisyah sejak dulu, tapi Aisyah yang juara kelas sepertinya menganggapnya gak level, hanya banyak bicara cari perhatian dan bisa naik kelas hanya karena bapaknya orang penting. Dan dia cemburu padaku, “akew kandang babi” yang bisa dekat pada Aisyah.

"Enggak usah bawa-bawa pekerjaan orang tua, Reno! Kurang kerjaan banget!" hardik Aisyah.

"Maksud lu apa ngomong begitu, Ren?" potong Akhmad sambil berdiri tegak di sampingku, matanya menatap Reno tanpa rasa takut."

"Dih, emang bener kan? Bau babinya aja nyampe ke kelas!" cetus Reno nyablak, tetap sengaja memprovokasi.

Akhmad sudah mau melangkah maju menghampiri Reno dengan tangan mengepal, tapi aku cepat-cepat memegang lengannya. "Udah, Mad. Biarin aja. Kagak usah dilayani." Hari itu tenaga dan pikiranku terlalu lelah untuk melayani manusia rasis kurang kerjaan dan tukang cari perhatian seperti Reno. Ada urusan yang jauh lebih besar dan mengerikan yang sedang menyedot seluruh enerjiku.

Aku merogoh tas. "Mad, gua titip tas gua. Gua mau keluar sebentar," bisikku pada Akhmad.

"Cover gua bentar, Mad. Gua ada urusan mendesak," kataku mantap.

Lihat selengkapnya